Elevasi Akademik Mahasiswa Karawitan

Elevasi Akademik Mahasiswa Karawitan

Oleh : Yatimin

Mahasiswa Jurusan Karawitan

          Jurusan karawitan menunjukkan indikasi serius untuk meningkatkan kemampuan akademik para mahasiswanya. Hal itu tampak dari beragam kegiatan yang diselenggarakan dengan mengundang para praktisi serta ilmuan dan bahkan diantaranya berlabel prof. Artinya kegiatan yang diselenggarakan menunjukkan aras tinggi.

Kegiatan pertama, yaitu pengenalan disiplinEtnomusikologi, yaitu sebuah disiplin hasil kombinasi disiplin Antropologi dengan Musikologi. Acara itudiselenggarakan pada 30 Oktober 2015 dengan mengusung tema “Nusantara dalam Asia, sebuah Tinjauan Etnomusikologi”. Sebagai pemaparnya, yaitu Hariyanto Ketua Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Di dalam kegiatan itu, mahasiswa diberikan wawasan tentang perkembangan musik etnik Indonesiabeserta pengaruhnya bagi musik di Asia. Pembahasan lainnya yang turut dipaparkan adalah kontribusi etnomusikologi bagi eksistensi musik etnik. Kontribusi disiplin itu secara nyata ialah melalui kegiatan penelitian, pendokumentasian sampai diseminasi musik itu ke berbagai tempat.

Upaya peningkatan di bidang akademik oleh jurusan Karawitan diperluas dengan menghadirkan ilmuan lainnya, yaitu Profesor Pande Made Sukerta, M.Si, guru besar komposisi musik Institut Seni Indonesia Surakarta pada 23 November 2015. Kegiatan itu mengusung tema “Seputar Penciptaan Musik Nusantara”.

Profesor asal Bali tersebut, diminta untuk mengejawantahkan kiat-kiat menciptakan komposisi musik yang benar bagi mahasiswa Jurusan Karawitan Surakarta. Profesor Pande pun tak sungkan untuk berbagai pengalamannya dalam mengkomposisi sebuah musik. Paparan-paparan yang disampaikan begitu lugas, terstruktur dan konkret. Salah satu tips komposisi musik yang ia bagikan kepada para mahasiswa Karawitan adalah “Jangan pikirkan bentuknya, tapi wujudkan isinya lebih dahulu, nanti bentuk akan terbangun dengan sendirinya” begitu tuturnya.

Mahasiswa cukup antusias mengikuti acara tersebut. Antusiasme itu mereka wujudkan dengan meluncurkan pertanyaan deras kepada si profesor. Ada yang bertanya tentang bagaimana merancang karya musik yang baik?Adapula yang bertanya cara untuk menyeleksi pendukung karya? Dan lain sebagainya. Meskipun banyak yang bertanya, namun sayang tidak satupun mengcopy materi slide presentasi yang ditayangkan profesor untuk dipelajari lebih lanjut.

Kegiatan terakhir adalah workshop Jurnalistik oleh Aris Setiawan, etnomusikolog asal Surabaya pada 28 November 2015. Nama Aris Setiawan banyak dijumpai dalam coretan opini di koran tenama, seperti Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Solo Pos, bahkan koran internasional Jakarta Post. Ia merupakan kolumnis yang menulis tentang musik etnik Indonesia dari beragam perspektif baik politik, sosial, budaya, maupun informasi teknologi.

Pada kegiatan itu Aris Setiawan memaparkan pengalamannya dalam mengisi banyak kolom di media massa. Ia juga berbagi tips menulis supaya disukai oleh redaksi media massa dan muaranya dapat diterbitkan. Tidak hanya itu, Aris Setiawan juga menuturkan bahwa “menulis merupakan suatu profesi yang menghasilkan banyak profit. Menariknya profesi sebagai penulis masih jarang dilirik”.

Kegiatan peningkatan akademik lainnya masih diujikan dan akan digulirkan tahun depan. Tentu aneka kegiatan yang akan diselenggarkan tahun depan sama menariknya dengan kegiatan yang sudah diselenggarakan. Seharusnya aneka kegiatan yang sudah diselenggarakan akan meningkatkan kemampuan mahasiswa Jurusan karawitan dalam bidang wawasan, ilmu artistik, dan teknik penulisan. Atau justru mereka akan mengalami kemunduran karena tak pernah ada upaya mengimplementasikan ilmu yang telah mereka dapat? Siapa yang tahu?