JINGGO ETHNIC JAZZ

Mengusung perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis

 

Bicara soal musik merupakan hal yang sudah mainstream ditelinga kita bahkan telah menjadi bagian dari hidup. Musik berada dimana saja dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Berbagai jenis musik berkembang pesat di dunia. Setiap Negara maupun daerah memiliki jenis musik yang berbeda-beda, seakan begitu erat dengan kebudayaannya. Jenis musik sangat begitu banyak untuk diperbincangkan dengan berbagai warna, musik popular diantaranya sering kita dengar musik bergenre pop, rock, jazz, blues, hardcore, funk dan sebagainya. Semua jenis musik tersebut tentu memiliki penikmat masing-masing. Musik popular masih jadi bagian yang paling disegani dilingkungan masyarakat masa kini dengan semakin berkembangnya zaman dan banyaknya wadah untuk musik genre ini. Sedangkan musik yang begitu kental dengan budaya di daerahnya merupakan musik tradisional. Setiap orang tentunya memiliki selera masing-masing dalam soal musik. Hanya saja realitasnya penikmat musik tradisi dewasa ini hanya dari lapisan masyarakat tertentu saja. Kalau melihat latar belakang musik tradisi sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat daerah, khususnya di Indonesia yang kaya akan budaya dan berbagai suku bangsanya. Hal ini tidak bisa disalahkan, karena musik sudah mewakili jati diri tiap individu. Dengan realita seperti ini, tentunya sebagai musisi yang produktif dan penikmat musik terus melahirkan ide-idedan gagasan baru. Hal ini tidak menyurutkan para seniman muda untuk berkreatif. Sesuatu yang baru dan segar selalu dihasilkan sebagai jalan keluar. Sedikit awam memang ketika masyarakat mendengar musik dengan bergenre Jazz Ethnik, jenis musik Jazz Ethnic ini lahir dari selera masyarakat terhadap musik tradisi yang sudah mulai meninggalkan dan terkikis untuk dipertahankan. Genre ini mengusung perpaduan antara musik jazz dan musik traditional. Dengan menggunakan permainan gitar, bass, keyboard dan drum diselingi dengan lantunan menarik dari alat musik gamelan merupakan hal yang segar. Perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis ini bisa dijadikan sebagai jalan keluar agar musik tradisi bisa lebih diterima dan tetap eksis di lapisan masyarakat.

Di STKW Surabaya sendiri, jenis musik ini mulai dimainkan sekitar tahun 1990 an hingga sekarang oleh mahasiswa jurusan seni musik (pada waktu itu) yang berkolaborasi dengan jurusan Seni Karawitan dan hingga sekarang para mahasiswa jurusan Seni Karawitan tetap mempertahankan perpaduan musik tersebut . Hal ini mendapat sambutan yang baik di setiap kali penampilan. Jazz Ethnik terus bertahan dan berkembang, di lihat dari adanya beberapa festival-festival musik yang diadakan serta mengusung genre ini, salah satunya yaitu Yamaha Mio Matic Fest yang merangkul sebagian besar musisi Jawa Timur dari jenis musik bergenre Jazz, Etnik, Pop maupun Rock. Merupakan suatu kebanggaan pula bahwa grup Jazz Etnik dari STKW Surabaya yang bernamakan JINGGO ETHNIC JAZZ meraih posisi sebagai Runner Up dari event Yamaha Mio Matic Fest. Selain itu pada event-event lain, grup yang memadukan suara dari gamelan Banyuwangi dan musik Jazz ini terus eksis dan berkembang. dengan mengusung Perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis ini jenis musik akan semakin segar dengan harapan dapat diterima di tengah masyarakat masa kini, karena semakin minimnya kesadaran masyarakat akan melestarikan musik tradisi. (Bintari)