PERTUNJUKAN TARI GAMBUH TAMENG

ABSTRAK

Tari Gambuh Tameng merupakan tari pembuka pertunjukan Topeng Dalang yang berkembang di wilayah Slopeng, Kabupaten Sumenep-Madura, penari tari Gambuh ditarikan dua orang laki-laki berpasangan mengenakan busana keprajuritan memgang properti sebilah keris ditangan kanan, tangan kiri memegang tameng. Gerak tari bersumber gerak silat dan struktur penyajian tari terdiri dari:
1) Bagian awal menggambarkan persiapan prajurit maju perang, gending Ayak slendro 5 irama 2
2) Bagian tengah menggambarkan ketrampilan prajurit menggunakan keris dan tameng, gending yang Gunung Sari slendro irama 1.
3) Bagian akhir menggambarkan prajurit mengahkiri latihan, gending Ayak slendro 5 irama 2.
Penyajian tari Gambuh Tameng tidak terikat dengan arena pentas, pertunjukan bisa dilakukan di pendopo, halaman rumah, dan panggung proscenium. Estetika tari Gambuh Tameng gaya Slopeng memiliki spesifik gerak terdapat pada bentuk adeg/tanjak, nonggul (angkatan kaki), gobesan (cek gulu), jinjitan, gejugan. Pola-pola gerak terbentuk motif gagah halus.

Kata kunci : pertunjukan tari Gambuh Tameng

PENDAHULUAN
Kabupaten Sumenep banyak menyimpan pesona kekayaan budaya yang unik dan mempunyai corak bermacam-macam bentuknya salah satu upacara adati yakni, tradisi bersih Desa (rokat dhisa), sedekah laut (rokat tase’), rokat buju’ (sedekah bumi dimakam keramat orang Bali bernama Ki Anggo Suto penemu ladang garam di daerah Kali Anget-Sumenep), rokat ujan (upacara permohonan hujan dengan atraksi adu permainan cambuk dari batang lidi pohon pandan alas yang berduri dan dicambukan kebagian badan pesertanya). Bentuk pertunjukan seni tersebut bernafaskan mistis-sinkritis dan merupakan sisa-sisa pertunjukan lama yang tergolong kepercayaan lama dan bersifat phanteisme yang melekat dengan kepercayaan Islam yang monotheis. Walaupun sebagian besar masyarakat Madura beragama Islam, tetapi upacara-upacara yang berbau mistis-sinkretis merupakan warisan tradisi dan masyarakat melestarikannya.

“Dalam keyakinan Islam, orang yang sudah meninggal duniah rohnya tetap hidup dan tinggal sementaradi alam kubur atau alam barzah, sebagai alam antara sebelum memasuki alam akhirat tanpa kecuali. Sementara pemahaman kemudian orang Jawa, arwah-arwah Orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkeliaran sekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam (pesareyan). Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu dating mengujungi kekediaman anak keturunanya. Roh-roh yang baik yang bukan nenek moyang atau kerabat disebut Dhanyang dan mengawasi seluruh masyarakat desa” (Umar Junus: 1981 : 24).
Di Samping kesenian juga dalam ritus- ritus yang berkembang di masyarakat yang masih menganggap bahwa alam, lingkungan dan isinya ada yang menjaga dan melindunginya, yakni kekuatan adi kodrati. Agar terhindar kekuatan unsur-unsur negatif, jahat, ketakutan, malapetaka, dan bencana. Masyarakat perlu mengadakan upacara ruwatan, sedekah bumi, bersih desa dan lain sebagainya. Dengan menyelenggarakan upacara ruwatan sebagai sarana penolak balak maka masyarakat menanggap Topeng Dalang sebagai saran hiburan agar terbebas dari kekuatan negatif yang melingkupinya.
Di samping pertunjukan Topeng Dalang kesenian tradisional berupa Ludruk, Sandhur, Tayub, dan pertunjukan tari Gambuh merupakan pertunjukan yang sangat dinantikan oleh masyarakat dan merupakan sarana kesenian hiburan pelepas lelah.

II. Asal-usul tari Gambuh dan perkembangannya

Keberadaan asal usul tari Gambuh di Sumenep ditengarai ada pada abad ke XV-XVI tari Gambuh ditarikan oleh puri-putri keraton Sumenep untuk menyambut para tamu kerajaan, properti yang digunakan dua buah keris, satu keris di tangan kanan dan satunya lagi di letakkan pada gelung rambut dalam bentuk taji kecil, sedangkan tangan kiri memegang perisai sebagai penolak senjata, (Prawiradiningrat, 1986:62). Perkembangan selanjutnya pada abad ke XVIII tari Gambuh dipertunjukan kepada pembesar karaton Sumenep dan berfungsi sebagai pembuka acara “Bhedhalan” yakni: pertemuan agung yang dihadiri pembesar kerajaan tari Gambuh ditarikan oleh sepasang penari laki menggunakan properti keris dan tameng. Selain itu ditampilkan pula kesenian Tayub dan pertunjukan Topeng Dalang. (Soelarto : 7).
Tari Gambuh Tameng merupakan tari tradisi yang berkembang di Sumenep kini keberadaannya masih dapat dijumpai di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. Tari Gambuh Tameng di dalam pertunjukan Topeng Dalang Rukun Perawas merupakan tari pembuka (tarian ekstra). Penari tari Gambuh memakai busana celana sebatas lutut berwarna merah atau hitam, tidak menggenakan baju, memakai kain rapek berwarna-warni, setagen, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan dhestar/odeng. Ditarikan oleh dua penari laki-laki berpasangan tangan kanan membawa senjata sebuah keris dan tangan kiri memegang tameng di tengahnya terdapat kaca cermin berdiameter sekitar 20 cm kegunaaan dalam tari untuk menangkis senjata, pola-pola gerak yang ditampilkan dalam koreografi tari bersumber pada gerak silat Madura.
Tari Gambuh Rangsang di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, di era tahun 1970 digunakan untuk pembuka pertunjukan Topeng Dalang tari Gambuh Rangsang ditarikan sepasang penari laki-laki mengambarkan ungkapan prajurit yang sedang berhias maju perang. Karena pertunjukan Topeng Dalang tersebut kini punah kesenian tari Gambuh Rangsang pelestariannya dilanjutkan Asnawiyanto dan Mao anak alamarhum Juni empu tari Gambuh rangsang.
Tahun 1990, muncul jenis tari Gambuh Keris hasil kreativitas Jamal Pranotokusumo mantan kasi kebudayaan Kabupaten Pamekasan, kepopuleran tari Gambuh Keris mendapat apresiasi masyarakat, seniman, maupun penjabat pemerintah. Ceremonial-ceremonial yang diselenggarakan oleh pemerintah seperti pariwisata, kunjungan tamu dinas, dan perhelatan-perhelatan yang digelar oleh masyarakat, selalu menampilkan pertunjukan tari Gambuh sebagai tari pembuka.
Kemudian tahun 2000 muncul pertunjukan tari Gambuh yang dianggap paling akhir adalah tari Gambuh Pamungkas ciptaan Akhmad Darus. Kemunculan tari Gambuh Pamungkas membawa suasana semarak kekaryaan tari Gambuh terutama perubahan dalam bentuk koreografi, musik tari, pola lantai, tata rias, tata busana, dan tata pentas panggung.
Pertunjukan tari Gambuh Pamungkas penyajiannya ditarikan oleh empat penari laki-laki berpasangan atau lebih memakai busana dan tata rias keparjuritan, sumber-sumber gerak koreografi tari Gambuh Pamungkas bersumber gerak tari Gambuh Tameng dan tari Topeng.
Terkait dengan arti Gambuh beberapa sumber menerangkan Gambuh berasal dari kata kambuh yang memiliki arti membangkitkan semangat kembali (Poerwadarminta: 93: 2005). Sedangkan menurut Akhmad Darus kata Gambuh berasal dari tembang mamaca yang memiliki arti mengatasi sesuatu dengan semangat. Dan bila dikaitkan dengan pertunjukan tari Gambuh tari yang menggambarkan semangat prajurit sigap berlatih ketrampilan perang.

III. Struktur pertunjukan tari Gambuh Tameng

Pertunjukan tari Gambuh Tameng memiliki struktur koreografi terdiri bagian awal, tengah dan akhir.
1. Bagian awal mengungkapkan prajurit persiapan maju perang didahului dengan permohonan kepada Tuhan agar selama latihan diberikan ketabahan
2. Bagian tengah mengungkapkan prajurit melakukan latihan perang menggunakan tameng dan keris
3. Bagian akhir mengungkapkan prajurit menang perang.
Gending pengiring tari Gambuh Tameng yang digunakan adalah karawitan berlaras slendro terdiri tiga komposisi gending antara lain:
1. Gending awal digunakan gending Ayak Sl. 5 irama 2.
2. Gending bagian tengah gending Gunung Sari Sl. 2, irama 1
3. Gending bagian akhir gending Ayak 5 Sl, irama 2

Untuk mengidentifikasi koreografi tari Gambuh dipahami sebagai tarian perang atau keprajuritan Edy Sedyawati di dalam bukunya Pertumbuhan Seni Pertunjukan mengkategorikan tarian wireng/keprajuritan sebagai berikut:

1. Mengenakan rias dan properti yang sama
2. Menggunakan pola gerak yang sama
3. Bertemakan perang atau latihan perang berjumlah genap
4. Mempunyai tiga bagian tari yaitu tarian maju, tarian inti yang selalu mengandung perangan dan tarian mundur.
Masing-masing pergantian bagian tersebut ditandai oleh pergantian komposisi karawitan pengiring, perangan dalam tarian ini selalu berupa tarian gending yaitu perangan yang diiringi gending yang tetap dalam dalam iringan normal artinya tidak dipercepat atau tidak pula menggunakan jenis komposisi karawitan yang memungkinkan loncatan-loncatan frashe (prashe) (Edy Sedyawati :1981 : 23).
Sejalan dengan pemikiran di atas Wahyu Santoso Prabowo menuliskan dalam jurnal ilmiah Dewa Ruci Pengkajian dan Penciptaan Seni, Vol I, No. 1, STSI Surakarta menyebutkan, tari Wireng itu tari yang menggambarkan yang sedang berperang atau olah keprajuritan. Nama wireng juga berasal dari kata Wira dan Aeng. Wira berarti prajurit. Sedangkan Aeng berarti angker. Dhung-Dheng / Sekti ” (2003: 93). Dari pernyataan di atas tari Gambuh Tameng dapat dikategorikan sebagai tari keprajuritan, pola-pola koreografi yang tersusun dalam tari Gambuh Tameng ini adalah gerak presentatif yang bersumber dari gerak silat yang sudah digarap. Karakter isi tari yang di ungkapkan di dalam bentuk komposisi koroografi adalah pengungkapan jiwa yang terkandung dalam wujud fisik, yang tidak terpisahkan di dalam koroeografi. Kesesuaian antara bentuk dan isi, keduanya melebur menjadi pokok dalam satu kesatuan yang disebut rasa. Adapun rasa yang ada pada tari Gambuh Tameng mengungkapan suasana prajurit berwatak gagah halus. Karakter tari dapat diamati melalui ruang, volume, dinamika yang dibentuk oleh penari dalam susunan koreografi tari Gambuh meliputi:
1. Bentuk ragam gerak
2. Musik / Gending pengiring
3. Struktur penyajian
4. Repetisi
5. Pola lantai
6. Rias busana
Struktur koreografi tari Gambuh Tameng yang berkembang di wilayah Slopeng memiliki bentuk dan gaya yang diciptakan oleh generasi terdahulu yakni: Supakrah almarhum seniman tari Gambuh dan Topeng Dalang telah mendapat pengkuan dari masyarakatnya, sehingga bentuk dan gaya tari Gambuh Tameng yang dilestarikan perkumpulan Topeng Dalang Rukun Perawas yang memiliki ciri-ciri meliputi :
1. Bentuk tanjak
2. Bentuk angkatan kaki / junjungan
3. Bentuk gerakan ukelan
4 Bentuk phentangan
5. Bentuk tumpuan
6. Bentuk jinjitan
7. Bentuk gejugan
8. Bentuk ayunan

IV. Susunan koreografi tari Gambuh Tameng gaya Slopeng

Komposisi pertunjukan tari Gambuh Tameng dalam struktur koroeografi mempunyai suasana tari terdiri dari 1) bagian awal tari Gambuh Tameng mengungkapkan gambaran prajurit sedang mempersiapkan latihan perang terlebih dulu memohon kepada Tuhan agar selama latihan diberikan ketabahan, ragam gerak adeg, apangala alangka mapan tanjak ,adekong nyembah ngalak tameng, akaca cek gulu, nonggul, tanjak tameng, cek gulu, langkah telo’, nimang tameng, pedel nyerek poter biluk kanan, alangkah mapan tanjak. Suasana karakter tari gagah halus menggunakan gending Ayak Slendro 5 irama 2 motif gerak mengarah lamban yaitu gerak mengalir secara kontinuitas dengan penggunaan tenaga sedang membentuk ruang kecil. Untuk menghubungkan struktur tari bagian awal ke bagian tengah dan pergantian ragam serta gending pengiring digunakan gending Ayak dan Gunung Sari.
2) Bagian tengah tari Gambuh Tameng mengungkapkan gambaran suasana prajurit olah ketrampilan berlatih perang dengan menggunakan senjata keris dan tameng, ragam gerak meliputi alangka mapan tanjak, adekong sembahan, ngalak tameng ke tangan kacer-tangan kanan ngalak keris-malot keris, cek gulu, nonggul, tanjak tameng- keris, pedel nyerek poter dep- adepan, tanjak keris, alangkah nyoco-atangke-tanjak keris, nyalep nyoco saling tata keris, ajunjeng adu keris, dan arengkes keriske tanang kacer, menggunakan Gending Gunung Sari Slendro irama 1 dan 2 motif gerak gagah tegas yaitu gerak mengarah pada gerakan kuat, tegas, tempo lambat membentuk ruang kecil.
3) bagian akhir mengungkapkan suasana prajurit memenangkan perang, ragam gerak adekong sembahan tangan kanan nyarong keris-tangan kiri-ngalak tameng,-cek gulu, dan gerak ajalan masuk. Karakter tari gagah alus menggunakan gending Ayak Slendro 5 irama 2 motif gerak gagah halus gerak mengarah pada tempo lamban membentuk ruang kecil.

KESIMPULAN

Kesimpulan :

Pertunjukan tari Gambuh Tameng gaya Slopeng memilikii koreografi gerak pokok bersumber dari gerak silat Madura yang sudah distilisasi, ciri gerak tari gambuh tameng gaya Sopeng cenderung selalu menggunakan ruang kecil. Hal ini terdapat pada bentuk adeg, godegan, phentangan, tumpuan kaki, jinjitan, gejugan, ayunan, dan junjungan kaki. karena akhir dari lintasan gerak mengarah kedalam. Misalnya pada bentuk apangala, alangkah mapan tanjak, nonggul, tanjak tameng, nemang, malot keris maupun tanjak keris menggunakan tenaga lembut mengalir halus tanpa tekanan dan mengunakan tempo lamban.
Struktur koreografi tari Gambuh Tameng memiliki tiga bagian suasana tari diantaranya: 1) bagian awal menggambarkan persiapan perang terlebih dulu memohon pertolongan Tuhan agar selama latihan diberikan kekutan dan keteguhan, 2) bagian tengah menggambarkan ketrampilan prajurit berolah senjata keris dan tameng 3) bagian akhir menggambarkan prajurit mengakhiri lathan.
Tari Gambuh Tameng sebagai tari pembuka pertunjukan Topeng Dalang merupakan tarian lepas, arena pentas yang sering dipakai tidak ada ketetentuan pertunjukan bisa dilakukan di halaman, pendopo, atau yang sering dilakukan panggung procenium dan masyarakat lebih akrab menyebutnya tonil.
Struktur komposisi gending yang digunakan untuk mengiringi tari Gambuh bagian awal gending Ayak Slendro 5 irama 2, bagian tengah gending Gunung sari Slendro 5 irama 1, dan bagian akhir gending Ayak Slendro 5 irama 1

DAFTAR PUSTAKA

Bouvier Helena, Lebur Seni Musik dan pertunjukan dalam Masyarakat Madura, Penerjemah Rahayu S. Hidayat Jean Couteau, Forum Jakarta-paris, Ecole francaise d’ Extreme-Orient. Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan, Obor Jakarta, 2002.

Dahliatiningsih, ”Tari Gambuh Keris Sebagai Tari Tradisi” Laporan Penelitian:
Skripsi. STKW Surabaya, 1980.

Ellfeldt Lois. Pedoman Dasar Penata Tari, Terjemahan Sal Murgiyanto MA,
Diktat Kuliah, Lembaga Kesenian Jakarta, 1979.

____________ Esiklopedi Musik Dan Seni Tari Daerah, Laporan Penelitian Dan
Pencatatan Daerah Jawa Timur, Tahun, 1986.

Humardani SD. Kreatifitas Tari Dalam Kesenian, Pusat Pengembangan
Kebudayaan Jawa Tengah, Surakarta, 1979.

Yunus, Umar. Mitos Dan Komunikasi, Jakarta, 1981.

Murgiyanto, Sal, Koreografi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta,
1986.

Made, Bandem, I. Evolusi Tari Bali, Kanisius Joyakarta, 1996.

Prawirodiningrat Samsul, Sepintas Kilat Adat Budaya Sumenep. Sebagai
Pembangunan Nyata, 1986.

Santoso, Wahyu Prabowo, ”Dewa Ruci Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Seni”,
Vol I, No. 1, STSI Surakarta, 2002.

Sedyawati Edi, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Sinar Harapan Seri Esni No 4,
Jakarta, Cetakan Pertama, 1981.

Soelarto, B. Topeng Madura (Topong), Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan P Dan K Republik Indonesia – Jakarta.

Soedarsono, RM. Elemen Dasar Komposisi Tari, Isi Jogyakarta, Lagaligo, 1986.

Tasman, S.Kar, ”Peranan Seni Tradisi Dalam Pembangunan Bangsa”, Akademi
Seni Karawitan Indonesia Surakarta, Surakarta 1986