TARI GAMBUH PAMUNGKAS SEBAGAI IDENTITAS TARI KEPRAJURITAN

TARI GAMBUH PAMUNGKAS SEBAGAI

IDENTITAS TARI KEPRAJURITAN

Oleh: Peni Prihantini, S.Sn.

 

 

 

I. Pendahuluan

Bagi beberapa kalangan, tari Gambuh dipandang sebagai salah satu kesenian sangat popular di Kabupaten Sumenep-Madura tepatnya sejak tahun 1980-an Pandangan itu tidak berarti merendahkan proses kreatif yang terdapat dalam jenis kesenian Madura lainnya, akan tetapi lebih didasari atas fakta-fakta yang menunjukkan bahwa tari tersebut dilihat dari sudut pandang pengakuan masyarakat dan popularitasnya, serta pengaruhnya terhadap perkembangan seni pertunjukan tradisional, lebih dominan dari pada kesenian lainnya.

Munculnya genre tari Gambuh Pamungkas pada pertunjukan Topeng Dalang di Slopeng sekitar tahun 2000 oleh Achmad Darus sebagai wujud kepedulian untuk membuat pola baru dengan penggabungan materi gerak, gending bersumber tari Gambuh Tameng dan Topeng, dan juga, tata rias dan busana. .

Upaya penataan tampaknya mendapat respon positip dari kalangan komunitas topeng Dalang Slopeng sebagai pewaris tari Gambuh. Sehingga kepopuleran tari Gambuh Pamungkas kini aktivitasnya tidak lagi menjadi pembuka pertunjukan topeng. Kini pertunjukan tari Gambuh Pamungkas mulai menjadi kepentingan ceremonial hiburan. Pengertian Gambuh menurut Darus berdasarkan dalam syair tembang mamaca, Gambuh artinya mengatasi sesuatu dan Pamungkas pongkasan (Madura) atau terakhir. Jadi tari Gambuh Pamungkas adalah gambaran tari prajurit yang melakukan latihan perang-perangan bersenjatakan keris dilakukan untuk mengatasi suatu bahaya sampai titik darah terakhir.

II.  Koreografi Tari Gambuh Tameng Sebagai Identitas Tari Keprajuritan

Asal-usul pertunjukan tari Gambuh pada abad XV merupakan tarian hiburan untuk penyambutan tamu-tamu keratin, ditarikan oleh putri-putri keraton bersenjatakan dua bilah keris. Satu ditangan kanan, satunya terletak dikonde rambut berbentuk taji kecil, tangan kiri memegang perisai bundar sebagai penolak senjata.

Selanjutnya pada Abad XVIII tari Gambuh ditarikan dua penari laki-laki berpasangan, memakai celana panji-panji berwarna hitam atau merah, mengenakan kain rapek berwarna-warni, setagen, ikat pinggang, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dhestar, masing-masing menggunakan properti berupa keris dan tameng, fungsi tari sebagai sarana untuk membuka acara Bhedhalan di keraton, yakni pertemuan agung yang dihadiri para pembesar keraton bersenjatakan keris dan tameng bulat ditengahnya terdapat cermin kecil .

Fungsi tari Gambuh yang lain berkaitan dengan kepentingan sosial adalah sebagai pembuka dalam tradisi arak-arakan penganten. Jenis Tari Gambuh sebagaimana fungsinya disebut tari Gambuh pengiring manten, sebuah prosesi arak-arakan rombongan penganten laki-laki menuju ke rumah atau tempat akad nikah. Dalam hal ini tari Gambuh diartikan sebagai pembuka jalan bagi penganten laki-laki. Penari Gambuh akan menari setelah rombongan arak-arakan penganten laki-laki sampai di rumah mempelai wanita.

Dua sampai empat orang laki-laki penari Gambuh turut serta dalam iring-iringan ini. Mereka berjalan di belakang kelompok Haddrah. Mereka akan menari ketika sudah tiba di kediaman pengantin wanita. Para penari Gambuh memakai celana panji-panji berwarna hitam atau merah, mengenakan kain rapek berwarna-warni, setagen, ikat pinggang, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dhestar, masing-masing menggunakan properti berupa keris dan tameng, (Kusmayati, Hermin:2000:48-49).

Koreografi yang melekat pada seni Tari Gambuh Pamungkas adalah merupakan sebuah identitas jatidiri merupakan sebuah mata rantai yang menghubungkan nilai-nilai sosial budaya masa lampau dengan masa sekarang

Yudith Startkey, dalam bukunya Cultural Identity (2005) mengatakan : “Common characteristics and ideas may be clear markes of a shared cultural identity, but essentally it is determined by differeence; we feel we belong to a group, by notching and highliting differences with other groups and cultures.”

“Karakteristik umum dan gagasan-gagasan dapat menjadi penanda yang jelas bagi identitas kebudayaan, tetapi secara esensial ditentukan oleh perbedaan; kita merasakan menjadi milik kelompok, dan kelompok dan kelompok mendefinisikan dirinya sebagai sebuah perbedaan penting dengan kelompok dan kebudayaan lain.”

 

Sebagaimana telah disebutkan karakteristik merupakan ujud sebuah jatidiri dan menjadi penanda yang jelas bagi identitas kebudayaan. Pertunjukan Tari Gambuh sebagai wujud ekspresi kebudayaan yang masih terjaga memiliki ciri-ciri yang dapat diidentifikasi melalui koreografi, struktur gending, tata rias dan busana. Dan ciri-ciri style atau gaya yang membentuk karakter wilayah budaya dimana tari itu dilahirkan.

Untuk mengetahui dan menganalisa aspek-aspek khusus koreografi Tari Gambuh Pamungkas diperlukan pendekatan teori Dance Composision a pracitical guide for teacher, second edition oleh Jacqueline M, Smith-Autard. Teori tersebut menyangkut masalah-masalah isi, bentuk, tehnik, repitisi, pola lantai yang didalamnya jelas menggambarkan aspek-aspek khusus dari koreografi. Teori ini menganalisis bentuk koreografi  dan mengungkap penyajian  Tari Gambuh Pamungkas dari berbagai hal, antara lain meliputi :

1.  Bentuk ragam gerak     4. Pola lantai7.  Rias busana

2.  Gending pengiring         5.  Repetisi

3.  Struktur penyajian

Ditegaskan bahwa koreografi merupakan proses kreatrif yang bergulat dengan isi, bentuk, tehnik dan proyeksi. Ungkapan senada dikemukakan oleh La Mery yang disadur oleh Soedarsono (Elemen-elemen Dasar Komposisi Tari) yang mengutarakan bahwa koreografi identik dengan komposisi atau garapan tari yang di rangkaikan secara harmonis dengan tema, gerak tematik, musik, rencana dramatik dan evolusi.

Tari Gambuh Pamungkas memiliki susunan gerak, mempunyai unsur waktu, dan tenaga. Waktu merupakan tempo (dinamik). Ruang terdiri dari ruang exsternal (ruang di luar tubuh penari),  ruang internal  (ruang tubuh penari), dan ruang menari (level). Untuk mengindetifikasi gaya. Gaya adalah kekhasan atau kekhususan yang ditandai oleh ciri fisik, estetik (musical/dan/atau system bekerja (garap) yang dimiliki oleh atau yang berlaku pada  (atau atas dasar inisiatif dan atau kreatifitas) perorangan (pengrawit) kelompok (masyarakat seni) atau kawasan (budaya) tertentu yang diakui eksistensinya oleh dan / atau berpotensi untuk mempengaruhi individu, kelompok (masyarakat) atau kawasan (budaya, musik, kesenian) lainya, baik itu terberlakukan dengan sengaja atau tidak, maupun yang terjadi, atas hasil dari berbagai cara dan/atau bantuan dari berbagai sarana dan/atau media.

Struktur estetik tari Gambuh Pamungkas Komposisi terbentuk dalam enam suasana tari yang menggambarkan prajurit keraton berlatih perang-perangan. Pertama penggambaran prajurit dalam persiapan perang, kedua permohonan kepada yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan dan ketabahan dalam latihan, ketiga latihan ketrampilan berolah keris, keempat, senda gurau prajurit melepas lelah, kelima ketrampilan silat tanpa senjata, keenam menggambarkan prajurit mengakhiri latihan perang, Sedang gaya yang dimaksud adalah pengenalan ciri-ciri individu seniman yang melekat pada bentuk tari yang diwarisi oleh generasi terdahulu. Dan mendapat pengkuan masyarakatnya.

Koreografi pada bagian awal merupakan momen tari masuk ke arena pentas, tujuan penciptaan untuk menampilkan suasana tari yang menyampaikan gambaran ungkapan kegagahan kesiapan prajurit maju perang. Sumber gerak berasal tari topeng di antaranya: gerak mesat keloar, sereg pandheg diakhiri gerak tojeg. Gerak-gerak tersebut memiliki ungkapan karakter gagah tegas, motif gerak tari cenderung mengarah gerakan kuat, tegas, tempo cepat, dan membentuk volume besar.

Koreografi sembahan, tujuan penciptaan menyampaikan gambaran suasana permohonan prajurit kepada Tuhan agar selama dalam berperang diberikan keteguhan. Gerak tari bersumber tari Gambuh Tameng di antaranya: gerak atengkong sembahan, apangala, ate΄ngka, langka telo’, nimang, nonggul, alenge. Karakter gagah Alus, motif gerak mengarah pada ritmis, tempo lambat membentuk volume kecil.

Koreografi perangan, tujuan penciptaan menyampaikan gambaran ungkapan suasana perangan prajurit menggunakan senjata keris. Gerak bersumber tari Gambuh Tameng. Gerak apangala, ate΄kong sembahan, nonggul, langka telo’, nimang, ngalak keris, nyale΄p coco keris, dan naraje΄ng adu keris. Karekter gagah trengginas cenderung ritmis tempo lambat membentuk volume kecil.

Koreografi Ke’jungan (sindenan) tujuan penciptaan menyampaikan gambaran ungkapan kegembiraan prajurit melepas lelah sesudah berperang. Koroeografi bersumber pada tari topeng gerakan mesat (buru), gerak memasukan keris, ombak banyu, sompengan, menjangan atarum, arambai, abincang, se′re′g pandheg, ngoyar, nonggul, abincang, agegerja, dan gerak ale′ngge′. Gerak cenderung ritmis membentuk volume kecil ungkapan karakter gagah branyak, gagah gecul (lucu).

Koreografi adu tangan kosong, tujuan penciptaan menyampaikan gambaran ungkapan kesigapan prajurit bela diri tangan kosong koreografi bersumber pada gerak topeng seperti: gerak mesat dan gerak gaprukan, motif gerak mengarah tegas karakter gagah tanggon, tempo cepat.

Koreografi bagian penutup, tujuan menyampaikan gambaran prajurit mengakhiri perang, motif gerak tegas membentuk volume lebar ungkapan karakter gagah tegas, mesat tempo cepat bersumber tari topeng.

 

 

b.    Karawitan

Susunan gending tari Gambuh Pamungkas meliputi bagian awal gending Ayak, gending Gunungsari, bagian tengah gending Miskalan, bagian penutup Gunjing Miring dan gending Barat Kete΄ga.

Pada bagian Awal kenong dipukul dengan pola teknik pukulan kempyung dilanjutkan gending Gemblak Slendro irama cepat (irama I) dengan pola teknik pukulan ngesee’. Penggarapan gending pada bagian awal untuk menggambarkan ungkapan prajurit mempersiapakan diri maju perang merupakan momen awal penari masuk pentas.

Bagian sembahan prajurit, gending bersumber tari Gambuh Tameng diantaranya: Ayak Pandha’ irama lambat (irama 2). Penataan mempunyai tujuan mengambarkan ungkapan suasana permohonan prajurit kepada Tuhan agar selama menjalankan tugas perang diberikan ketabahan dan keselamatan.

Bagian perangan, gending Gunung Sari dengan pola permainan tempo irama lambat ke irama cepat menggunakan pola pukulan teknik engkal (khintilan), dilakukan berulang-ulang dari irama lambat ke cepat. Penggarapan pola teknik tersebut, dimaksudkan untuk mengungkapkan karakter gagah branyak (mengarah pada gerak-gerak lincah) dan mempunyai ungkapan gambaran suasana perangan prajurit menggunakan senjata keris. Pengulangan-pengulangan tempo irama lambat (irama 1) menjadi irama cepat (irama 2), bertujuan mempertebal suasana ungkapan prajurit perang. Di sisi lainya tujuan pengulangan gending mengingatkan bahwa dalam konsep tari tradisi ada kecenderungan untuk menebalkan konsep kerakyatan.

Bagian Kejungan (sindenan) gending Miskalan iringan lambat (irama 1) ke irama rangkep (Irama 2) mempunyai tujuan menggambarkan ungkapan suasana senda gurau kegembiraan prajurit melepas lelah sesudah latihan perang.

Bagian adu tangan kosong, menggambarkan ungkapan suasana kesigapan prajurit bela diri tangan kosong. Untuk membuat suasana tari terkesan riang digunakan gending Gonjing Miring, dan Barat Kate’ga irama cepat (irama1) pola teknik pukulan ngese’e.

 

 

C. Tata Rias

Pemakian rias tari Gambuh Pamungkas sesuai dengan tema tari Gambuh sebagai ungkapan karakter pemeranan prajurit desain dasar tata riasnya adalah laki-laki. Karakter ini diperlihatkan dengan goresan alis tebal meruncing dan agak meninggi di ujungnya.

Sementara untuk menambah kesan gagah diperkuat dengan garis kumis kecil namun dilukis tebal disertai dengan lukisan tipis garis pada janggut, dilengkapi dengan lukisan gode’g.

Saputan-saputan rouge maupun eye shadow tidak begitu tebal namun desain tata rias wajah para penari tidak dapat meninggalkan karakter keprajuritan.

 

 

Gambar. Rias tari Gambuh Pamungkas (Foto Suripno: 2010)

 

d. Tata Busana

Tata busana tari Gambuh Pamungkas masih mengacu pada busana topeng dan tari Gambuh Tameng. Pewarnaan busana tari didominasi warna merah, kuning, putih dan hitam. Warna-warna merah merupakan warna dominan yang mencerminkan suatu karakter masyarakat Madura yang diartikan berani nekat pantang menyerah dalam menuju suatu tujuan yang bersifat positif, sedangkan warna hitam melambangkan ketenangan dan keteguhan. Warna-warna primer yang tidak dapat ditinggalkan adalah warna yang ada kaitannya dengan hawa nafsu pada diri manusia yaitu merah sebagai simbol nafsu amarah, dalam ungkapan angkara murka, putih simbol nafsu mutmainah, dalam ungkapan kesucian, kuning simbol supiah dalam ungkapan jujur, hitam simbol luamah, dalam  ungkapan ketenangan (Baisuni, wawancara 11 Juni 2011).

Tata busana tari Gambuh Pamungkas tidak banyak mengalami perubahan dipakai pula dalam pertunjukan Topeng,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Busana tari Gambuh Pamungkas

(Foto: Suripno, 2010)

 

 

 

Kesimpulan

Tari Gambuh Tameng sebagai salah satu warisan seni tradisi mengalami pergeseran fungsi dan nilai, fungsi semula pembuka acara Bhedhalan di keraton bergeser menjadi pertunjukan topeng dalang di Slopeng. Perubahan budaya tersebut dapat terjadi karena adanya perubahan pandangan, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat serta pola kehidupan dalam masyarakat.

Estetika tari Gambuh Pamungkas merupakan proses kreatifitas secara keberlanjutan dan tidak meninggalkan akar tradisi sosio budaya sebagai wujud kontruksi ekspresi nilai-nilai estetik. Identitas sebagai penjatidirian pada seni tari Gambuh Pamungkas teridentifikasi pada pengembangan koreografi tari Ghambuh Tameng dan tari topeng. Istilah gambuh dari kata kambuh artinya mengatasi sesuatu sedang pamungkas terakhir, bila diartikan secara luas mengatasi sesuatu  peperangan hingga terakhir.

Tari Gambuh Pamungkas sebagai tari keprajuritan memiliki susunan komposisi terdiri dalam enam suasana (adegan) yakni : adegan satu menggambarkan persiapan perang, kedua menggambarkan suasana permohonan kepada Tuhan agar dalam latihan diberikan keselamatan, ketiga menggambarkan suasan keteguhan prajurit mengingat semua ilmu adalah bagian dari Tuhan, keempat menggambarkan suasana latihan perang menggunakan ketrampilan prajurit menggunakan keris, kelima menggambarkan sendau gurau prajurit beristirahat dan keenam menggambarkan prajurit mengakhiri perang.

Filosofi tari Gambuh adalah meyiratkan heroisme prajurit Sumenep yang dituangkan dalam falsafah ajala sotra. Penurut, lunak hati, menghormati musuh untuk mengetahui kelemahan dan bertindak satriya untuk mempertahankan harga diri.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdul Syani, Sosiologi dan Perubahan Masyarakat, Pustaka Jaya,  Bandar lampung.1995.

Bouvier Helena, Lebur Seni Musik dan pertunjukan dalam  Masyarakat Madura,  Penerjemah Rahayu S. Hidayat  Jean   Couteau, Forum Jakarta-paris, Ecole francaise d’ Extreme-Orient. Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan,  Obor Jakarta, 2002

 

Bandem I Made, Kumpulam Bahan Metode Penciptaan  Seni. Buku Ajar,  Yogyakarta, 2001.

C.A. Peursen Van, Strategi Kebudayaan. Yogyakarta:  Kanisius, 1988.

Djelantik, A.A.M., Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid I dan II Estetika Instrumental. Denpasar: STSI Denpasar Press. 1990.

Dahliatiningsih, ”Tari Gambuh Keris Sebagai Tari Tradisi” Laporan Penelitian: Skripsi. STKW Surabaya, 1980.

 

Ensiklopedi Seni Musik Dan Seni Tari Daerah Jawa Timur. Penerbit Jawa Timur: Proyek Pengembangan Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, 1986-1987.

 

Ellfedt Lois, A Primer For Choreographere. Sal Murgiyanto, Pedoman Dasar Penata Tari, Jakarta: Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. 1977.

 

EM Zulfajri, Ratu Aprilia Senja, Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Difa Publisher, 1993.

 

Gandadipura, Kreativitas. Jakarta: Dian Rakyat Jakarta, 1983.

 

Humardani, SD, Kumpulan kertas tentang tari. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta,1979/1980.

 

Jacqualine Smith, Komposisi Tari, Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru, Terjemahan Ben Suharto, SST. Yogyakarta:  Ekalasti, 1997.

 

Kusmayati Hermien, A.M, Arak-Arakan Seni Pertunjukan.   Yogyakarta: yayasan Indonesia, 2000.

 

N.H Dobler Margareth, terj. Tugas Kumorohadi, tari pengalaman seni yang kreatif, Surabaya: Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, 1985.

 

Yasraf Amir Pilang, Dunia yang Dilipat, Tamasya melampui Batas-batas  Kebudayaan  Yogjakarta, Jala sutra, 2004

 

Yunus, Umar, Mitos dan Komunikasi, Jakarta. Tanpa penerbit. 1981

 

Prawirodiningrat Samsul, Sepintas Kilat Adsat Budaya Sumenep, Sebagai Pembangunan Nyata.1986

 

Soelarto,  B. Topeng Madura (Topong)., Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan  P Dan K Republik Indonesia – Jakarta 1980.

 

Startkey Yudith, ”Cultural ydentity” Licensed Under The GNU  Free Documentation, lincense, http//cultural identity, boryfind.com, 2005

 

Wiyata, Latief, Dr. Carok, Konflik Kekerasan dan Harga diri, LKS,  Yogyakarta, 2002