PENTAS DRAMA

“SEPASANG MERPATI TUA”

Sutradara : Agus Samsuri

 

Naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Sumanto adalah naskah drama realis yang berkisah tentang kehidupan, sosial dan romatisme sepasang orang tua. Dimana dalam kehidupan sosial masyarakat itu penuh dengan permasalahan yang mesti segera diselesaikan. Namun dalam kenyataan, masalah tak kunjung selesai, hal ini dikarenakan ulah para pejabat pemerintahan yang membiarkan masalah-masalah rakyatnya terus menumpuk. Sebagian kecil masalah yang diangkat dalam naskah ini adalah masalah sampah dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang dibawah kolong jembatan.

Setelah membaca naskah “Sepasang Merpati Tua”, sutradara menangkap sebuah pesan dan kritik terhadap persoalan-persoalan yang ada dan keinginan untuk menyelesaikan masalah sehingga ada sebuah harapan untuk meraih kesejahteraan hidup, dalam hal ini proses penggarapan tahap awal yang sutradara lakukan adalah interpretasi naskah, kemudian menafsirkan ulang dan melakukan kajian-kajian teori termasuk emosi sutradara dalam memahami kenyataan yang ada di lingkungan sekitar. Atas dasar penafsiran tersebut maka sutradara akan menyajikan drama “Sepasang Merpati Tua” dalam bentuk pementasan drama musikal dan dikemas dalam musikalisasi tradisi jawa tengahan (solo). Sutradara mencoba mengeksplore dan berkreasi lebih dengan memadukan unsur-unsur drama dan musik.

Dalam penyutradaraan sebuah pementasan, pendekatan sutradara dalam pementasan “Sepasang Merpati Tua” ini mengikuti daya stilisasi. Dimana kreasi-kreasi baru, eskplorasi bentuk, dan penggalian-penggalian kreativitas yaitu bentuk-bentuk realis ini di modifikasi ulang kedalam suatu sajian seni drama dan musik. Saat lampu panggung mulai menyala nampak setingan interior rumah klasik berbarengan sayup-sayup suara tembang mengalun dari seorang nenek yang sedang menjahit, dimainkan oleh Eldina Nilam Sari yang diringi ilustrasi biola, gender dan kendang mengawali pertunjukan ini. Suasana romantis terbangun dengan munculnya tokoh kakek diamainkan M. Khafid Siswo Utomo. Hayalan tentang pekerjaan yang diinginkan sang kakek dalam menyikapi persoalan lingkungan sosial yang tengah berkembang memicu perdebatan dengan sang nenek sampai emosi sang kakek meluap hingga pingsan. Tangisan sang nenek menyadarkan sang kakek akan kenyataan hidup yang yang sedang dijalaninnya bersama sang nenek bahwa usia mereka sudah diambang maut. Itulah cerita secara singkat pertunjukan “Sepasang Merpati Tua” yang disajikan dalam durasi kurang lebih dua puluh lima menit.

Sebagai mahasiswa yang mengambil minat penyutradaraan, Agus Samsuri mengemas sajian pertunjukan yang agak berbeda hampir semua dialog aktornya ditembangkan, sehingga suasana romantis semakin kental terasa. Dan untuk mewujudkan itu Sam panggilan sehari-hari Agus Samsuri berusaha meng-casting mahasiswi Seni Karawitan yang memang punya latar belakang vokal tetembangan serta melatihnya secara intens agar bisa berakting dan membawakan karakter tokoh sesuai dengan yang dia konsepkan.

Ada beberapa evaluasi yang disampaikan oleh dosen penguji dalam sajian pementasan ini terutama dalam hal artistik karena pementasan merupakan satu kesatuan artistik, yang mana pementasan yang disutradarai Agus Sam ini sangat condong dengan budaya Jawa tengahan (Jogja – Solo). Apabila merujuk akan visi misi STKW dalam rangka menggali dan mengembangkan seni tradisi lokal Jawa Timur, maka perlu kajian ulang agar supaya pementasan ini benar-benar mengarah pada nafas Jawa Timur. Butuh kerja keras karena teater sebagai program Studi baru di STKW Surabaya dan menjadikan pekerjaan rumah bagi para dosen Teater bagaimana membimbing mahasiswanya sesuai dengan visi dan misi STKW Surabaya.

Terlepas dari nafas pementasan, naskah ini memang sangat menarik karena mengangkat romantisme dalam sebuah keluarga yang sukses mengarungi bahtera keluarga sampai usia senja. Penuh kasih sayang saling mengerti dan memahami pasangan langgeng sampai menjadi Kaken-Ninen (kakek-nenek). Keluarga sebagai bentuk kecil masyarakat bisa dijadikan cerminan mayarakat yang lebih luas. Apabila semua keluarga di Indonesia mempunyai pemikiran seperti keluarga “Sepasang Merpati Tua” ini, kehidupan “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo” akan terwujud di negara ini. (marjangkung)