NASIR DAN PA’I AKTING DI FTV – JTV

Sekilas memang nampak biasa saja tapi kisah dua pemuda yang selalu kompak ini memang unik. Menurut Nasir saat diwawancarai penulis, awal mula perkenalan waktu awal masuk SMKI memang biasa saja seperti teman-teman yang lain, tetapi sejak Praktek Kerja Industi (Prakerin) di Sanggar Ludruk Remaja Marsudi Laras Surabaya chemestry kedua pemuda ini mulai terbangun karena tuntutan peran yang selalu berduet. Dan pada akhirnya kekompakan itu terbawa sampai sekarang masuk bangku kuliah di di STKW Surabaya, keduanya mengambil jurusan teater. Dalam keseharian kedua pemuda ini bagaikan dua sejoli yang selalu kompak dalam setiap kegiatan.

Dalam event-event pementasan panggung keduanya sudah dapat dipastikan pasti berduet. Gaya humor keduanya yang khas selalu berhasil mengocok perut penonton. Dan saat ini kedua pemuda yang berstatus mahasiswa ini mulai mencoba kepiawaiannya dalam berakting di FTV. Menurut pengakuan Nasir , akting di panggung dia rasakan lebih menantang dari pada akting didepan kamera. Akting di depan kamera bisa di “cut” dan diulang jika terjadi kesalahan, tetapi akting diatas panggung harus menguasai improvisasi apabila terjadi kesalahan. Pernyataan Nasir itu juga diamini oleh Pai.

Menurut Nasir ia merasakan banyak manfaat setelah belajar akting, sifat pemalu dan introvet secara berlahan terkikis dan kini ia lebih percaya diri dan berani tampil di depan publik. Kesulitan pendalaman setiap karakter peran yang pernah ia mainkan semakin menambah kekayaan pengalaman spiritual sehingga menambah pemahaman dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

teater

Cita-citanya ingin menjadi profesor teater ini semakin menguatkan tekatnya untuk terus tekun belajar walaupun harus bertarung dengan segala keterbatasan. “ Saya yakin pasti bisa, filosofi jawa mengajarkan : dumadining ilmu sarana laku, sopo sing temen bakaling tinemu, saya akan berhasil jika saya terus mau belajar untuk menambah ilmu pengetahuan saya dan serius dalam mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah saya kuasai”.

Memang saat ini Mohammad Nasir selain menimba ilmu di bangku kuliah STKW dan aktif kegiatan kesenian, ia juga mengajar di sekolah. Sudah sering kali anak didiknya meraih kejuaraan dalam ajang festifal dan lomba teater, dan ia juga sering mendapatkan penghargaan atas prestasinya.

Berbeda dengan nasir, soal cita-cita Rifa’i (Pai) bercita-cita ingin jadi seorang pengusaha, disisi lain pada dasarnya Pai juga gemar menghibur orang lain yang sedang galau. Awal mula belajar kesenian karena masyarakat kita sudah mulai meninggalkan budaya bangsa sendiri. “ Saya prihatin melihat hal ini, padahal orang-orang asing berbondong-bondong mempelajari budaya kita yang adi luhung. Tapi masyarakat kita justru meninggalkan dan melupakannya, kalau tidak ada gerasi yang mau belajar dan melestarikan budaya bangsa maka bangsa ini akan kehilangan identitas”.

Dan suatu saat nanti jika Pai udah berhasil menjadi pengusaha sukses, dia tetap komitmen untuk tidak meninggalkan panggung dan akan selalu mengembangkan kasanah kesenian. Diakhir wawancara dengan penulis Pai berpesan : “ Jadilah diri kalian sendiri, meskipun kita bermain peran tetapi jangan meninggalkan diri seniri, semangat dan kejar terus prestasimu”.