Jurnal Ilmiah Belum Berkembang, Kampus Bisa Bersinergi Kelola Jurnal

28 Februari 2017

JAKARTA, KOMPAS — Jurnal ilmiah di perguruan tinggi belum berkembang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Padahal, kebutuhan jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan internasional di dalam negeri meningkat. Pengembangan jurnal ilmiah, antara lain, terkendala minimnya naskah-naskah artikel ilmiah yang bermutu.

Manajer Prasetya Mulya Publishing (penerbit International Research Journal of Business Studies) Eko Yulianto Napitupulu di Jakarta, Senin (27/2), mengatakan, selama ini naskah karya ilmiah bermutu dari kalangan mahasiswa dan dosen masih minim. Manajemen pengelolaan penerbitan jurnal ilmiah juga belum serius dan profesional. Faktor lain adalah pengelolaan penerbitan berkala/jurnal ilmiah yang belum sesuai standar dan pengembangan jurnal yang menghadapi tantangan mendapatkan reviewer (penulis resensi).

Reviewer internasional umumnya me-review satu artikel dalam satu tahun. Ini harus juga diatasi pengelola jurnal,” kata Eko yang aktif pula dalam Forum Pengelola Jurnal Bidang Manajemen Bisnis.

Menurut Eko, banyak perguruan tinggi yang masih mengelola jurnal sambil lalu. Padahal, sesuai persyaratan yang ditetapkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti), satu terbitan jurnal minimal memuat lima artikel ilmiah. Selain itu, jurnal harus terbit minimal dua edisi per tahun. Pengelolaan jurnal juga harus secara daring (online).

Penerbitan jurnal secara daring (e-journal), lanjutnya, membutuhkan peningkatan kompetensi pengelola. Dengan e-journal dapat dideteksi artikel ilmiah mengandung plagiarisme atau tidak. E-journal juga memudahkan artikel tersitasi (dapat ditelusuri).

“Pengembangan e-journal ini masih jadi tantangan. Namun, dibandingkan negara ASEAN lain, untuk peningkatan jumlah e-journal yang terindeks Directory of Open Access Journals (DOAJ), Indonesia yang paling pesat,” ujarnya.

Bersinergi

Eko mengatakan, perguruan tinggi yang memiliki bidang ilmu sama bisa bersinergi untuk mengelola jurnal. Tujuannya, agar frekuensi penerbitan bisa ditingkatkan. Dengan demikian, semakin banyak artikel ilmiah yang dapat dimuat dari kalangan perguruan tinggi. Dengan berjejaring, jurnal ilmiah bisa ditingkatkan hingga mencapai jurnal internasional bereputasi, misalnya terindeks Scopus, yang saat ini di Indonesia baru ada 28 jurnal ilmiah.

Dalam Sosialisasi/Dialog Peraturan Menristek dan Dikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, pekan lalu, Sekretaris Jenderal Kemristek dan Dikti Ainun Na’im mengatakan, tren publikasi ilmiah dari ilmuwan Indonesia di jurnal internasional terindeks Scopus meningkat. Tahun lalu, jumlahnya hampir 10.000 artikel. Meskipun demikian, jumlah itu tetap masih jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Karena itu, katanya, Indonesia harus meningkatkan publikasi ilmiah, terutama dari kalangan guru besar. Terobosan peningkatan publikasi ilmiah dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa pascasarjana dan dosen untuk menerbitkan publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek dan Dikti Muh Dimyati menuturkan, untuk menghasilkan publikasi bermutu memang perlu dukungan infrastruktur riset yang memadai. Pemerintah terus berupaya dengan mengeluarkan kebijakan riset berbasis output (hasil) dan meningkatkan anggaran riset hibah kompetensi untuk perguruan tinggi. Selain itu, ada kewajiban perguruan tinggi untuk memperkuat riset dengan juga menyediakan anggaran dari dana perguruan tinggi.

Dimyati menyebutkan, dalam dua tahun terakhir jumlah jurnal ilmiah di Indonesia mencapai 7.641 jurnal. Dari jumlah tersebut, jurnal ilmiah yang siap diakreditasi tahun ini sebanyak 1.047 jurnal. Hingga Desember 2016, jumlah jurnal terakreditasi Kemristek dan Dikti sebanyak 267 jurnal dan yang diakreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebanyak 204 jurnal. Saat ini baru 28 jurnal yang terindeks Scopus. Adapun yang terindeks DOAJ sebanyak 540 jurnal. (ELN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Februari 2017, di halaman 12 dengan judul “Jurnal Ilmiah Belum Berkembang”.

kopertis 12