Day: January 30, 2015

PERKULIAHAN SEMESTER GANJIL

  Libur Semester Ganjil th. 2014 /2015 tanggal 23 Februari – 13 Maret 2015 Pengambilan KHS Semester Ganjil 2014/2015 tanggal 16 s/d 20 Maret 2015 Registrasi dan Pemrograman mata kuliah semester Genap Th. 2015 tanggal16 s/d 20 Maret 2015 Perkuliahan semester Genap dimulai tanggal 23 Maret 2015 Demikian pemberitahuan ini dan untuk selanjutnya dimohon segenap civitas Akademik untuk memperhatikan jadwal aktivitas ujian UAS dan Pelaksanaan perkuliahan Semester Genap 2015

UAS SEMESTER GANJIL 2014/2015

  Minggu Tenang Tanggal 26 – 30 Januari 2015 UAS semester Ganjil 2014 /2015 dilaksanakan mulai tanggal 02 – 13 Februari 2015 Mahasiswa peserta ujian UAS harus memiliki kartu peserta ujian dan selalu dibawa pada saat pelaksanaan UAS Mahasiswa yang Jumlah kehadirannya kurang dari 75 % (12 x Tatap muka untuk teori dan 24 x tatap muka untuk praktek) tidak diperkenankan mengikuti UAS Mahasiswa dapat memperoleh kartu peserta ujian UAS apabila telah memenuhi persyaratan administrasi terdiri : a) Telah melunasi tanggungan administrasi keuangan pada semester Ganjil th. 2014/ 2015 (Heregistrasi dan SPP) b) Membayar MID semester dan Ujian semester Ganjil Th. 2014 /2015 sebesar Rp. 250.000,- Paling lambat tanggal 30 Januari 2015 Pengambilan kartu peserta UAS dilayani dari tanggal 19 s/d 30 Januari 2014 di kantor BAAK pada jam kerja. Apabila Mahasiswa tidak memiliki atau menunjukkan kartu peserta ujian UAS saat ujian berlangsung maka yang bersangkutan tidak diperbolehkan mengikuti atau melanjutkan ujian UAS semester Ganjil 2014/2015 TIDAK ADA UJIAN SUSULAN

Berkarya Untuk Museum De Rouen – Prancis

Pemerintah Perancis kembali memberikan beasiswa residensi ketiga pada tahun 2014 selama satu bulan satu minggu kepada dosen STKW jurusan Seni Rupa, Agus Koecink selama residensi di museum mendapat tugas bekerja dan berkarya untuk mendesain ruang koleksi Asia juga memberikan workshop menggambar wayang kulit, dan membatik pada anak-anak sekolah dasar, mahasiswa dan ibu-ibu. Tentu sangatlah senang karena dipercaya untuk mendesain ruang koleksi etnografi Asia. Pengalaman yang didapat antara lain kerja kuratorial di museum, riset tentang etnografi, dan pertukaran ide-ide kreatif dalam diskusi-diskusi. Yuk, yang ingin melakukan residensi keluar negeri persiapan diri kalian khususnya para mahasiswa yaitu persiapan bahasa asing, dan pengetahuan tentang budaya Indonesia agar bias terjadi pertukaran ide-ide dalam penciptaan karya yang bersifat kolaborasi.

Tari Topeng Gethak Didokumentasikan Jurusan Tari

[su_youtube_advanced url=”https://www.youtube.com/watch?v=eQSW2j_T5z8″] Penari Dosen Jurusan Tari STKW Sby : SURIPNO Peniup Seronen Dosen Jurusan Seni Karawitan : Joko Susilo Pengendang Dosen Jurusan Seni karawitan : Hari Wirawan Kenong dosen Jurusan seni karawitan : Suwandi     Tari Topeng Gethak merupakan salah satu tari tradisi kerakyatan yang menjadi bagian dari seni pertunjukan Ludruk Sandur di wilayah Kabupaten Pamekasan – Pulau Madura – Propinsi Jawa Timur – Indonesia. Pada mulanya tari topeng Gethak tidak dapat dipisahkan dari pertunjukan Ludruk Sandur atau kesenian Sandur. Kesenian Sandhur merupakan jenis kesenian rakyat yang sangat digemari di Pamekasan Madura, khususnya dikalangan masyarakat pedesaan. Semua pelosok daerah di Pamekasan mengenal kesenian Sandhur ini menjadikan salah satu jenis hiburan yang memasyarakat dan spesifik, hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan pertunjukan seni Sandhur pada setiap ada pesta perkawinan, khitanan ataupun hajatan lainnya. Dalam pertunjukan Kesenian Sandhur, terdiri dari 4 macam sajian kesenian yang membentuk satu repertoar penyajian yaitu Pajuan (andhongan), Tarian Rondhing, Tari Topeng Klonoan/Getak, dan Cerita semalam suntuk. Tari Topeng Getak merupakan salah satu tarian pembuka dalam suatu sajian Kesenian Sandhur. Tari Topeng Getak awalnya bernama Tari Klonoan. Tarian ini menggambarkan tokoh Prabu Bolodewo dalam lakon Topeng Dhalang Madura yang ditiru oleh masyarakat awam. Topeng Dhalang Madura saat itu dimainkan dan ditonton hanya dilingkungan keraton atau kaum bangsawan. Jarang sekali atau hampir tidak mungkin ada kesempatan bagi masyarakat awam untuk menyaksikan penampilan Topeng Dhalang tersebut. Tokoh Prabu Bolodewo dalam Topeng Dhalang bagi masyarakat merupakan tokoh yang amat sangat dibanggakan. Rasa bangga tersebut diungkapkan melalui ekspresi gerak yang tersusun menjadi tarian. Kata klonoan berasal dari kata kelana atau berkelana, yang bermakna Bolodewo berkelana. Tari Klonoan ini juga sebagai isyarat pembuka sajian Kesenian Sandhur. Dalam perjalanannya, Tari Klonoan ini berubah nama menjadi Tari Topeng Getak. Perubahan nama ini terjadi sejak Tahun 1980, ketika Parso Adiyanto masih menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya jurusan Seni Tari. Pada saat tugas akhir, ia melakukan penelitian kesenian tradisi yang hidup di wilayahnya,. Dari hasil penelitian diperoleh petunjuk bahwa Tari Klonoan tersebut gerak-geraknya dan peralihan tiap gerak selalu tergantung pada bunyi kendang yang berbunyi “Ge” dan “Tak”. Bunyi kendang itulah yang mengilhami penciptaan nama Topeng Getak saat itu. Sampai sekarang nama Klonoan tidak lagi digunakan dan berubah menjadi Topeng Getak. Tari Topeng Getak dalam perjalanannya dari masa ke masa tetap menyatu beriringan dalam satu sajian Kesenian Sandhur, bahkan seolah-olah tidak lekang karena kepanasan dan tidak lapuk karena kehujanan. Tari Topeng Getak selalu digemari oleh masyarakat di Kabupaten Pamekasan dan bahkan berkembang ke daerah Sampang, Bangkalan dan Sumenep. Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan telah menetapkan Tari Topeng Getak sebagai Tari Khas Unggulan Kabupaten Pamekasan. Upaya pelestarian melalui jalur pendidikan formal (sekolah) memang efektif dari sisi penari Topeng Getak, tapi dari sisi musik pengiring masih mengalami krisis seniman. Sekarang satu demi satu seniman musik pengiring Topeng Getak meninggal dunia. Upaya pengkaderan seniman alat musik tertentu masih bisa dijalankan, namun alat musik yang sangat dominan yaitu Sronen (terompet tradisional) sulit mengkondisikan regenerasinya, untuk itu diperlukan pencarian metoda transformasi permainan alat tiup sronen.

Alumni STKW Gelar Karya Mix Trinical Sensibility di HoS

Alumni STKW Gelar Karya Mix Trinical Sensibility di HoS 17 December 2014 | Umar Alif | Surabaya Pameran mix dari tiga seniman, yaitu Asmuliawan “Bogel”, Mohamad Arifin “Londo”, dan Sovi Soviani Manao, digelar di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS). Sebanyak 39 karya mix bertemakan Trinical Sensibility tersebut dipamerkan mulai 19 Desember 2014–11 Januari 2015. Ketiga seniman alumni STKW ini, mencoba menuangkan Cinta yang memiliki berbagai definisi dan sifat serta keragaman dan kepekaan dalam meresponnya. Pada karya “Laurent”, Bogel bercerita tentang bagaimana seorang perempuan mencintai dirinya dengan berusaha untuk selalu tampil menarik dan cantik. Karya-karya Bogel memperlihatkan bentuk dengan kontur halus dan sempurna walau dengan deformasi bentuk sebagai ciri khasnya. Sementara Arifin ‘Londo’ menuangkan imaginya dalam bentuk karya dengan gaya lebih keras dan kaku untuk menggambarkan emosi yang juga terkandung dalam sebuah hubungan percintaan seperti yang terlihat pada karya “Berdua Saja” yang menggambarkan romantisme sepasang kekasih. Sedangkan karya ‘Mochin’ yang berjudul “Special Moment” mengembalikan memori indah akan masa lalu yang merupakan kenangan pribadi sang seniman. Asmuliawan, yang akrab disapa ‘Bogel’, adalah seniman patung kelahiran Batu-Batu Sopeng, Sulawesi Selatan. Lulusan Seni Rupa STKW tahun 2007 ini pernah mengikuti beberapa pameran bersama seperti Biennale II dan IV, pameran ‘Underdoc’ di Hanna Art Space, Bali, dan pameran “New Age” di Raos Gallery, Batu Malang. Begitupula dengan Arifin ‘Londo’, pria kelahiran Surabaya ini juga telah beberapa kali berpameran tunggal maupun bersama baik di Surabaya, Lamongan, Malang dan Bali. Sedangkan bagi perempuan kelahiran Nias Soviani Manao ‘Mochin’, juga tidak kalah aktif dengan kedua teman kolaborasinya dalam mengisi pameran bersama baik di Surabaya, Batu, Malang hingga Padang. “Kami harap kolaborasi pertama dalam pameran ini dapat memberikan wawasan seni rupa khususnya seni patung instalasi serta keramik terhadap masyarakat luas,” kata Asmuliawan, Rabu (17/12/2014). Sedang untuk Bogel, seni menurutnya menggambarkan keindahan humanitas dan realitas dengan memperhatikan rasa maupun kepekaan bagi sang seniman meskipun kadang-kadang perhatian seniman bisa jadi berbeda. “Melalui pameran ini, kami berharap dapat mengukur hasil karya yang telah dicapai kepada masyarakat guna mendapat kritik dan saran membangun untuk meraih pengetahuan tentang kesenian yang lebih baik”, ujar Asmuliawan. Arifin ‘Londo’ serta Mochin berharap pameran kolaborasi ini dapat menjadi pijakan pribadi untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih baik. “Pameran ini menjadi ajang bagi kami untuk memperkenalkan diri ke dunia seni rupa sekaligus mengapresiasi seni patung instalasi serta keramik”, ujar Arifin. (wh)  

TARI GAMBUH PAMUNGKAS SEBAGAI IDENTITAS TARI KEPRAJURITAN

TARI GAMBUH PAMUNGKAS SEBAGAI IDENTITAS TARI KEPRAJURITAN Oleh: Peni Prihantini, S.Sn.       I. Pendahuluan Bagi beberapa kalangan, tari Gambuh dipandang sebagai salah satu kesenian sangat popular di Kabupaten Sumenep-Madura tepatnya sejak tahun 1980-an Pandangan itu tidak berarti merendahkan proses kreatif yang terdapat dalam jenis kesenian Madura lainnya, akan tetapi lebih didasari atas fakta-fakta yang menunjukkan bahwa tari tersebut dilihat dari sudut pandang pengakuan masyarakat dan popularitasnya, serta pengaruhnya terhadap perkembangan seni pertunjukan tradisional, lebih dominan dari pada kesenian lainnya. Munculnya genre tari Gambuh Pamungkas pada pertunjukan Topeng Dalang di Slopeng sekitar tahun 2000 oleh Achmad Darus sebagai wujud kepedulian untuk membuat pola baru dengan penggabungan materi gerak, gending bersumber tari Gambuh Tameng dan Topeng, dan juga, tata rias dan busana. . Upaya penataan tampaknya mendapat respon positip dari kalangan komunitas topeng Dalang Slopeng sebagai pewaris tari Gambuh. Sehingga kepopuleran tari Gambuh Pamungkas kini aktivitasnya tidak lagi menjadi pembuka pertunjukan topeng. Kini pertunjukan tari Gambuh Pamungkas mulai menjadi kepentingan ceremonial hiburan. Pengertian Gambuh menurut Darus berdasarkan dalam syair tembang mamaca, Gambuh artinya mengatasi sesuatu dan Pamungkas pongkasan (Madura) atau terakhir. Jadi tari Gambuh Pamungkas adalah gambaran tari prajurit yang melakukan latihan perang-perangan bersenjatakan keris dilakukan untuk mengatasi suatu bahaya sampai titik darah terakhir. II.  Koreografi Tari Gambuh Tameng Sebagai Identitas Tari Keprajuritan Asal-usul pertunjukan tari Gambuh pada abad XV merupakan tarian hiburan untuk penyambutan tamu-tamu keratin, ditarikan oleh putri-putri keraton bersenjatakan dua bilah keris. Satu ditangan kanan, satunya terletak dikonde rambut berbentuk taji kecil, tangan kiri memegang perisai bundar sebagai penolak senjata. Selanjutnya pada Abad XVIII tari Gambuh ditarikan dua penari laki-laki berpasangan, memakai celana panji-panji berwarna hitam atau merah, mengenakan kain rapek berwarna-warni, setagen, ikat pinggang, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dhestar, masing-masing menggunakan properti berupa keris dan tameng, fungsi tari sebagai sarana untuk membuka acara Bhedhalan di keraton, yakni pertemuan agung yang dihadiri para pembesar keraton bersenjatakan keris dan tameng bulat ditengahnya terdapat cermin kecil . Fungsi tari Gambuh yang lain berkaitan dengan kepentingan sosial adalah sebagai pembuka dalam tradisi arak-arakan penganten. Jenis Tari Gambuh sebagaimana fungsinya disebut tari Gambuh pengiring manten, sebuah prosesi arak-arakan rombongan penganten laki-laki menuju ke rumah atau tempat akad nikah. Dalam hal ini tari Gambuh diartikan sebagai pembuka jalan bagi penganten laki-laki. Penari Gambuh akan menari setelah rombongan arak-arakan penganten laki-laki sampai di rumah mempelai wanita. Dua sampai empat orang laki-laki penari Gambuh turut serta dalam iring-iringan ini. Mereka berjalan di belakang kelompok Haddrah. Mereka akan menari ketika sudah tiba di kediaman pengantin wanita. Para penari Gambuh memakai celana panji-panji berwarna hitam atau merah, mengenakan kain rapek berwarna-warni, setagen, ikat pinggang, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dhestar, masing-masing menggunakan properti berupa keris dan tameng, (Kusmayati, Hermin:2000:48-49). Koreografi yang melekat pada seni Tari Gambuh Pamungkas adalah merupakan sebuah identitas jatidiri merupakan sebuah mata rantai yang menghubungkan nilai-nilai sosial budaya masa lampau dengan masa sekarang Yudith Startkey, dalam bukunya Cultural Identity (2005) mengatakan : “Common characteristics and ideas may be clear markes of a shared cultural identity, but essentally it is determined by differeence; we feel we belong to a group, by notching and highliting differences with other groups and cultures.” “Karakteristik umum dan gagasan-gagasan dapat menjadi penanda yang jelas bagi identitas kebudayaan, tetapi secara esensial ditentukan oleh perbedaan; kita merasakan menjadi milik kelompok, dan kelompok dan kelompok mendefinisikan dirinya sebagai sebuah perbedaan penting dengan kelompok dan kebudayaan lain.”   Sebagaimana telah disebutkan karakteristik merupakan ujud sebuah jatidiri dan menjadi penanda yang jelas bagi identitas kebudayaan. Pertunjukan Tari Gambuh sebagai wujud ekspresi kebudayaan yang masih terjaga memiliki ciri-ciri yang dapat diidentifikasi melalui koreografi, struktur gending, tata rias dan busana. Dan ciri-ciri style atau gaya yang membentuk karakter wilayah budaya dimana tari itu dilahirkan. Untuk mengetahui dan menganalisa aspek-aspek khusus koreografi Tari Gambuh Pamungkas diperlukan pendekatan teori Dance Composision a pracitical guide for teacher, second edition oleh Jacqueline M, Smith-Autard. Teori tersebut menyangkut masalah-masalah isi, bentuk, tehnik, repitisi, pola lantai yang didalamnya jelas menggambarkan aspek-aspek khusus dari koreografi. Teori ini menganalisis bentuk koreografi  dan mengungkap penyajian  Tari Gambuh Pamungkas dari berbagai hal, antara lain meliputi : 1.  Bentuk ragam gerak     4. Pola lantai7.  Rias busana 2.  Gending pengiring         5.  Repetisi 3.  Struktur penyajian Ditegaskan bahwa koreografi merupakan proses kreatrif yang bergulat dengan isi, bentuk, tehnik dan proyeksi. Ungkapan senada dikemukakan oleh La Mery yang disadur oleh Soedarsono (Elemen-elemen Dasar Komposisi Tari) yang mengutarakan bahwa koreografi identik dengan komposisi atau garapan tari yang di rangkaikan secara harmonis dengan tema, gerak tematik, musik, rencana dramatik dan evolusi. Tari Gambuh Pamungkas memiliki susunan gerak, mempunyai unsur waktu, dan tenaga. Waktu merupakan tempo (dinamik). Ruang terdiri dari ruang exsternal (ruang di luar tubuh penari),  ruang internal  (ruang tubuh penari), dan ruang menari (level). Untuk mengindetifikasi gaya. Gaya adalah kekhasan atau kekhususan yang ditandai oleh ciri fisik, estetik (musical/dan/atau system bekerja (garap) yang dimiliki oleh atau yang berlaku pada  (atau atas dasar inisiatif dan atau kreatifitas) perorangan (pengrawit) kelompok (masyarakat seni) atau kawasan (budaya) tertentu yang diakui eksistensinya oleh dan / atau berpotensi untuk mempengaruhi individu, kelompok (masyarakat) atau kawasan (budaya, musik, kesenian) lainya, baik itu terberlakukan dengan sengaja atau tidak, maupun yang terjadi, atas hasil dari berbagai cara dan/atau bantuan dari berbagai sarana dan/atau media. Struktur estetik tari Gambuh Pamungkas Komposisi terbentuk dalam enam suasana tari yang menggambarkan prajurit keraton berlatih perang-perangan. Pertama penggambaran prajurit dalam persiapan perang, kedua permohonan kepada yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan dan ketabahan dalam latihan, ketiga latihan ketrampilan berolah keris, keempat, senda gurau prajurit melepas lelah, kelima ketrampilan silat tanpa senjata, keenam menggambarkan prajurit mengakhiri latihan perang, Sedang gaya yang dimaksud adalah pengenalan ciri-ciri individu seniman yang melekat pada bentuk tari yang diwarisi oleh generasi terdahulu. Dan mendapat pengkuan masyarakatnya. Koreografi pada bagian awal merupakan momen tari masuk ke arena pentas, tujuan penciptaan untuk menampilkan suasana tari yang menyampaikan gambaran ungkapan kegagahan kesiapan prajurit maju perang. Sumber gerak berasal tari topeng di antaranya: gerak mesat keloar, sereg pandheg diakhiri gerak tojeg. Gerak-gerak tersebut memiliki ungkapan karakter gagah tegas, motif gerak

Arsip Artikel