Category: Acara Seni Teater

6-7 januari 2017-Ujian Pembawaan Totalitas Keaktoran Teater

Ujian Pembawaan Totalitas Keaktoran Teater diadakan pada tanggal 6-7 Januari 2017 pukul 19.00 WIB dengan diikuti 10 peserta uji. LISANA PUJI ASTUTI, RIANGGA SAPUTRA, ARICALDY SYAHKURNIA , FERRY HERU WIDODO, HIDAYAH SUMIYANI, MUH ALFIN HARIS, MUAMMAR HANDANI , ACHMAD FENDI ARIFIN  

NASIR DAN PA’I AKTING DI FTV – JTV

Sekilas memang nampak biasa saja tapi kisah dua pemuda yang selalu kompak ini memang unik. Menurut Nasir saat diwawancarai penulis, awal mula perkenalan waktu awal masuk SMKI memang biasa saja seperti teman-teman yang lain, tetapi sejak Praktek Kerja Industi (Prakerin) di Sanggar Ludruk Remaja Marsudi Laras Surabaya chemestry kedua pemuda ini mulai terbangun karena tuntutan peran yang selalu berduet. Dan pada akhirnya kekompakan itu terbawa sampai sekarang masuk bangku kuliah di di STKW Surabaya, keduanya mengambil jurusan teater. Dalam keseharian kedua pemuda ini bagaikan dua sejoli yang selalu kompak dalam setiap kegiatan. Dalam event-event pementasan panggung keduanya sudah dapat dipastikan pasti berduet. Gaya humor keduanya yang khas selalu berhasil mengocok perut penonton. Dan saat ini kedua pemuda yang berstatus mahasiswa ini mulai mencoba kepiawaiannya dalam berakting di FTV. Menurut pengakuan Nasir , akting di panggung dia rasakan lebih menantang dari pada akting didepan kamera. Akting di depan kamera bisa di “cut” dan diulang jika terjadi kesalahan, tetapi akting diatas panggung harus menguasai improvisasi apabila terjadi kesalahan. Pernyataan Nasir itu juga diamini oleh Pai. Menurut Nasir ia merasakan banyak manfaat setelah belajar akting, sifat pemalu dan introvet secara berlahan terkikis dan kini ia lebih percaya diri dan berani tampil di depan publik. Kesulitan pendalaman setiap karakter peran yang pernah ia mainkan semakin menambah kekayaan pengalaman spiritual sehingga menambah pemahaman dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Cita-citanya ingin menjadi profesor teater ini semakin menguatkan tekatnya untuk terus tekun belajar walaupun harus bertarung dengan segala keterbatasan. “ Saya yakin pasti bisa, filosofi jawa mengajarkan : dumadining ilmu sarana laku, sopo sing temen bakaling tinemu, saya akan berhasil jika saya terus mau belajar untuk menambah ilmu pengetahuan saya dan serius dalam mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah saya kuasai”. Memang saat ini Mohammad Nasir selain menimba ilmu di bangku kuliah STKW dan aktif kegiatan kesenian, ia juga mengajar di sekolah. Sudah sering kali anak didiknya meraih kejuaraan dalam ajang festifal dan lomba teater, dan ia juga sering mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Berbeda dengan nasir, soal cita-cita Rifa’i (Pai) bercita-cita ingin jadi seorang pengusaha, disisi lain pada dasarnya Pai juga gemar menghibur orang lain yang sedang galau. Awal mula belajar kesenian karena masyarakat kita sudah mulai meninggalkan budaya bangsa sendiri. “ Saya prihatin melihat hal ini, padahal orang-orang asing berbondong-bondong mempelajari budaya kita yang adi luhung. Tapi masyarakat kita justru meninggalkan dan melupakannya, kalau tidak ada gerasi yang mau belajar dan melestarikan budaya bangsa maka bangsa ini akan kehilangan identitas”. Dan suatu saat nanti jika Pai udah berhasil menjadi pengusaha sukses, dia tetap komitmen untuk tidak meninggalkan panggung dan akan selalu mengembangkan kasanah kesenian. Diakhir wawancara dengan penulis Pai berpesan : “ Jadilah diri kalian sendiri, meskipun kita bermain peran tetapi jangan meninggalkan diri seniri, semangat dan kejar terus prestasimu”.

KONSISTEN TERHADAP TEATER

Bekerja dengan iklas, setia berputar dalam pusaran                                            Fuad, itulah nama akrab panggilannya. Pria kelahiran 20 Desember 1973 di kaki Gunung Panderman daerah Kota Batu ini akrab dengan teater sejak masih dibangku SD, keinginan berkesenian yang sangat kuat dengan kondisi yang sarat akan identitas budaya memacu untuk tetap eksis dan konsisten. Liku-liku dan pahit getirnya proses berkesenian pernah membuatnya berubah pikiran untuk menjauh dan tidak bersinggungan lagi dengan dunia seni. Akan tetapi sikap yang diambilnya ini justru membuat jiiwanya kering, hampa dan gelisah. Kekeringan, kehampaan dan gegelisahan jiwa inilah yang menariknya kembali menekuni kesenian. Dengan membentuk sanggar teater “ Alif ” yang kemudian diubah nama menjadi teater “ Air ” ini semakin mengibarkan kiprahnya dalam dunia per-teateran di kota Batu. Cita-citanya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk keluarga dan masyrakat ini terus memacunya untuk bergesekan terhadap lingkungan, ruang dan waktu. Kesadaran terhadap ilmu dan pengetahuan yang selalu berkembang, menghantarkannya untuk meneruskan pendidikan di STKW Surabaya. Pilihan untuk sekolah lagi ini menantang kesungguhannya dalam tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan dan cita-cita. Keinginan yang kuat tak dapat terhalang oleh waktu, jarak tempuh,dan kesibukan, dalam kurun waktu 5 tahun pria ini berhasil menyelesaikan studinya dan di wisuda menyandang gelar Sarjana Seni pada tahun 2012. Gagasan tentang kesenian (seni teater) dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, pada tahun 2011 Mas Fuad berhasil menggalang dan mendeklarasikan Master (Masyarakat Teater) yang dihadiri perwakilan komunitas teater berbagai daerah di Indonesia. Deklarasi ini dilakukan dalam rangka menjalin jaringan persahabatan dan persaudaraan serta sebagai media saling bertukar informasi terhadap perkembangan kesenian khususnya teater. Dari deklarasi Master ini akhirnya terlahir event parade Teater Jatim yang di gelar sampai sekarang setiap tahun pada acara hari teater dunia dan menjadi agenda di kota Batu. Saat ini nama Fuad Dwi Yono, S.Sn sangat populer dikancah perteateran kota Batu. Melihat sepak terjangnya beraktivitas selain sebagai seniman, Fuad juga berprofesi sebagai Guru, pekerja seni Event Orgainizer, serta Pemerhati Anak. Di bidang organisasi Fuad juga tidak kalah ketatnya beraktivitas, sebagai ketua Komunitas Teater Kota Batu, Direktur Teater Air, Ketua LPA Kota Batu, serta Wakil Ketua Dewan Kesenian Kota Batu. Bahkan pada pemilu sebelumnya, Fuad sempat menjadi Calon Legislatif dari partai tertentu walaupun dalam perjalanan waktu masih belum berhasil duduk di lembaga Legislatif Kota Batu. Banyaknya kegiatan Fuad dalam mengembangkan potensi di Kota Batu menjadi barometer keberadaan Fuad di kancah Kesenian, Politik, Sosial, dan sebagainya, bahkan banyak agenda acara yang siap digelar oleh Fuad di Kota Batu tersebut antara lain : Konggres Anak Indonesia, Shotting Film Festifal Jatim, Pentas Teater Tunggal kelilng 3 Kota Batu – Kediri – Gresik, Festifal Internatsional Kampung Tani, ART Island, Carnival Harlah Kota Batu, kegiatan rutin Performance di Ecco Green Park dan BNS Weekend. (marjangkung)

PENTAS DRAMA

“SEPASANG MERPATI TUA” Sutradara : Agus Samsuri   Naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Sumanto adalah naskah drama realis yang berkisah tentang kehidupan, sosial dan romatisme sepasang orang tua. Dimana dalam kehidupan sosial masyarakat itu penuh dengan permasalahan yang mesti segera diselesaikan. Namun dalam kenyataan, masalah tak kunjung selesai, hal ini dikarenakan ulah para pejabat pemerintahan yang membiarkan masalah-masalah rakyatnya terus menumpuk. Sebagian kecil masalah yang diangkat dalam naskah ini adalah masalah sampah dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang dibawah kolong jembatan. Setelah membaca naskah “Sepasang Merpati Tua”, sutradara menangkap sebuah pesan dan kritik terhadap persoalan-persoalan yang ada dan keinginan untuk menyelesaikan masalah sehingga ada sebuah harapan untuk meraih kesejahteraan hidup, dalam hal ini proses penggarapan tahap awal yang sutradara lakukan adalah interpretasi naskah, kemudian menafsirkan ulang dan melakukan kajian-kajian teori termasuk emosi sutradara dalam memahami kenyataan yang ada di lingkungan sekitar. Atas dasar penafsiran tersebut maka sutradara akan menyajikan drama “Sepasang Merpati Tua” dalam bentuk pementasan drama musikal dan dikemas dalam musikalisasi tradisi jawa tengahan (solo). Sutradara mencoba mengeksplore dan berkreasi lebih dengan memadukan unsur-unsur drama dan musik. Dalam penyutradaraan sebuah pementasan, pendekatan sutradara dalam pementasan “Sepasang Merpati Tua” ini mengikuti daya stilisasi. Dimana kreasi-kreasi baru, eskplorasi bentuk, dan penggalian-penggalian kreativitas yaitu bentuk-bentuk realis ini di modifikasi ulang kedalam suatu sajian seni drama dan musik. Saat lampu panggung mulai menyala nampak setingan interior rumah klasik berbarengan sayup-sayup suara tembang mengalun dari seorang nenek yang sedang menjahit, dimainkan oleh Eldina Nilam Sari yang diringi ilustrasi biola, gender dan kendang mengawali pertunjukan ini. Suasana romantis terbangun dengan munculnya tokoh kakek diamainkan M. Khafid Siswo Utomo. Hayalan tentang pekerjaan yang diinginkan sang kakek dalam menyikapi persoalan lingkungan sosial yang tengah berkembang memicu perdebatan dengan sang nenek sampai emosi sang kakek meluap hingga pingsan. Tangisan sang nenek menyadarkan sang kakek akan kenyataan hidup yang yang sedang dijalaninnya bersama sang nenek bahwa usia mereka sudah diambang maut. Itulah cerita secara singkat pertunjukan “Sepasang Merpati Tua” yang disajikan dalam durasi kurang lebih dua puluh lima menit. Sebagai mahasiswa yang mengambil minat penyutradaraan, Agus Samsuri mengemas sajian pertunjukan yang agak berbeda hampir semua dialog aktornya ditembangkan, sehingga suasana romantis semakin kental terasa. Dan untuk mewujudkan itu Sam panggilan sehari-hari Agus Samsuri berusaha meng-casting mahasiswi Seni Karawitan yang memang punya latar belakang vokal tetembangan serta melatihnya secara intens agar bisa berakting dan membawakan karakter tokoh sesuai dengan yang dia konsepkan. Ada beberapa evaluasi yang disampaikan oleh dosen penguji dalam sajian pementasan ini terutama dalam hal artistik karena pementasan merupakan satu kesatuan artistik, yang mana pementasan yang disutradarai Agus Sam ini sangat condong dengan budaya Jawa tengahan (Jogja – Solo). Apabila merujuk akan visi misi STKW dalam rangka menggali dan mengembangkan seni tradisi lokal Jawa Timur, maka perlu kajian ulang agar supaya pementasan ini benar-benar mengarah pada nafas Jawa Timur. Butuh kerja keras karena teater sebagai program Studi baru di STKW Surabaya dan menjadikan pekerjaan rumah bagi para dosen Teater bagaimana membimbing mahasiswanya sesuai dengan visi dan misi STKW Surabaya. Terlepas dari nafas pementasan, naskah ini memang sangat menarik karena mengangkat romantisme dalam sebuah keluarga yang sukses mengarungi bahtera keluarga sampai usia senja. Penuh kasih sayang saling mengerti dan memahami pasangan langgeng sampai menjadi Kaken-Ninen (kakek-nenek). Keluarga sebagai bentuk kecil masyarakat bisa dijadikan cerminan mayarakat yang lebih luas. Apabila semua keluarga di Indonesia mempunyai pemikiran seperti keluarga “Sepasang Merpati Tua” ini, kehidupan “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo” akan terwujud di negara ini. (marjangkung)

FILESKY GO INTERNASIONAL

DARI PANGGUNG STKW MERAMBAH PANGGUNG MANCANEGARA  Oleh : Filesky Fileski lahir di Madiun, Jawa Timur 21 Februari 1988, bernama lengkap Walidha Tanjung Files adalah alumni mahasiswa Jurusan Teater angkatan 2007. Fileski mengaku memilih kuliah di STKW karena ia merasa tidak ada perkuliahan lain yang betah ia jalani jalani kecuali kuliah seni, sebab seni sudah menjadi jiwanya sejak kecil. Alasan memilih jurusan teater karena ia tidak bisa memilih salah satu dari seni drama, seni sastra dan seni musik yang ketiganya sangat ia sukai, sebab hanya di jurusan teaterlah ketiga seni ini dipelajari. Pernah ia mengambil kuliah jurusan akuntansi di Politeknik Negeri Madiun namun hanya berjalan dua semester saja, ia mengambil jurusan tersebut karena desakan orang tuanya, padahal ia sendiri tidak ada passion di bidang itu. Untuk itulah tahun 2007 Fileski nekat ingin masuk kuliah seni bagaimanapun caranya. Dengan susah payah ia yakinkan orang tua bahwa ia bisa menghidupi dirinya sendiri walau tanpa minta uang kuliah sepeserpun. Akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di STKW karena ia mendapat informasi bahwa kuliah di STKW bisa sambil kerja, apalagi jika kuliah di Surabaya ia ada sodara yang bisa dijadikan tempat numpang tinggal gratis. Sejak semester awal Fileski kuliah di STKW sudah mandiri mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri di sela-sela jadwal perkuliahan. Walau ia punya sodara di Surabaya ia tak ingin menjadi beban orang lain, ia ingin mencukupi kebutuhan hidupnya dengan jerih payahnya sendiri. Namun saat itu ia adalah angkatan pertama jurusan teater, tentunya jurusan yang masih dalam proses merintis itu belum bisa diandalkan untuk mendapatkan hasil job, mungkin sekarang keadaan jurusan teater sudah jauh berbeda dibanding dulu. Untuk itulah ia niatkan dari jurusan teater hanya sebagai tempat menimba ilmu, sedangkan ia mencari rejeki dari seni musik, yang kebetulan saat itu ia sudah bisa mendapatkan pendapatan dari mengajar biola. Ilmu bermain biola ia dapatkan dari belajar pada guru-guru biola yang ada di Surabaya dengan cara learning by doing, apa yang gurunya ajarkan langsung ia ajarkan pada muridnya, ternyata cara ini sangat efektif untuk memacu kemampuan bermain biola lebih cepat. Seiring banyaknya murid dan job manggung bermain biola membuat perkuliahannya sedikir terganggu, sehingga S1 yang seharusnya ditempuh selama 4 tahun menjadi molor 5 tahun. Banyak hal yang berkesan di STKW bagi Fileski, ia mendapatkan banyak ilmu tidak hanya dari dosen saja, namun dari teman-temannya yang sangat beragam secara usia. Sebab jurusan teater angkatan pertama ini para mahasiswanya adalah para guru dan pelatih seni teater dari daerah-daerah di Jawa Timur yang bisa dibilang sudah sangat berpengalaman di bidang teater. Dari situ Fileski banyak menyerap ilmu, bahkan tidak hanya ilmu teater, namun juga ilmu sastra menulis puisi, yang akhirnya puisilah yang membawa Fileski menjajaki panggung-panggung apresiasi sastra hingga kancah internasional, yang tentunya masih dalam kawasan negara-negara rumpun melayu yang mampu mengapresiasi puisi-puisi berbahasa Indonesia, seperti negara Malaysia, Singapura, Brunai, dan Thailand. Setelah lulus dari STKW ia disibukkan berbagai kegiatan di dunia sastra dan musik. Dalam bidang sastra ia aktif performen di berbagai panggung apresiasi sastra tingkat nasional dan internasional. Fileski mendirikan Komunitas Musik Sastra yang mempertemukan para musisi, penulis, penikmat sastra. Ia juga komposer yang banyak menciptakan komposisi musik yang diilhami dari karya puisi, cerpen, dan novel. Puisi-puisinya terbit di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, bulletin, dan antologi puisi penyair lintas negara. Fileski juga sering disebut sebagai “Poet Musician”, karena sajian khas pertunjukan Biola Puisi dan gaya panggungnya yang ekspresif dan aktraktif. Selama tiga tahun terakhir, Fileski kerap menyemarakkan berbagai ajang sastra nasional dan  internasional. Pengalaman yang paling berkesan baginya dalam sastra pertunjukan adalah saat menjalani Rekor Musikalisasi Puisi 11 Jam Nonstop (Kolaborasi dengan 257 Pembaca Puisi, 2012) dan Tour Resital Biola Puisi (Bulan Bahasa Singapura 2014). Kegiatan keliling manca negara yang baru saja ia jalani adalah tour performen selama bulan bahasa Singapura yang terjadi di bulan September 2014 ini. Usut punya usut, kegiatannya di Singapura ini terkait karya puisinya yang terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi penyair lintas negara . Rangkaian kegiatannya selama disana seperti menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara ke-7 (PPN7),  Launching buku Antologi Puisi Bebas Melata yang memuat puisinya, mengisi workshop menuis puisi dan musikalisasi puisi di sekolah-sekolah yang ada di Singapura, Tour Resital Biola Puisi di perpustakaan dan panggung-panggung apresiasi Bulan Bahasa Singapura.   Terakhir dari tulisan ini ditutup Fileski dengan sebuah harapan, “Semoga STKW semakin maju dan semakin menjadi garda depan pencetak seniman-seniman muda yang kompeten di kandang Jawa Timur dan kancah Internasional. Tentunya untuk mencapai itu perlu manajemen administrasi yang bagus, pembangunan fasilitas kampus yang memadai demi menopang kreatifitas mahasiswa agar lebih bergelora, seperti segera dibangun gedung pertunjukan STKW, juga penambahan kelengkapan buku dan perluasan ruang perpustakaan. Khusus untuk adik-adik jurusan teater semoga kalian tidak hanya piawai dalam bermain ludruk, namun juga menguasai pengetahuan teater barat dan timur, karena zaman semakin global maka perlu memperluas wawasan agar tidak menjadi katak dalam tempurung yang hanya berkutat pada apa yang kalian bisa saja, teruslah berproses, gali pengetahuan dari banyak sumber, namun jangan sampai kehilangan jati diri dari mana kalian berasal.”

Arsip Artikel