Di balik setiap gerakan tari, ada prahara yang bergemuruh dalam jiwa. Malam itu, tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pertunjukan drama batin yang memilukan. Tarian itu bernama “PRATIGHA DHARMAPATNI”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Marcella Lidya Cyntia Dewi Kusdiarto. Marcella tidak hanya menari, ia menceritakan sebuah tragedi. Kisah ini berawal dari kehidupan istana yang megah, yang seketika berubah menjadi lautan kekecewaan bagi seorang Ratu bernama Mahendradatta. Difitnah, disingkirkan, dan dijauhkan dari kekuasaan, Mahendradatta mengadu kepada Dewi Durga, memohon kekuatan untuk menebar kutukan sebagai balas dendam. Melalui gerak tari yang penuh ketegangan, Marcella merepresentasikan pergolakan batin ini. Tarian ini adalah sebuah pertarungan, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di dalam jiwa. Namun, di tengah amarah yang membara, lahirlah kesadaran. “Bahwa dendam tak pernah membawa keadilan, hanya memperpanjang penderitaan.” “PRATIGHA DHARMAPATNI” adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang konsekuensi dari perasaan yang tidak tersalurkan dan kekuatan dari dendam yang membara. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.
Di balik setiap gerakan tari, ada prahara yang bergemuruh dalam jiwa. Malam itu, di panggung tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pertunjukan drama batin yang memilukan. Tarian itu bernama “NUNJANG PALANG”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Dwi Wahyu Bagas Saputra. Dwi Wahyu tidak hanya menari, ia menceritakan sebuah konflik abadi: cinta yang begitu besar namun tak dapat diwujudkan. Kisah ini berawal dari rasa kasih dan sayang yang mendalam, yang kemudian berubah menjadi pengorbanan jati diri. Dwi Wahyu, melalui “NUNJANG PALANG”, menunjukkan kepada kita bagaimana cinta yang terpendam dapat menjadi awal dari dendam dan amarah yang membara. Melalui gerak tari yang penuh ketegangan, ia merepresentasikan pergolakan batin ini. Tarian ini adalah sebuah pertarungan, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di dalam jiwa. “NUNJANG PALANG” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang konsekuensi dari perasaan yang tidak tersalurkan dan kekuatan dari dendam yang membara. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.
Di balik setiap hentakan kaki, ada semangat yang tak pernah padam. Di atas panggung sebuah tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Tarian itu bernama “NJARAN”, sebuah mahakarya yang lahir dari visi seorang mahasiswa Zarqun Aura Arinda. Zarqun tidak hanya menari, ia menyuarakan. Terinspirasi dari Kesenian Jaranan Sentherewe Tulungagung, ia merangkai gerakan-gerakan lincah seekor kuda menjadi sebuah metafora yang kuat tentang “kerja keras”. Dalam tarian ini, setiap gerakan koreografi yang kuat dan gesit mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan hidup, kita harus memiliki niat yang kokoh dan usaha yang gigih untuk mencapai tujuan. “NJARAN” adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Zarqun menunjukkan kepada kita bahwa seni adalah cara terkuat untuk menyampaikan pesan moral, untuk menanamkan semangat pantang menyerah kepada penonton melalui keindahan gerak.
Di dalam setiap langkah tari, ada kisah tentang keberanian dan pengkhianatan. Malam itu, tarian bukan hanya sekadar gerakan, melainkan sebuah pertunjukan drama kehidupan yang tragis dan menyentuh. Kisah itu bernama “MITHULUNG”, sebuah mahakarya dari seorang mahasiswa, Moh. Jaenal Arifin. Jaenal tidak hanya menari, ia menghidupkan kembali sebuah dilema. Dilema seorang pendekar sakti yang memiliki kebiasaan mulia: suka menolong sesama. Namun, niat suci itu justru menjadi bumerang. Kebiasaan baiknya dipermainkan dan disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, hingga akhirnya ia terperangkap dan menjadi kambing hitam—mengorbankan perjalanan hidupnya sendiri. Melalui gerak tari yang gagah namun penuh emosi, Jaenal merepresentasikan konflik batin yang dalam ini. Ia menunjukkan kepada kita bahwa kebaikan pun bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak diiringi dengan kewaspadaan. “MITHULUNG” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang nilai-nilai heroik, keteguhan hati, dan juga konsekuensi dari tindakan kita. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.
Di dalam setiap hidangan, ada kisah. Di dalam setiap gerakan tari, ada jiwa yang berbicara. Sebuah kisah sederhana namun sarat makna dihidupkan kembali melalui tarian. Kisah itu bernama “KETAN INTIP”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Alfenia Septiani Widyana. Alfenia tidak hanya menari, ia bercerita. Ia membawa kita kembali ke Kampung Dinoyo Surabaya, menemui sosok Mbah Tami, seorang juru masak yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi Ketan Intip. Namun, di balik semangat Mbah Tami, ada kegelisahan. Kegelisahan akan tradisi yang terancam punah, ibarat tali yang disimpul mati, perjuangan yang berakhir karena tidak ada lagi generasi yang mewarisi. Melalui gerak tari yang penuh makna, Alfenia merepresentasikan beban tanggung jawab ini. Gerakan-gerakan yang lembut namun kuat, menganyam kembali kenangan dan harapan Mbah Tami. “KETAN INTIP” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah permohonan, sebuah janji, dan sebuah pengingat bahwa warisan budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai budaya dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk bercerita, untuk menjaga ingatan tetap hidup, dan untuk memberikan suara kepada mereka yang khawatir warisannya akan terlupakan.
Surabaya, 26–27 Juli 2025 — Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, menjadi saksi dua malam penuh kreativitas dan karya gemilang dari mahasiswa Program Studi Seni Karawitan dan Program Studi Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Acara Ujian Tugas Akhir yang berlangsung dua malam ini mengusung dua tema besar: 🎵 Future Youth Performance (26 Juli 2025) – Menampilkan karya-karya musik inovatif, memadukan kekuatan tradisi dan sentuhan modern seperti: Rhapsodi Byung – Atallah Oktifanzha Ronce Nan Jinèman – Gigih Permadi Jazz Using – Zulfikri Eka Yahya Jhegger-Jheggur – Maulana Hasbi Assidiqi Ali 💃 Stage of The Emerging Performers (STEP) (27 Juli 2025) – Menyuguhkan karya tari penuh karakter dan ekspresi dari mahasiswa Prodi Seni Tari dengan judul Tugas Akhir: Marcella – Pratigha Dharmapatni Wahyu – Nunjang Palang Arinda – Njaran Arif – Mithulung Alfen – Ketan Intip Setiap karya tidak hanya menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga kekuatan riset, penghayatan, dan interpretasi nilai budaya. Dari pengolahan gerak hingga detail kostum, setiap penampilan dirancang untuk memberikan pengalaman seni yang mendalam kepada penonton. Tak hanya menjadi ujian akademik, Ujian Tugas Akhir ini adalah perayaan kreativitas, di mana mahasiswa menunjukkan bahwa proses belajar di STKW Surabaya tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berani berkarya, berinovasi, dan tampil di panggung profesional. ✨ STKW: Tempat Tumbuhnya Seniman BerkualitasMelalui kegiatan seperti ini, STKW Surabaya membuktikan diri sebagai kampus seni yang konsisten melahirkan generasi baru seniman musik dan tari. Mahasiswa dibimbing oleh dosen berpengalaman, mendapatkan kesempatan tampil di panggung bergengsi, dan membangun jejaring dengan pelaku seni di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. 📣 Pesan untuk Calon Mahasiswa Baru:Jika Anda memiliki passion di bidang Seni Karawitan atau Seni Tari, STKW Surabaya adalah tempat yang tepat untuk mengasah bakat, menambah wawasan, dan menyiapkan diri menjadi seniman yang berdaya saing. Di sini, panggung Anda bukan hanya ruang kelas, tapi juga ruang-ruang pertunjukan yang sesungguhnya.
Festival Payung Indonesia (FPI) diselenggarakan oleh Mataya arts & heritage pertama kalinya diadakan pada tahun 2014. Dan pada tahun 2016 ini, merupakan Festival Payung Indnesia yang ke-3, yang akan diselenggarakan pada 23-25 September 2016, di Taman Balekambang, Kota Solo, dengan tema ‘sky umbrella, exploring Indonesia’. Agenda Temu Koreografer Wanita (TKW) ke-8 tahun ini menjadi bagian dari FPI. Temu Koregrafer Wanita adalah ruang ekspresi dimana para kogreografer wanita bertemu, bertukar pikiran dan pengalaman serta menampilkan karyanya. Event TKW merupakan event dua-tahunan yang diselenggarakan oleh Mataya arts&heritage, sempat vakum beberapa tahun setelah penyelenggaraan TKW ke-6 di Solo bertema ‘Whitening Body’ pada tahun 2008. Adapun tema TKW tahun 2016 ini sesuai dengan tema Festival Payung Indonesia ‘sky umbrella, exploring Indonesia’, menjadikan payung sebagai sumber penciptaan karya tari baru. Jika mahasiswa STKW Surabaya tertarik berpartisipasi, mohon diisi lembar kesediaan peserta dan dikirim ke alamat email: matayaheritage@gmail.com, atau dikirim via post ke alamat sekretariat Mataya arts&heritage. Lembar kesediaan peserta paling lambat dikirim ke panitia, paling lambat tanggal 30 Agustus 2016. Semoga festival ini bisa meningkatkan hubungan budaya dua kota – Solo dan Surabaya. Demikian, kami tunggu kabar dari STKW Surabaya. Terima kasih Proposal bisa diunduh di link dropbox di bawah ini, klik atau copy-paste di browser: https://www.dropbox.com/s/xhbtx997p7rm5qf/proposal%20fpi%202016%20%28TA%29.pdf?dl=0 [su_list icon=”icon: file-text”] formulir festival payung 2016 [/su_list]
ABSTRAK Tari Gambuh Tameng merupakan tari pembuka pertunjukan Topeng Dalang yang berkembang di wilayah Slopeng, Kabupaten Sumenep-Madura, penari tari Gambuh ditarikan dua orang laki-laki berpasangan mengenakan busana keprajuritan memgang properti sebilah keris ditangan kanan, tangan kiri memegang tameng. Gerak tari bersumber gerak silat dan struktur penyajian tari terdiri dari: 1) Bagian awal menggambarkan persiapan prajurit maju perang, gending Ayak slendro 5 irama 2 2) Bagian tengah menggambarkan ketrampilan prajurit menggunakan keris dan tameng, gending yang Gunung Sari slendro irama 1. 3) Bagian akhir menggambarkan prajurit mengahkiri latihan, gending Ayak slendro 5 irama 2. Penyajian tari Gambuh Tameng tidak terikat dengan arena pentas, pertunjukan bisa dilakukan di pendopo, halaman rumah, dan panggung proscenium. Estetika tari Gambuh Tameng gaya Slopeng memiliki spesifik gerak terdapat pada bentuk adeg/tanjak, nonggul (angkatan kaki), gobesan (cek gulu), jinjitan, gejugan. Pola-pola gerak terbentuk motif gagah halus. Kata kunci : pertunjukan tari Gambuh Tameng PENDAHULUAN Kabupaten Sumenep banyak menyimpan pesona kekayaan budaya yang unik dan mempunyai corak bermacam-macam bentuknya salah satu upacara adati yakni, tradisi bersih Desa (rokat dhisa), sedekah laut (rokat tase’), rokat buju’ (sedekah bumi dimakam keramat orang Bali bernama Ki Anggo Suto penemu ladang garam di daerah Kali Anget-Sumenep), rokat ujan (upacara permohonan hujan dengan atraksi adu permainan cambuk dari batang lidi pohon pandan alas yang berduri dan dicambukan kebagian badan pesertanya). Bentuk pertunjukan seni tersebut bernafaskan mistis-sinkritis dan merupakan sisa-sisa pertunjukan lama yang tergolong kepercayaan lama dan bersifat phanteisme yang melekat dengan kepercayaan Islam yang monotheis. Walaupun sebagian besar masyarakat Madura beragama Islam, tetapi upacara-upacara yang berbau mistis-sinkretis merupakan warisan tradisi dan masyarakat melestarikannya. “Dalam keyakinan Islam, orang yang sudah meninggal duniah rohnya tetap hidup dan tinggal sementaradi alam kubur atau alam barzah, sebagai alam antara sebelum memasuki alam akhirat tanpa kecuali. Sementara pemahaman kemudian orang Jawa, arwah-arwah Orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkeliaran sekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam (pesareyan). Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu dating mengujungi kekediaman anak keturunanya. Roh-roh yang baik yang bukan nenek moyang atau kerabat disebut Dhanyang dan mengawasi seluruh masyarakat desa” (Umar Junus: 1981 : 24). Di Samping kesenian juga dalam ritus- ritus yang berkembang di masyarakat yang masih menganggap bahwa alam, lingkungan dan isinya ada yang menjaga dan melindunginya, yakni kekuatan adi kodrati. Agar terhindar kekuatan unsur-unsur negatif, jahat, ketakutan, malapetaka, dan bencana. Masyarakat perlu mengadakan upacara ruwatan, sedekah bumi, bersih desa dan lain sebagainya. Dengan menyelenggarakan upacara ruwatan sebagai sarana penolak balak maka masyarakat menanggap Topeng Dalang sebagai saran hiburan agar terbebas dari kekuatan negatif yang melingkupinya. Di samping pertunjukan Topeng Dalang kesenian tradisional berupa Ludruk, Sandhur, Tayub, dan pertunjukan tari Gambuh merupakan pertunjukan yang sangat dinantikan oleh masyarakat dan merupakan sarana kesenian hiburan pelepas lelah. II. Asal-usul tari Gambuh dan perkembangannya Keberadaan asal usul tari Gambuh di Sumenep ditengarai ada pada abad ke XV-XVI tari Gambuh ditarikan oleh puri-putri keraton Sumenep untuk menyambut para tamu kerajaan, properti yang digunakan dua buah keris, satu keris di tangan kanan dan satunya lagi di letakkan pada gelung rambut dalam bentuk taji kecil, sedangkan tangan kiri memegang perisai sebagai penolak senjata, (Prawiradiningrat, 1986:62). Perkembangan selanjutnya pada abad ke XVIII tari Gambuh dipertunjukan kepada pembesar karaton Sumenep dan berfungsi sebagai pembuka acara “Bhedhalan” yakni: pertemuan agung yang dihadiri pembesar kerajaan tari Gambuh ditarikan oleh sepasang penari laki menggunakan properti keris dan tameng. Selain itu ditampilkan pula kesenian Tayub dan pertunjukan Topeng Dalang. (Soelarto : 7). Tari Gambuh Tameng merupakan tari tradisi yang berkembang di Sumenep kini keberadaannya masih dapat dijumpai di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. Tari Gambuh Tameng di dalam pertunjukan Topeng Dalang Rukun Perawas merupakan tari pembuka (tarian ekstra). Penari tari Gambuh memakai busana celana sebatas lutut berwarna merah atau hitam, tidak menggenakan baju, memakai kain rapek berwarna-warni, setagen, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan dhestar/odeng. Ditarikan oleh dua penari laki-laki berpasangan tangan kanan membawa senjata sebuah keris dan tangan kiri memegang tameng di tengahnya terdapat kaca cermin berdiameter sekitar 20 cm kegunaaan dalam tari untuk menangkis senjata, pola-pola gerak yang ditampilkan dalam koreografi tari bersumber pada gerak silat Madura. Tari Gambuh Rangsang di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, di era tahun 1970 digunakan untuk pembuka pertunjukan Topeng Dalang tari Gambuh Rangsang ditarikan sepasang penari laki-laki mengambarkan ungkapan prajurit yang sedang berhias maju perang. Karena pertunjukan Topeng Dalang tersebut kini punah kesenian tari Gambuh Rangsang pelestariannya dilanjutkan Asnawiyanto dan Mao anak alamarhum Juni empu tari Gambuh rangsang. Tahun 1990, muncul jenis tari Gambuh Keris hasil kreativitas Jamal Pranotokusumo mantan kasi kebudayaan Kabupaten Pamekasan, kepopuleran tari Gambuh Keris mendapat apresiasi masyarakat, seniman, maupun penjabat pemerintah. Ceremonial-ceremonial yang diselenggarakan oleh pemerintah seperti pariwisata, kunjungan tamu dinas, dan perhelatan-perhelatan yang digelar oleh masyarakat, selalu menampilkan pertunjukan tari Gambuh sebagai tari pembuka. Kemudian tahun 2000 muncul pertunjukan tari Gambuh yang dianggap paling akhir adalah tari Gambuh Pamungkas ciptaan Akhmad Darus. Kemunculan tari Gambuh Pamungkas membawa suasana semarak kekaryaan tari Gambuh terutama perubahan dalam bentuk koreografi, musik tari, pola lantai, tata rias, tata busana, dan tata pentas panggung. Pertunjukan tari Gambuh Pamungkas penyajiannya ditarikan oleh empat penari laki-laki berpasangan atau lebih memakai busana dan tata rias keparjuritan, sumber-sumber gerak koreografi tari Gambuh Pamungkas bersumber gerak tari Gambuh Tameng dan tari Topeng. Terkait dengan arti Gambuh beberapa sumber menerangkan Gambuh berasal dari kata kambuh yang memiliki arti membangkitkan semangat kembali (Poerwadarminta: 93: 2005). Sedangkan menurut Akhmad Darus kata Gambuh berasal dari tembang mamaca yang memiliki arti mengatasi sesuatu dengan semangat. Dan bila dikaitkan dengan pertunjukan tari Gambuh tari yang menggambarkan semangat prajurit sigap berlatih ketrampilan perang. III. Struktur pertunjukan tari Gambuh Tameng Pertunjukan tari Gambuh Tameng memiliki struktur koreografi terdiri bagian awal, tengah dan akhir. 1. Bagian awal mengungkapkan prajurit persiapan maju perang didahului dengan permohonan kepada Tuhan agar selama latihan diberikan ketabahan 2. Bagian tengah mengungkapkan prajurit melakukan latihan perang menggunakan tameng dan keris 3. Bagian akhir mengungkapkan prajurit menang perang. Gending pengiring tari Gambuh Tameng yang digunakan adalah karawitan berlaras slendro terdiri tiga komposisi gending antara lain: 1. Gending
TARI RUSO MENGANGKAT HAKIKAT SEORANG PEREMPUAN SEUTUHNYA Tari Roso garapan dan karya Siska Dona Miasari, mahasiswa jurusan Tari STKW Surabaya telah membuat penonton tercengang, karya garapan tari tersebut berupaya untuk mengangkat martabat dan mengangkat hakikat perempuan seutuhnya, karya tersebut sudah di tampilkan di berbagai tempat dan acara yang diselenggarakan di berbagai daerah. Dalam konsep garap tari tersebut Dona mempunyai gagasan tentang perempuan. Penggarapan karya tari ini terinspirasi oleh kisah manusia yang mana di dalam era globalisasi saat ini, banyak perempuan yang bekerja seperti tidak biasanya, Wanita dulu hanya kerja sebagai ibu rumah tangga yang sehari-harinya masak, mencuci dan lainya sekarang banyak yang bekerja untuk menghidupi keluarganya, karena kondisi lingkungan sosial dan ekonomi yang tidak terpenuhi. Adapun kisah hidup manusia yang dapat diceritakan secara ringkas, seseorang wanita yang sedang bekerja dibangunan proyek, Sedangkan dulu tidak ada wanita yang bekerja ditempat tersebut, Sekarang tidak jarang wanita yang bekerja di daerah proyek bangunan, seperti yang di amati yaitu ibu Martiah beliau adalah pekerja proyek bangunan , disini lain ibu Martiah berprofesi sebagai pembantu tukang bangunan, beliau tugasnya seperti membuat campuran pasir dan semen yang biasanya disebut dengah luluh kemudian dibawa ketempat pengecoran, membawa bata, bahkan naik turun tangga untuk bangunan bertingkat maupun perlengkapan lainya beliau dengaan semangat bekerja tanpa mengenal lelah. bu Martiah ini berumur kurang lebih 45 tahun, beliau terjun langsung dalam proyek bangunan ini sudah mencapai kurang lebih 15 tahun. Alasannya untuk jadi pembantu proyek karena tidak ada pekerjaan lain, untuk makan untuk sehari-harinya. Beliau sangat rajin bekerja demi menghidupi keluarga dengan penuh semangat dan antusias beliau berangkat kerja dengan jalan kaki setiap harinya. Selama dalam pekerjaanya bu martiah tidak mengalami kesenjangan dengan teman lelakinya mereka semua seperti sudah biasa dan tidak asing bahkan sekali-sekali obrolan lucu dilontarakan kepada temen laki-laki yang sama-sama kerja dalam proyek tersebut. Tetapi walaupun di dalam pekerjaan sama antara wanita dan pria, upah yang diberikan tidak sama lebih banyak pria dari pada wanita. Itu yang menjadikan kesenjangan anatara pria dan wanita. Perbedaan itu dikarenakan perempuan tidak bisa sepenuhnya melakukan pekerjaan seperti pria, misalnya bekerja ditempat yang susah seperti memanjat, bergelantungan dsb, Itu yang menjadikan perbedaaan anatara gaji perempuan dengan lelaki di proyek tersebut. Sepulang dari tempat kerjanya ibu tidak lupa sebagai seorang wanita yang sudah mempunyai suami kodrat wanita tetap melayani suami untuk memasak,mencuci dsb. Atas dasar kisah tersebut Dona tertarik untuk mengangkat menjadi karya tari. menariknya terletak pada sifat yang tidak umum pada kisah tersebut. Ide atau gagasan ini di wujudkan menjadi sebuah karya tari yang berjudul Ruso, Karya ini menyampaikan kebenaran-kebenaran bahwa perempuan tidak hanya sebagai “kanca wingking” dalam kehidupan sehari-hari, namun ia memiliki peran penting dan bahkan menjadi dominasi dalam kehidupan. Wanita menjadi manusia seutuhnya maskulin, anggun dan perkasa. Dan memaparkan sejati perempuan dalam mengarungi kehidupan di dunia, dimana perempuan diposisikan menjadi seorang manusia yang unggul, lemah lembut, penuh tanggung jawab dan memiliki keberanian dalam menjawab tantangan jaman tanpa mengubah hakikatnya menjadi seorang perempuan seutuhnya. Koreografer kelahiran Blitar tersebut mengungkapkan bahwa pada dasarnya karya tari tersebut bukan hanya asal menggarap, tetapi Dona terinspirasi dari berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari termasuk terinspirasi dari sosok wanita bernama Bu Martiah . Ide awal untuk menciptakan karya tari ini, berangkat dari cerita seorang perempuan yang benama ibu martiah. dan Dona mencoba merasakan serta menelusuri rentetan lika-liku kehidupan ibu Martiah yang berprofesi sebagai kuli bangunan. Yang paling menarik adalah tentang kepribadian ibu Martiah Yang selalu sabar dan tawakal dalam menjalani kehidupannya sehingga mampu menjadi pribadi yang yang utuh dan kuat. Karya tari “RUSO” ini di wujudkan dalam bentuk tari kelompok karakter tunggal. Yang dimaksud tari kelompok karakter tunggal adalah tarian yang berusaha mewujudkan karakter seseorang dengan menggunakan penari lebih dari 1 orang. Disini menampilkan dramatikal batiniah yang diwujudkan dalam alur suasana untuk menghadirkan rasa-rasa yang telah dikonseptualkan. Sebagaimana hasil observasi dan penghayatan terhadap kehidupan Martiah,serta mendapatkan gambaran tentang karakteristiknya. Karya ini mendobrak sisi-sisi kewanitaan yang perkasa dan maskulin. Karya Tari RUSO sudah ditampilkan di berbagai tempat yaitu, dalam ujian komposisi dan koreografi di STKW Surabaya, Di Gedung Cak Durasim-Taman Budaya Jawa Timur, di Royal Plasa Surabaya, dan acara 24 jam menari dalam World Dance Day 2015 di Institut Seni Indonesia Surakarta.
Kreativitas untuk mempertahankan pertunjukan Topeng Dhalang. Oleh : Peni Prihantini, S.Sn Sumenep terletak di ujung timur pulau Madura merupakan pusat kerajaan Madura dimasa lalu. Dalam catatan sejarah nama Sumenep lebih dikenal dengam sebutan Songenep,yang secara etimologis mempunyai pengertian (1) lembah bekas endapan yang tenang (2) lembah endapan yang sejuk dan rindang,(3) cakupan atau lembah tenang atau pelabuhan yang tenang. Sebagai bekas pusat pemerintahan di masa lalu di kabupaten Sumenep terdapat banyak bangunan kuno dengan gaya arsitektur campuran antara Jawa, Cina, Eropa, dan Arab yang sampai saat ini terpelihara dengan baik, seperti keraton Sumenep,Masjid Jamiq dan makam keluarga raja asta tinggi. Serta beberapa bentuk kesenian diantaranya: tari Gambuh Keris, tari Muang Sangkal, dan pertunjukan Topeng Dhalang. (Potensi Pariwisata, 62:213). Semua para pemainnya mengenakan topeng, terkecuali peran dhalang dan pengrawit. Dalam satu pementasan pemainnya tidak kurang dari 15 penari laki-laki, masing-masing memegang peran tertentu sesuai dengan tokoh-tokoh di dalam lakon yang ditampilkan. Adapun lakon yang diceritakan berkisar epos Ramayana dan Mahabarata, disamping lakon carangan hasil kreatif seniman topeng. Pada mulanya seni pertunjukan ini tersebar di pulau Madura dan sepanjang pantai utara Jawa Timur, ditepian selat Madura di tempat mana masyarakat Madura bermukim sebagai pendatang dipulau Jawa terutama dikota antara Situbondo dan bondowoso. Karena pendukung serta pemainya banyak sudah tua dan tidak melakukan regenerasi, maka kesenian tadi banyak mengalami kepunahan. . Seni pertunjukan Topeng Dhalang ini bersifat dramatik sehingga dapat digolongkan dalam jenis drama tari atau umumnya disebut wayang topeng. Pementasannya diselenggarakan di arena dengan panggung atau pendapa,di mana salah satu sisinya tertutup oleh tirai sebagai latar belakang. Fungsi dalang sangat penting yaitu bahwa seluruh dialog dilakukan, maka tirai latar belakang tadi diberi jendela tempat sang dalang mengatur jalannya pementasan. Pementasannya berlangsung semalam suntuk dimulai pukul 21.00 sampai jam 05.00. Tatacara pakelirannya sesuai sekali dengan pakeliran yang berlaku pada wayang kulit,dialognya menggunakan bahasa Madura. Perkembangan Topeng Dhalang Sumenep Topeng Dhalang merupakan sebuah kesenian yang sedikit banyak mendapat pengaruh dari kesenian Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Malang dan keraton Yogyakarta yaitu Wayang Topeng Malangan dan Wayang Topeng Yogyakarta. Namun pada abad ke-18, setelah masuk dalam lingkungan keratin Sumenep kesenian ini berakulturasi dengan lingkungan dan kebudayaan setempat. Hal ini berpengaruh terhadap struktur pertunjukannya seperti bentuk topeng, gerakan tari, busana serta pementasannya. Pada masa keraton pertujukan topeng hanya dipentaskan pada waktu tertentu seperti upacara keagamaan atau pesta pernikahan anggota keraton. Pada abad ke-19 fungsi keraton sudah tidak nampak atau sudah jarang dipentaskan lagi karena sudah tidak menjadi pusat kesenian, namun di masyarakat tetap ada atau masih dipentaskan di masyarakat sehingga kesenian ini tetap bertahan sampai sekarang. Di Sumenep terdapat rombongan Topeng Dhalang yang tertua yaitu Muncarare dan Si banjir yang berdiri pada tahun 1817. Tetapi saat ini kedua rombongan tersebut sudah tidak aktif lagi[1] Pada tahun 1920 berdiri rombongan topeng bernama Rukun Perawas yang didirikan oleh bapak Juserep dan sebagai pemimpinya bapak Merto (50 tahun). Sampai sekarang masih memimpin. Rombongan ini berada di desa Slopeng kecamatan Dasuk. Perkembangan Topeng Dhalang Sumenep Tahun 1992-2010 Tahun 1992 kesenian Topeng Dhalang mengalami masa kejayaan yang disebabkan oleh banyaknya undangan untuk menghadiri acara festival di luar kota dan luar negeri. Hal ini menyebabkan kesenian ini semakin dikenal oleh masyarakat, sehingga kesenian ini banyak dinikmati oleh masyarakat. Kesenian Topeng Dhalang akhirnya menjadi kesenian tradisional khas Madura, khususnya di Sumenep. Di kabupaten Sumenep kesenian ini masih banyak berkembang khususnya di kecamatan Dasuk, Gapura, dan Kalianget. Salah satu desa yang terkenal aktif melakukan pertunjukan seni ini yaitu di desa Slopeng, Kecamatan Dasuk. Di desa ini terdapat rombongan yang populer di masyarakat Slopeng untuk diundang sebagai penyaji pertunjukan Topeng Dhalang dalam hajatan sunatan maupun pernikahan. Rombongan ini bernama Rukun Perawas. Bapak Syrianto, selaku seniman dari rombongan Rukun Pewaras di Desa Slopeng, mengatakan bahwa dari semua rombongan yang masih eksis sampai masa ini, rombongan Rukun Perawas merupakan rombongan Topeng Dhalang yang tertua dan masih aktif melakukan pementasan di masyarakat. Pada awalnya kelompok ini berdiri dengan nama Rukun Perawas yang mempunyai arti memberikan sebuah peringatan (hidup waspada)[2] Dalam perkembangannya rombongan Rukun Perawas yang dipimpin oleh bapak Merto ini sangat digemari oleh masyarakat Madura karena muncul karakter tokoh punakawan yang memainkan peran lebih besar dan bahkan sering bersahutan atau berinteraksi langsung dengan penontonnya. Walaupun rombongan ini mempunyai adegan yang kurang halus dalam berakting tetapi gerak tarinya lebih dinamis, sehingga tradisi keraton ini tetap dapat dihidupkan kembali. Dengan demikian tradisi yang berasal dari karaton ini masih dapat berkembang di masyarakat sampai saat ini[3] Rombongan lain yang sejaman dengan Rukun Perawas yang juga masih aktif dalam kesenian ini bernama Sekar Utomo yang mempunyai arti bunga utama. Rombongan Sekar Utomo ini dipimpin oleh Bapak Sasmito (65 tahun) dari Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget. Rombongan ini tidak diketahui sejak kapan berdirinya, tetapi rombongan ini masih eksis sampai masa ini. Rombongan ini berdiri dengan tujuan untuk melayani permintaan atau menerima undangan dari masyarakat. Namun, dalam perkembangan pertunjukannya hanya di wilayah Madura saja tidak pernah pentas ke luar Madura. Rombongan ini tidak kalah dengan rombongan yang lainnya karena pertunjukannya juga banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat Sumenep. Rombongan Sekar Utomo mempunyai gaya bahasa yang halus sehingga penonton merasa nyaman untuk melihat pertunjukannya. Melihat animo dan minat masyarakat ketika menikmati kesenian ini dapat menumbuhkan pemain-pemain atau seniman yang handal dalam menekuni kesenian ini. kepedulian beberapa pendiri grup kesenian ini, mampu menumbuhkan minat dan bakat para pemain di setiap rombongan untuk melestarikan kesenian ini. Hal itu menyebabkan pemerintah turun tangan untuk membentuk organisasi Topeng Dhalang yang para pemainnya diambil khusus dari seniman yang handal dalam setiap rombongan kesenian tersebut. Rombongan yang dibentuk oleh pemerintah ini bernama Sinar Sumekar berada di Desa Gapura Kecamatan Gapura yang dipimpin oleh Bapak Iskandar (60 tahun). Rombongan ini hanya pentas untuk kebutuhan tertentu saja, misalnya undangan resmi dari luar kota untuk mewakili kabupaten Sumenep. Jadi rombongan ini tidak melayani panggilan atau menerima undangan dari masyarakat karena khusus dibentuk untuk menghadiri undangan pemerintah kabupaten Sumenep.[4] Namun seiring dengan perkembangannya, salah satu keturunan dari pendiri Rukun Perawas memutuskan untuk membentuk kelompok baru dengan nama Rukun Pewaras yang erdiri sejak tahun 1995 yang sekarang dipimpin oleh bapak Adi Sucipto (50 tahun).
STKW Surabaya merupakan satu-satunya kampus seni di Jawa Timur yang menjaga dan melestarikan kesenian Jawa Timur dengan mengandalkan local genius.