Publikasi

Satu Panggung dengan Maestro, Kolaborasi Dosen-Mahasiswa STKW Siap Guncang Surakarta di GEMFEST 2025

Kualitas pendidikan seni di Jawa Timur kembali menorehkan prestasi membanggakan. Delegasi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang tergabung dalam komunitas musik kreatif Gong Angin, terpilih secara resmi untuk mengisi line-up utama dalam festival musik etnik bertaraf internasional, Gamelan Ethnic Music Festival (GEMFEST) 2025. Mengusung tema “Voice of Resonance”, keberangkatan tim ini membawa energi positif dan semangat kolaborasi yang kuat dari Kota Pahlawan. Gong Angin bukan sekadar grup musik pertunjukan biasa, melainkan sebuah “laboratorium berjalan” yang didirikan oleh Catur Fredy Wiyogo, M.Sn sejak 2017. Di sinilah terjadi sinergi luar biasa di mana para Dosen—Catur Fredy Wiyogo, M.Sn dan Rangga Adytia R ,S.Sn—bermain setara dalam satu harmoni dengan para alumni (Joko Nugroho, S.Sn, Ilham Bahiy, S.Sn, Moch Anil Syidqi,S.Sn) dan mahasiswa aktif STKW. Kolaborasi lintas generasi ini menghasilkan komposisi musik yang matang. Di atas panggung, mereka memadukan pakem luhur tradisi karawitan dengan instrumen modern seperti biola, saksofon, dan gitar bas, menciptakan eksperimen bunyi yang segar dan harmonis. Salah satu daya tarik utama yang akan mereka tampilkan adalah penggunaan instrumen unik hasil ciptaan sendiri. Berangkat dari kreativitas mengatasi keterbatasan pemain tiup di daerahnya, mereka menciptakan alat musik berbasis tabung angin. Instrumen seperti Sarling (Saron Suling), Demling (Demung Suling), Slenting (Slenthem Suling), hingga Angkling (Angklung Suling) dimainkan dengan teknik tekanan tangan, bukan ditiup. Inovasi ini memungkinkan siapa saja memainkannya tanpa perlu latar belakang khusus sebagai peniup suling, namun tetap menghasilkan karakter bunyi yang melodius. Penonton di GEMFEST nanti akan disuguhkan paduan suara resonansi yang kaya. Karya-karya Gong Angin memadukan eksplorasi bunyi dan harmoni overtone dengan akar tradisi. Penampilan ini diperkuat oleh formasi lengkap mahasiswa berprestasi seperti Noval Ardiansyah, Satria Isma Rizky,M. Faisal Ramadhan, Zulfikri Eka Yahya, M. Khoirun Ni’am, Bintang Wicaksono, dan Enggal Mijiling Yangkara. Tata panggung dan pencahayaan yang megah semakin mempertegas nuansa magis dari karya mereka. Kehadiran 12 personel lengkap Gong Angin di Surakarta pada 22-23 Agustus 2025 bukan hanya sekadar partisipasi. Ini adalah pembuktian bahwa kampus seni di Surabaya mampu melahirkan inovator-inovator musik tradisi yang kompetitif dan siap bersanding di panggung besar nasional bersama nama-nama besar lainnya di Pelataran Balaikota Surakarta.

Fokus Benahi Infrastruktur dan Sarpras, Hari Kedua Sarasehan STKW Surabaya Matangkan Program Kerja Unit

MALANG (13/12/2025) – Memasuki hari kedua rangkaian “Sarasehan Evaluasi Kinerja Unit”, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya langsung tancap gas membahas isu paling krusial bagi keberlangsungan operasional kampus: infrastruktur dan program kerja riil. Bertempat di Whiz Prime Hotel Malang, agenda hari ini menjadi forum terbuka antara pihak Yayasan, Pimpinan STKW, dan seluruh Dosen untuk merumuskan langkah konkret pengembangan sarana dan prasarana (Sarpras) kampus kedepan. Sesi dibuka dengan arahan strategis dari dua pimpinan tertinggi. Ketua STKW Surabaya, Dr. H. Jarianto, M.Si., menekankan bahwa pemahaman regulasi di hari pertama harus diterjemahkan menjadi program kerja yang terukur. Di sebelahnya, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Wilwatikta, Bapak Dr. Aribowo, Drs., MS, memberikan komitmen penuh yayasan untuk mendukung pembenahan fasilitas demi kenyamanan akademik. “Kita tidak hanya bicara soal kurikulum, tapi juga ‘rumah’ tempat kita berkarya. Infrastruktur yang memadai adalah tulang punggung bagi lahirnya karya seni yang berkualitas,” ujar Dr. Aribowo dalam pembukaannya.     Diskusi kemudian mengerucut pada bedah Program Kerja Unit. Pihak yayasan memaparkan grand design pengembangan kampus yang mencakup perbaikan ruang kelas, studio seni, hingga fasilitas pendukung digital. Paparan ini menjadi pemantik diskusi yang hangat mengenai prioritas pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. Forum berjalan sangat dinamis. Tidak hanya satu arah, terjadi dialog interaktif di mana perwakilan dosen menyampaikan aspirasi mengenai kebutuhan mendesak di lapangan. Dr. Aribowo terlihat turun langsung berdialog, mendengarkan keluhan dan masukan terkait kondisi alat-alat penunjang praktik seni yang perlu peremajaan. Dalam sesi pembahasan Sarana dan Prasarana (Sarpras), forum dibagi menjadi diskusi-diskusi fokus. Para dosen membedah inventaris unit masing-masing. Isu mengenai modernisasi alat laboratorium seni dan digitalisasi sistem administrasi menjadi topik yang paling banyak mendapat sorotan untuk segera direalisasikan dalam tahun anggaran mendatang. Meskipun pembahasannya berat dan teknis, suasana kekeluargaan tetap terasa kental. Para dosen terlihat antusias menyambut rencana perbaikan ini. Adanya “lampu hijau” dari yayasan terkait dukungan infrastruktur memberikan optimisme baru bagi para pengajar untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan kepada mahasiswa. Menjelang akhir sesi, pembahasan masuk ke ranah teknis eksekusi. Setiap unit kerja diminta untuk menyusun linimasa (timeline) yang ketat agar rencana perbaikan infrastruktur ini tidak mangkrak. Keseriusan tampak di wajah para peserta, menyadari bahwa tanggung jawab tata kelola kampus ada di pundak bersama. Agenda hari kedua ini ditutup dengan kesepakatan bersama antara Yayasan, Pimpinan STKW, dan Dosen. Sarasehan di Malang ini diharapkan bukan sekadar wacana, melainkan titik balik bagi STKW Surabaya untuk memiliki wajah baru: kampus seni dengan tata kelola modern dan infrastruktur yang mumpuni.  

Respon Cepat Regulasi Baru, STKW Surabaya Bedah Permendikbudristek No. 39 Tahun 2025

MALANG (12/12/2025) – Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi seni. Bertempat di Whiz Prime Hotel Malang, STKW menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk “Sarasehan Evaluasi Kinerja Unit-Unit dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Tata Kelola Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya”. Agenda ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan tertinggi, yakni Ketua STKW Surabaya, Dr. H. Jarianto, M.Si., serta Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Wilwatikta Surabaya, Bapak Dr. Aribowo, Drs., MS. Kehadiran beliau berdua beserta segenap Bapak dan Ibu Dosen STKW menegaskan keseriusan institusi dalam merespons dinamika aturan pendidikan nasional. Fokus utama pada hari pertama sarasehan adalah bedah regulasi terbaru, yakni Sosialisasi Peraturan Kemendikbudristek No. 39 Tahun 2025. Untuk mengupas tuntas aturan ini, STKW menghadirkan narasumber ahli, Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. Dalam paparannya, Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. mengajak seluruh civitas akademika STKW untuk mengubah pola pikir (mindset) tata kelola kampus. Beliau menekankan bahwa peraturan baru ini menuntut perguruan tinggi untuk lebih fleksibel namun tetap akuntabel. Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. merinci lima poin krusial dalam Permendikbudristek No. 39 Tahun 2025 yang wajib dipahami oleh seluruh dosen dan unit kerja. Poin pertama adalah Fokus Utama: Standar Mutu Baru. Standar mutu kini tidak lagi hanya berkutat pada kelengkapan dokumen administratif, melainkan berorientasi pada luaran dan dampak riil pendidikan. Hal ini berkaitan erat dengan poin kedua, yaitu Status Akreditasi Baru. STKW didorong untuk memahami mekanisme akreditasi anyar ini agar status institusi tetap unggul dan dipercaya masyarakat. Angin segar bagi pendidikan tinggi seni datang pada pembahasan poin ketiga: Fleksibilitas Kurikulum & Tugas Akhir. Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn menjelaskan bahwa aturan ini memberikan kemerdekaan bagi kampus seni seperti STKW. “Bentuk tugas akhir kini tidak harus skripsi. Mahasiswa seni bisa lulus dengan karya, proyek, atau prototipe. Ini adalah peluang emas bagi STKW untuk semakin menonjolkan karakter kekaryaannya tanpa terbelenggu format kaku,” jelasnya. Pemahaman mendalam mengenai regulasi pada hari pertama ini menjadi pondasi penting untuk agenda hari kedua, yang akan difokuskan pada Pembahasan Program Kerja Unit. Dengan bekal pemahaman Permendikbudristek No. 39/2025 ini, diharapkan program kerja yang disusun oleh unit-unit di STKW Surabaya tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi langkah taktis menuju tata kelola kampus seni yang modern dan berdaya saing.

Wanita Anime: Jericho Riupassa, Penyandang Disabilitas yang Berkarya Tanpa Batas

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya kembali membuktikan bahwa seni adalah ruang tanpa batas. Hal ini ditunjukkan oleh Jericho Riupassa, mahasiswa STKW penyandang disabilitas (tuna rungu dan tuna wicara) yang sukses menggelar pameran tunggal (solo exhibition) bertajuk “Wanita Anime”. Keterbatasan fisik tidak menghalangi Jericho untuk mengekspresikan gagasan dan imajinasinya melalui seni rupa digital. Dengan penuh semangat, ia menyajikan 12 karya lukis digital yang menampilkan karakter wanita dalam berbagai ekspresi, sifat, dan peran. Dalam karyanya, Jericho menggambarkan sosok wanita dengan beragam karakter: lembut, penyayang, penuh empati, namun juga kuat, ambisius, dan penuh semangat. Inspirasi ini dituangkan dalam gaya Anime Pop Art Modern, yang akrab dengan generasi muda masa kini. Menurut Jericho, karakter wanita begitu unik karena memiliki kekuatan dan kelemahan sekaligus, namun tetap menjadi pribadi yang ekspresif dan inspiratif. Melalui karya digitalnya, ia berusaha menyampaikan pesan bahwa wanita adalah sosok istimewa yang memancarkan keindahan, keteguhan, dan keberanian. Meski menghadapi keterbatasan dalam komunikasi verbal, Jericho membuktikan bahwa seni adalah bahasa universal. Dengan dukungan teknologi digital, ia bebas menyalurkan hobinya menggambar kapan pun dan di mana pun. Karyanya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Justru, Jericho menunjukkan bahwa seni bisa menjadi medium yang menyatukan perbedaan, menginspirasi, dan membuka ruang dialog lintas batas.

Exilium: Tentang Rumah, Keterasingan, dan Kejujuran Emosional

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya kembali menunjukkan kiprah mahasiswanya di dunia seni. Abdun Jayssyullah Akbar, mahasiswa STKW Surabaya, menghadirkan karya instalasi berjudul “Exilium”, sebuah karya yang mengangkat pengalaman visual dan emosional tentang rumah sebagai ruang paradoksal: tempat perlindungan sekaligus penjara batin. Bertolak dari pengalaman eksistensial tentang keterasingan, Exilium merepresentasikan kondisi manusia yang terusir dari kenyamanan simbolis sebuah “rumah”, meski secara fisik ia masih berdiri utuh. Menggunakan material bekas seperti seng, besi, dan potongan kayu, karya ini menyibak lapisan-lapisan kerusakan sebagai bentuk kejujuran emosional. Rangkaian benda usang tersebut tidak sekadar menampilkan ruang kumuh, tetapi juga menjadi metafora tentang luka, trauma, dan kenangan yang membentuk definisi rumah sesungguhnya. Bertolak dari pengalaman eksistensial tentang keterasingan, Exilium merepresentasikan kondisi manusia yang terusir dari kenyamanan simbolis sebuah “rumah”, meski secara fisik ia masih berdiri utuh. Menggunakan material bekas seperti seng, besi, dan potongan kayu, karya ini menyibak lapisan-lapisan kerusakan sebagai bentuk kejujuran emosional. Rangkaian benda usang tersebut tidak sekadar menampilkan ruang kumuh, tetapi juga menjadi metafora tentang luka, trauma, dan kenangan yang membentuk definisi rumah sesungguhnya.

PRATIGHA DHARMAPATNI: Ketika Dendam Bertemu Kesadaran

Di balik setiap gerakan tari, ada prahara yang bergemuruh dalam jiwa. Malam itu, tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pertunjukan drama batin yang memilukan. Tarian itu bernama “PRATIGHA DHARMAPATNI”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Marcella Lidya Cyntia Dewi Kusdiarto. Marcella tidak hanya menari, ia menceritakan sebuah tragedi. Kisah ini berawal dari kehidupan istana yang megah, yang seketika berubah menjadi lautan kekecewaan bagi seorang Ratu bernama Mahendradatta. Difitnah, disingkirkan, dan dijauhkan dari kekuasaan, Mahendradatta mengadu kepada Dewi Durga, memohon kekuatan untuk menebar kutukan sebagai balas dendam. Melalui gerak tari yang penuh ketegangan, Marcella merepresentasikan pergolakan batin ini. Tarian ini adalah sebuah pertarungan, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di dalam jiwa. Namun, di tengah amarah yang membara, lahirlah kesadaran. “Bahwa dendam tak pernah membawa keadilan, hanya memperpanjang penderitaan.”   “PRATIGHA DHARMAPATNI” adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang konsekuensi dari perasaan yang tidak tersalurkan dan kekuatan dari dendam yang membara. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.

NUNJANG PALANG: Saat Cinta dan Dendam Bersemi di Atas Panggung

Di balik setiap gerakan tari, ada prahara yang bergemuruh dalam jiwa. Malam itu, di panggung tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pertunjukan drama batin yang memilukan. Tarian itu bernama “NUNJANG PALANG”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Dwi Wahyu Bagas Saputra. Dwi Wahyu tidak hanya menari, ia menceritakan sebuah konflik abadi: cinta yang begitu besar namun tak dapat diwujudkan. Kisah ini berawal dari rasa kasih dan sayang yang mendalam, yang kemudian berubah menjadi pengorbanan jati diri. Dwi Wahyu, melalui “NUNJANG PALANG”, menunjukkan kepada kita bagaimana cinta yang terpendam dapat menjadi awal dari dendam dan amarah yang membara. Melalui gerak tari yang penuh ketegangan, ia merepresentasikan pergolakan batin ini. Tarian ini adalah sebuah pertarungan, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di dalam jiwa. “NUNJANG PALANG” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang konsekuensi dari perasaan yang tidak tersalurkan dan kekuatan dari dendam yang membara. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.  

NJARAN: Saat Gerakan Kuda Lincah Mengajarkan Kerja Keras

Di balik setiap hentakan kaki, ada semangat yang tak pernah padam. Di atas panggung sebuah tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Tarian itu bernama “NJARAN”, sebuah mahakarya yang lahir dari visi seorang mahasiswa Zarqun Aura Arinda. Zarqun tidak hanya menari, ia menyuarakan. Terinspirasi dari Kesenian Jaranan Sentherewe Tulungagung, ia merangkai gerakan-gerakan lincah seekor kuda menjadi sebuah metafora yang kuat tentang “kerja keras”. Dalam tarian ini, setiap gerakan koreografi yang kuat dan gesit mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan hidup, kita harus memiliki niat yang kokoh dan usaha yang gigih untuk mencapai tujuan.   “NJARAN” adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Zarqun menunjukkan kepada kita bahwa seni adalah cara terkuat untuk menyampaikan pesan moral, untuk menanamkan semangat pantang menyerah kepada penonton melalui keindahan gerak.

MITHULUNG: Saat Jiwa Penolong Dipermainkan Takdir

Di dalam setiap langkah tari, ada kisah tentang keberanian dan pengkhianatan. Malam itu, tarian bukan hanya sekadar gerakan, melainkan sebuah pertunjukan drama kehidupan yang tragis dan menyentuh. Kisah itu bernama “MITHULUNG”, sebuah mahakarya dari seorang mahasiswa, Moh. Jaenal Arifin. Jaenal tidak hanya menari, ia menghidupkan kembali sebuah dilema. Dilema seorang pendekar sakti yang memiliki kebiasaan mulia: suka menolong sesama. Namun, niat suci itu justru menjadi bumerang. Kebiasaan baiknya dipermainkan dan disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, hingga akhirnya ia terperangkap dan menjadi kambing hitam—mengorbankan perjalanan hidupnya sendiri. Melalui gerak tari yang gagah namun penuh emosi, Jaenal merepresentasikan konflik batin yang dalam ini. Ia menunjukkan kepada kita bahwa kebaikan pun bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak diiringi dengan kewaspadaan. “MITHULUNG” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang nilai-nilai heroik, keteguhan hati, dan juga konsekuensi dari tindakan kita.   Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.

KETAN INTIP: Menganyam Kembali Kenangan dan Warisan Juru Masak

Di dalam setiap hidangan, ada kisah. Di dalam setiap gerakan tari, ada jiwa yang berbicara. Sebuah kisah sederhana namun sarat makna dihidupkan kembali melalui tarian. Kisah itu bernama “KETAN INTIP”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Alfenia Septiani Widyana. Alfenia tidak hanya menari, ia bercerita. Ia membawa kita kembali ke Kampung Dinoyo Surabaya, menemui sosok Mbah Tami, seorang juru masak yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi Ketan Intip. Namun, di balik semangat Mbah Tami, ada kegelisahan. Kegelisahan akan tradisi yang terancam punah, ibarat tali yang disimpul mati, perjuangan yang berakhir karena tidak ada lagi generasi yang mewarisi. Melalui gerak tari yang penuh makna, Alfenia merepresentasikan beban tanggung jawab ini. Gerakan-gerakan yang lembut namun kuat, menganyam kembali kenangan dan harapan Mbah Tami. “KETAN INTIP” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah permohonan, sebuah janji, dan sebuah pengingat bahwa warisan budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai budaya dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk bercerita, untuk menjaga ingatan tetap hidup, dan untuk memberikan suara kepada mereka yang khawatir warisannya akan terlupakan.

Arsip Artikel