Day: December 28, 2015

MAHASISWA STKW MENGIKUTI SEMINAR NASIONAL “MEA”

Kawan… ketahuilah bahwa pada tahun lalu tentunya 14 – 17 November 2014, kami selaku mahasiswa seni STKW Surabaya yang beranggotakan tujuh orang (Dea, Pangayom, Arina, David, Sania, Ayuk, & Kristin) berangkat ke Solo tepatnya ISI Surakarta untuk melaksanakan Seminar Nasional dan Lokakarya dengan tema “Menghadapi MEA dengan Jalan Budaya”. Apa sih MEA?…MEA merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN, dimana ASEAN merupakan Perhimpunan Bangsa- Bangsa Asia Tenggara dan didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok yang diprakarsai oleh 4 Menteri Luar Negeri Negara Asia Tenggara, diantaranya: Indonesia, Malaysia, Thaliand, dan Singapura. Nah, maksud dan tujuan dari perhimpunan tersebut adalah untuk mewujudkan kerjasama dan integrasi di bidang politik, ekonomi, pendidikan dan social budaya, dan di fihak lain sebagai upaya promosi perdamaian dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Maksud kedatangan kami mengikuti Seminar Nasional adalah guna menyambung silaturahmi dengan mahasiswa seluruh Indonesia yang mengikuti seminar nasional ini, karena pada dasarnya diikuti oleh mereka yang menjabat sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus masing-masing. Dengan adanya menjalin hubungan baik inilah maka mempermudah mahasiswa STKW tentunya anggota BEM untuk mengadakan kerjasama dengan mereka-mereka nantinya. Harus disadari bahwasanya kampus seni merupakan kampus yang tidak dapat diartikan bebas tanpa kualitas, justru mahasiswa di kampus seni inilah yang memiliki imajinasi dan sikap kreatif dalam menghadapi segala permasalahannya termasuk untuk menghadapi MEA pada tahun depan nantinya. Kami mendapatkan fasilitas yang baik serta pelayanan yang baik pula dari pihak panitia seminar nasional pada waktu itu. Bagaimana tidak? Kita berangkat bersama-sama menggunakan kereta dan sesampainya di stasiun di jemput oleh panitia seminar nasional guna menuju wisma ISI Surakarta. Di wisma inilah kami mengenal peserta seminar nasional lainnya, karena kami dari STKW tidak tidur dalam satu kamar. Suka duka banyak kami rasakan selama mengikuti seminar nasional dan loka karya ini, tentunya kedisiplinan menjadi hal yang utama. Kami harus makan tepat waktu, dan mengikuti workshop sesuai dengan waktu yang ditentukan. Ada tiga seminar yang yang kami ikuti tentunya berkaitanan dengan MEA, setelah itu kami mengikuti lokakarya dimana dibagi menjadi tiga yaitu tari, musik, dan fashion. Tiga diantara kami mengikuti lokakarya tari dengan materi Teteg yang menceritakan suasana hati tokoh pewayangan pergiwo dan diikuti pula oleh peserta lokakarya dari kampus lainnya. Setelah itu ada musik gamelan yang diikuti pula oleh peserta dari STKW dan tentunya materi yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan materi yang dberikan pada mahasiswa karawitan STKW pada umumnya yaitu cakraningrat, terakhir yaitu fashion dimana sebagian dari kami mengikutinya dengan senang hati karena disini kami diajarkan untuk membuat kostum sendiri dengan motif dan model yang disukai tentunya masih dalam bimbingan tentor yang terkait. Sehingga hasil dari loka karya tersebut dipertunjukkan saat malam ketiga atau lebih tepatnya tanggal 16 November 2015 dengan disaksikan oleh peserta seminar nasional beserta mahasiswa dari ISI Surakarta tentunya. Ada hal terpenting yang dapat kami bawa pulang ke Surabaya yaitu ilmu yang bermanfaat tentunya dengan mengetahui tiga pilar utama yang saling mengikat dan memperkuat dalam ASEAN: ASEAN Political- Security Community, tujuannya membangun hubungan politik dan keamanan ASEAN ke tataran yang lebih tinggi, membangun kawasan yang damai dengan lingkungan mayarakat yang demokratis dan harmonis. ASEAN Economic Community, dengan tujuan untuk mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan, yang merupakan integrasi regional negara- negara anggota di Asia Tenggara. ASEAN Economic Community bermaksud memperkuat integrasi ekonomi dan menjadikan kawasan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi. Hal ini juga bertujuan untuk mempersempit kesenjangan pembangunan di antara negara- negara anggota, untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat warga ASEAN. ASEAN Socio and Cultural Community, yang bertujuan untuk melengkapi dan memperkuat dua komunitas sebelumnya. Memberikan kontribusi bagi terwujudnya ASEAN Community yang berbasis pada masyarakat, mengatisipasi dampak yang timbul sebagai akibat dari integrasi ekonomi, membentuk solidaritas dan persatuan antara bangsa- bangsa ASEAN dengan membentuk identitas budaya bersama, membangun masyarakat yang berbudaya luhur, harmonis, selanjutnya dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan lahiriah dan batiniah.   Oke..sudah tahu kegiatan kami selama mengikuti Seminar Nasional bukan? Banyak cerita yang akan kami paparkan tentunya harus diikuti oleh mahasiswa STKW, selain menambah pengetahuan juga menambah seduluran… iuh, kami mahasiswa kece badai selalu aktif mengikuti kegiatan yang positif dan tentunya rajin kuliah guna target yang ingin dicapai yaitu nilai yang memuaskan dan ilmu yang bermanfaat tentunya dari kesungguhan selama belajar. Ada salah ketik atau kata mohon dimaafkan, karena penulis juga manusia sehingga khilaf pun juga dapat terjadi. Bye… Terakhir dari penulis numpang narsis..cekrik. (dea)

KONSISTEN TERHADAP TEATER

Bekerja dengan iklas, setia berputar dalam pusaran                                            Fuad, itulah nama akrab panggilannya. Pria kelahiran 20 Desember 1973 di kaki Gunung Panderman daerah Kota Batu ini akrab dengan teater sejak masih dibangku SD, keinginan berkesenian yang sangat kuat dengan kondisi yang sarat akan identitas budaya memacu untuk tetap eksis dan konsisten. Liku-liku dan pahit getirnya proses berkesenian pernah membuatnya berubah pikiran untuk menjauh dan tidak bersinggungan lagi dengan dunia seni. Akan tetapi sikap yang diambilnya ini justru membuat jiiwanya kering, hampa dan gelisah. Kekeringan, kehampaan dan gegelisahan jiwa inilah yang menariknya kembali menekuni kesenian. Dengan membentuk sanggar teater “ Alif ” yang kemudian diubah nama menjadi teater “ Air ” ini semakin mengibarkan kiprahnya dalam dunia per-teateran di kota Batu. Cita-citanya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk keluarga dan masyrakat ini terus memacunya untuk bergesekan terhadap lingkungan, ruang dan waktu. Kesadaran terhadap ilmu dan pengetahuan yang selalu berkembang, menghantarkannya untuk meneruskan pendidikan di STKW Surabaya. Pilihan untuk sekolah lagi ini menantang kesungguhannya dalam tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan dan cita-cita. Keinginan yang kuat tak dapat terhalang oleh waktu, jarak tempuh,dan kesibukan, dalam kurun waktu 5 tahun pria ini berhasil menyelesaikan studinya dan di wisuda menyandang gelar Sarjana Seni pada tahun 2012. Gagasan tentang kesenian (seni teater) dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, pada tahun 2011 Mas Fuad berhasil menggalang dan mendeklarasikan Master (Masyarakat Teater) yang dihadiri perwakilan komunitas teater berbagai daerah di Indonesia. Deklarasi ini dilakukan dalam rangka menjalin jaringan persahabatan dan persaudaraan serta sebagai media saling bertukar informasi terhadap perkembangan kesenian khususnya teater. Dari deklarasi Master ini akhirnya terlahir event parade Teater Jatim yang di gelar sampai sekarang setiap tahun pada acara hari teater dunia dan menjadi agenda di kota Batu. Saat ini nama Fuad Dwi Yono, S.Sn sangat populer dikancah perteateran kota Batu. Melihat sepak terjangnya beraktivitas selain sebagai seniman, Fuad juga berprofesi sebagai Guru, pekerja seni Event Orgainizer, serta Pemerhati Anak. Di bidang organisasi Fuad juga tidak kalah ketatnya beraktivitas, sebagai ketua Komunitas Teater Kota Batu, Direktur Teater Air, Ketua LPA Kota Batu, serta Wakil Ketua Dewan Kesenian Kota Batu. Bahkan pada pemilu sebelumnya, Fuad sempat menjadi Calon Legislatif dari partai tertentu walaupun dalam perjalanan waktu masih belum berhasil duduk di lembaga Legislatif Kota Batu. Banyaknya kegiatan Fuad dalam mengembangkan potensi di Kota Batu menjadi barometer keberadaan Fuad di kancah Kesenian, Politik, Sosial, dan sebagainya, bahkan banyak agenda acara yang siap digelar oleh Fuad di Kota Batu tersebut antara lain : Konggres Anak Indonesia, Shotting Film Festifal Jatim, Pentas Teater Tunggal kelilng 3 Kota Batu – Kediri – Gresik, Festifal Internatsional Kampung Tani, ART Island, Carnival Harlah Kota Batu, kegiatan rutin Performance di Ecco Green Park dan BNS Weekend. (marjangkung)

JINGGO ETHNIC JAZZ

Mengusung perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis   Bicara soal musik merupakan hal yang sudah mainstream ditelinga kita bahkan telah menjadi bagian dari hidup. Musik berada dimana saja dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Berbagai jenis musik berkembang pesat di dunia. Setiap Negara maupun daerah memiliki jenis musik yang berbeda-beda, seakan begitu erat dengan kebudayaannya. Jenis musik sangat begitu banyak untuk diperbincangkan dengan berbagai warna, musik popular diantaranya sering kita dengar musik bergenre pop, rock, jazz, blues, hardcore, funk dan sebagainya. Semua jenis musik tersebut tentu memiliki penikmat masing-masing. Musik popular masih jadi bagian yang paling disegani dilingkungan masyarakat masa kini dengan semakin berkembangnya zaman dan banyaknya wadah untuk musik genre ini. Sedangkan musik yang begitu kental dengan budaya di daerahnya merupakan musik tradisional. Setiap orang tentunya memiliki selera masing-masing dalam soal musik. Hanya saja realitasnya penikmat musik tradisi dewasa ini hanya dari lapisan masyarakat tertentu saja. Kalau melihat latar belakang musik tradisi sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat daerah, khususnya di Indonesia yang kaya akan budaya dan berbagai suku bangsanya. Hal ini tidak bisa disalahkan, karena musik sudah mewakili jati diri tiap individu. Dengan realita seperti ini, tentunya sebagai musisi yang produktif dan penikmat musik terus melahirkan ide-idedan gagasan baru. Hal ini tidak menyurutkan para seniman muda untuk berkreatif. Sesuatu yang baru dan segar selalu dihasilkan sebagai jalan keluar. Sedikit awam memang ketika masyarakat mendengar musik dengan bergenre Jazz Ethnik, jenis musik Jazz Ethnic ini lahir dari selera masyarakat terhadap musik tradisi yang sudah mulai meninggalkan dan terkikis untuk dipertahankan. Genre ini mengusung perpaduan antara musik jazz dan musik traditional. Dengan menggunakan permainan gitar, bass, keyboard dan drum diselingi dengan lantunan menarik dari alat musik gamelan merupakan hal yang segar. Perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis ini bisa dijadikan sebagai jalan keluar agar musik tradisi bisa lebih diterima dan tetap eksis di lapisan masyarakat. Di STKW Surabaya sendiri, jenis musik ini mulai dimainkan sekitar tahun 1990 an hingga sekarang oleh mahasiswa jurusan seni musik (pada waktu itu) yang berkolaborasi dengan jurusan Seni Karawitan dan hingga sekarang para mahasiswa jurusan Seni Karawitan tetap mempertahankan perpaduan musik tersebut . Hal ini mendapat sambutan yang baik di setiap kali penampilan. Jazz Ethnik terus bertahan dan berkembang, di lihat dari adanya beberapa festival-festival musik yang diadakan serta mengusung genre ini, salah satunya yaitu Yamaha Mio Matic Fest yang merangkul sebagian besar musisi Jawa Timur dari jenis musik bergenre Jazz, Etnik, Pop maupun Rock. Merupakan suatu kebanggaan pula bahwa grup Jazz Etnik dari STKW Surabaya yang bernamakan JINGGO ETHNIC JAZZ meraih posisi sebagai Runner Up dari event Yamaha Mio Matic Fest. Selain itu pada event-event lain, grup yang memadukan suara dari gamelan Banyuwangi dan musik Jazz ini terus eksis dan berkembang. dengan mengusung Perpaduan musik Pentatonis dan Diatonis ini jenis musik akan semakin segar dengan harapan dapat diterima di tengah masyarakat masa kini, karena semakin minimnya kesadaran masyarakat akan melestarikan musik tradisi. (Bintari)

PENTAS DRAMA

“SEPASANG MERPATI TUA” Sutradara : Agus Samsuri   Naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Sumanto adalah naskah drama realis yang berkisah tentang kehidupan, sosial dan romatisme sepasang orang tua. Dimana dalam kehidupan sosial masyarakat itu penuh dengan permasalahan yang mesti segera diselesaikan. Namun dalam kenyataan, masalah tak kunjung selesai, hal ini dikarenakan ulah para pejabat pemerintahan yang membiarkan masalah-masalah rakyatnya terus menumpuk. Sebagian kecil masalah yang diangkat dalam naskah ini adalah masalah sampah dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang dibawah kolong jembatan. Setelah membaca naskah “Sepasang Merpati Tua”, sutradara menangkap sebuah pesan dan kritik terhadap persoalan-persoalan yang ada dan keinginan untuk menyelesaikan masalah sehingga ada sebuah harapan untuk meraih kesejahteraan hidup, dalam hal ini proses penggarapan tahap awal yang sutradara lakukan adalah interpretasi naskah, kemudian menafsirkan ulang dan melakukan kajian-kajian teori termasuk emosi sutradara dalam memahami kenyataan yang ada di lingkungan sekitar. Atas dasar penafsiran tersebut maka sutradara akan menyajikan drama “Sepasang Merpati Tua” dalam bentuk pementasan drama musikal dan dikemas dalam musikalisasi tradisi jawa tengahan (solo). Sutradara mencoba mengeksplore dan berkreasi lebih dengan memadukan unsur-unsur drama dan musik. Dalam penyutradaraan sebuah pementasan, pendekatan sutradara dalam pementasan “Sepasang Merpati Tua” ini mengikuti daya stilisasi. Dimana kreasi-kreasi baru, eskplorasi bentuk, dan penggalian-penggalian kreativitas yaitu bentuk-bentuk realis ini di modifikasi ulang kedalam suatu sajian seni drama dan musik. Saat lampu panggung mulai menyala nampak setingan interior rumah klasik berbarengan sayup-sayup suara tembang mengalun dari seorang nenek yang sedang menjahit, dimainkan oleh Eldina Nilam Sari yang diringi ilustrasi biola, gender dan kendang mengawali pertunjukan ini. Suasana romantis terbangun dengan munculnya tokoh kakek diamainkan M. Khafid Siswo Utomo. Hayalan tentang pekerjaan yang diinginkan sang kakek dalam menyikapi persoalan lingkungan sosial yang tengah berkembang memicu perdebatan dengan sang nenek sampai emosi sang kakek meluap hingga pingsan. Tangisan sang nenek menyadarkan sang kakek akan kenyataan hidup yang yang sedang dijalaninnya bersama sang nenek bahwa usia mereka sudah diambang maut. Itulah cerita secara singkat pertunjukan “Sepasang Merpati Tua” yang disajikan dalam durasi kurang lebih dua puluh lima menit. Sebagai mahasiswa yang mengambil minat penyutradaraan, Agus Samsuri mengemas sajian pertunjukan yang agak berbeda hampir semua dialog aktornya ditembangkan, sehingga suasana romantis semakin kental terasa. Dan untuk mewujudkan itu Sam panggilan sehari-hari Agus Samsuri berusaha meng-casting mahasiswi Seni Karawitan yang memang punya latar belakang vokal tetembangan serta melatihnya secara intens agar bisa berakting dan membawakan karakter tokoh sesuai dengan yang dia konsepkan. Ada beberapa evaluasi yang disampaikan oleh dosen penguji dalam sajian pementasan ini terutama dalam hal artistik karena pementasan merupakan satu kesatuan artistik, yang mana pementasan yang disutradarai Agus Sam ini sangat condong dengan budaya Jawa tengahan (Jogja – Solo). Apabila merujuk akan visi misi STKW dalam rangka menggali dan mengembangkan seni tradisi lokal Jawa Timur, maka perlu kajian ulang agar supaya pementasan ini benar-benar mengarah pada nafas Jawa Timur. Butuh kerja keras karena teater sebagai program Studi baru di STKW Surabaya dan menjadikan pekerjaan rumah bagi para dosen Teater bagaimana membimbing mahasiswanya sesuai dengan visi dan misi STKW Surabaya. Terlepas dari nafas pementasan, naskah ini memang sangat menarik karena mengangkat romantisme dalam sebuah keluarga yang sukses mengarungi bahtera keluarga sampai usia senja. Penuh kasih sayang saling mengerti dan memahami pasangan langgeng sampai menjadi Kaken-Ninen (kakek-nenek). Keluarga sebagai bentuk kecil masyarakat bisa dijadikan cerminan mayarakat yang lebih luas. Apabila semua keluarga di Indonesia mempunyai pemikiran seperti keluarga “Sepasang Merpati Tua” ini, kehidupan “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo” akan terwujud di negara ini. (marjangkung)

SISI LAIN SOSOK JAMRAN

ALUMNI YANG BERHASIL DI BIDANG USAHA PATUNG DAN KERAJINAN Upaya mengangkat kebudayaan lokal menjadi global   Alumni Seni Rupa STKW ini merupakan salah satu sosok yang berhasil di dunia bisnis, khususnya yang terkait di bidangnya yaitu Seni Rupa. Jamran, sosok satu ini memulai kiprahnya ketika memasuki bangku perkuliahan di jurusan Seni Rupa STKW di tahun 1988. Dengan berlikunya dalam proses perkuliahan yang sampai dia tempuh kurang lebih 20 tahun, Jamran memulai kariernya ketika semasa kuliah, dengan berbekal hasil materi kuliah dia berhasil memulai sepak terjangnya dalam dunia patung, khususnya dalam proses pembuatan patung monumental dan kerajinan-kerajinan yang dia buat. Karya –karya monumental Jamran sudah ada di mana-mana, mulai dari ikut orang sampai dapat order sendiri sudah didapati oleh Jamran seperti monumen Tanjung Perak setinggi 17 meter terletak di depan pintu masuk Tol Tanjung Perak di Surabaya, monumen pahlawan di taman-taman perumahan Pondok Candra – Waru – Sidoarjo, patung karapan sapi di pelabuhan Kamal Madura, Patung Keluarga Berencana di Perbatasan Surabaya-Gresik, Monumen Putri Songgolangit di Kediri juga di Ponorogo, belasan patung singa yang berjejer di alun-alun, perempatan jalan dan di halaman kantor bupati di Ponorogo, serta yang terakhir, Jamran membuat monumental patung singa di Taman Trunojoyo Malang Dengan proses itulah secara tidak langsung bisa menampakkan diri menjadi seorang pematung di Jawa Timur. Kiprah Jamran selain sebagai seorang desainer dan pematung, dia juga mempunyai usaha kerajinan, khususnya kerajinan patung. banyak souvenir-souevenir yang dia buat lebih banyak bernuansa budaya tradisional walaupun juga tidak menutup kemungkinan souvenir-souvenir yang sedikit modern. Miniatur reog ponorogo, kapal selam, patung Bung Karno, karapan sapi dan sebagainya. Sempat juga membuat patung Iron Man dengan ukuran yang besar. Hal itu juga membuat Jamran selalu meningkatkan produktivitasnya untuk selalu berkarya. Disisi lain sang istri Ida Sulistyawati juga mendukung karier suaminya, Ida yang seorang guru kesenian di kota Kediri sepenuhnya mendukung profesi yang dikembangkan oleh sang suami. Dalam karier organisasi Jamran menjadi Ketua Dewan Kesenian Kota Kediri, juga ketua Asosiasi Handycraft Jawa Timur. Dengan mengalirnya waktu Jamran terus menapakkan diri dengan membuat studio “LUKU BINTANG” sebagai usaha kerajinan patung dan souvenir, produk kerajinan yang dihasilkan semacam cinderamata, plakat, piala dengan bahan fiberglass, logam serta patung dan monument. (taufiq)

TARI RUSO

TARI RUSO MENGANGKAT HAKIKAT SEORANG PEREMPUAN SEUTUHNYA Tari Roso garapan dan karya Siska Dona Miasari, mahasiswa jurusan Tari STKW Surabaya telah membuat penonton tercengang, karya garapan tari tersebut berupaya untuk mengangkat martabat dan mengangkat hakikat perempuan seutuhnya, karya tersebut sudah di tampilkan di berbagai tempat dan acara yang diselenggarakan di berbagai daerah. Dalam konsep garap tari tersebut Dona mempunyai gagasan tentang perempuan. Penggarapan karya tari ini terinspirasi oleh kisah manusia yang mana di dalam era globalisasi saat ini, banyak perempuan yang bekerja seperti tidak biasanya, Wanita dulu hanya kerja sebagai ibu rumah tangga yang sehari-harinya masak, mencuci dan lainya sekarang banyak yang bekerja untuk menghidupi keluarganya, karena kondisi lingkungan sosial dan ekonomi yang tidak terpenuhi. Adapun kisah hidup manusia yang dapat diceritakan secara ringkas, seseorang wanita yang sedang bekerja dibangunan proyek, Sedangkan dulu tidak ada wanita yang bekerja ditempat tersebut, Sekarang tidak jarang wanita yang bekerja di daerah proyek bangunan, seperti yang di amati yaitu ibu Martiah beliau adalah pekerja proyek bangunan , disini lain ibu Martiah berprofesi sebagai pembantu tukang bangunan, beliau tugasnya seperti membuat campuran pasir dan semen yang biasanya disebut dengah luluh kemudian dibawa ketempat pengecoran, membawa bata, bahkan naik turun tangga untuk bangunan bertingkat maupun perlengkapan lainya beliau dengaan semangat bekerja tanpa mengenal lelah. bu Martiah ini berumur kurang lebih 45 tahun, beliau terjun langsung dalam proyek bangunan ini sudah mencapai kurang lebih 15 tahun. Alasannya untuk jadi pembantu proyek karena tidak ada pekerjaan lain, untuk makan untuk sehari-harinya. Beliau sangat rajin bekerja demi menghidupi keluarga dengan penuh semangat dan antusias beliau berangkat kerja dengan jalan kaki setiap harinya. Selama dalam pekerjaanya bu martiah tidak mengalami kesenjangan dengan teman lelakinya mereka semua seperti sudah biasa dan tidak asing bahkan sekali-sekali obrolan lucu dilontarakan kepada temen laki-laki yang sama-sama kerja dalam proyek tersebut. Tetapi walaupun di dalam pekerjaan sama antara wanita dan pria, upah yang diberikan tidak sama lebih banyak pria dari pada wanita. Itu yang menjadikan kesenjangan anatara pria dan wanita. Perbedaan itu dikarenakan perempuan tidak bisa sepenuhnya melakukan pekerjaan seperti pria, misalnya bekerja ditempat yang susah seperti memanjat, bergelantungan dsb, Itu yang menjadikan perbedaaan anatara gaji perempuan dengan lelaki di proyek tersebut. Sepulang dari tempat kerjanya ibu tidak lupa sebagai seorang wanita yang sudah mempunyai suami kodrat wanita tetap melayani suami untuk memasak,mencuci dsb. Atas dasar kisah tersebut Dona tertarik untuk mengangkat menjadi karya tari. menariknya terletak pada sifat yang tidak umum pada kisah tersebut. Ide atau gagasan ini di wujudkan menjadi sebuah karya tari yang berjudul Ruso, Karya ini menyampaikan kebenaran-kebenaran bahwa perempuan tidak hanya sebagai “kanca wingking” dalam kehidupan sehari-hari, namun ia memiliki peran penting dan bahkan menjadi dominasi dalam kehidupan. Wanita menjadi manusia seutuhnya maskulin, anggun dan perkasa. Dan memaparkan sejati perempuan dalam mengarungi kehidupan di dunia, dimana perempuan diposisikan menjadi seorang manusia yang unggul, lemah lembut, penuh tanggung jawab dan memiliki keberanian dalam menjawab tantangan jaman tanpa mengubah hakikatnya menjadi seorang perempuan seutuhnya. Koreografer kelahiran Blitar tersebut mengungkapkan bahwa pada dasarnya karya tari tersebut bukan hanya asal menggarap, tetapi Dona terinspirasi dari berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari termasuk terinspirasi dari sosok wanita bernama Bu Martiah . Ide awal untuk menciptakan karya tari ini, berangkat dari cerita seorang perempuan yang benama ibu martiah. dan Dona mencoba merasakan serta menelusuri rentetan lika-liku kehidupan ibu Martiah yang berprofesi sebagai kuli bangunan. Yang paling menarik adalah tentang kepribadian ibu Martiah Yang selalu sabar dan tawakal dalam menjalani kehidupannya sehingga mampu menjadi pribadi yang yang utuh dan kuat. Karya tari “RUSO” ini di wujudkan dalam bentuk tari kelompok karakter tunggal. Yang dimaksud tari kelompok karakter tunggal adalah tarian yang berusaha mewujudkan karakter seseorang dengan menggunakan penari lebih dari 1 orang. Disini menampilkan dramatikal batiniah yang diwujudkan dalam alur suasana untuk menghadirkan rasa-rasa yang telah dikonseptualkan. Sebagaimana hasil observasi dan penghayatan terhadap kehidupan Martiah,serta mendapatkan gambaran tentang karakteristiknya. Karya ini mendobrak sisi-sisi kewanitaan yang perkasa dan maskulin. Karya Tari RUSO sudah ditampilkan di berbagai tempat yaitu, dalam ujian komposisi dan koreografi di STKW Surabaya, Di Gedung Cak Durasim-Taman Budaya Jawa Timur, di Royal Plasa Surabaya, dan acara 24 jam menari dalam World Dance Day 2015 di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Arsip Artikel