Day: December 29, 2015

NASIR DAN PA’I AKTING DI FTV – JTV

Sekilas memang nampak biasa saja tapi kisah dua pemuda yang selalu kompak ini memang unik. Menurut Nasir saat diwawancarai penulis, awal mula perkenalan waktu awal masuk SMKI memang biasa saja seperti teman-teman yang lain, tetapi sejak Praktek Kerja Industi (Prakerin) di Sanggar Ludruk Remaja Marsudi Laras Surabaya chemestry kedua pemuda ini mulai terbangun karena tuntutan peran yang selalu berduet. Dan pada akhirnya kekompakan itu terbawa sampai sekarang masuk bangku kuliah di di STKW Surabaya, keduanya mengambil jurusan teater. Dalam keseharian kedua pemuda ini bagaikan dua sejoli yang selalu kompak dalam setiap kegiatan. Dalam event-event pementasan panggung keduanya sudah dapat dipastikan pasti berduet. Gaya humor keduanya yang khas selalu berhasil mengocok perut penonton. Dan saat ini kedua pemuda yang berstatus mahasiswa ini mulai mencoba kepiawaiannya dalam berakting di FTV. Menurut pengakuan Nasir , akting di panggung dia rasakan lebih menantang dari pada akting didepan kamera. Akting di depan kamera bisa di “cut” dan diulang jika terjadi kesalahan, tetapi akting diatas panggung harus menguasai improvisasi apabila terjadi kesalahan. Pernyataan Nasir itu juga diamini oleh Pai. Menurut Nasir ia merasakan banyak manfaat setelah belajar akting, sifat pemalu dan introvet secara berlahan terkikis dan kini ia lebih percaya diri dan berani tampil di depan publik. Kesulitan pendalaman setiap karakter peran yang pernah ia mainkan semakin menambah kekayaan pengalaman spiritual sehingga menambah pemahaman dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Cita-citanya ingin menjadi profesor teater ini semakin menguatkan tekatnya untuk terus tekun belajar walaupun harus bertarung dengan segala keterbatasan. “ Saya yakin pasti bisa, filosofi jawa mengajarkan : dumadining ilmu sarana laku, sopo sing temen bakaling tinemu, saya akan berhasil jika saya terus mau belajar untuk menambah ilmu pengetahuan saya dan serius dalam mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah saya kuasai”. Memang saat ini Mohammad Nasir selain menimba ilmu di bangku kuliah STKW dan aktif kegiatan kesenian, ia juga mengajar di sekolah. Sudah sering kali anak didiknya meraih kejuaraan dalam ajang festifal dan lomba teater, dan ia juga sering mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Berbeda dengan nasir, soal cita-cita Rifa’i (Pai) bercita-cita ingin jadi seorang pengusaha, disisi lain pada dasarnya Pai juga gemar menghibur orang lain yang sedang galau. Awal mula belajar kesenian karena masyarakat kita sudah mulai meninggalkan budaya bangsa sendiri. “ Saya prihatin melihat hal ini, padahal orang-orang asing berbondong-bondong mempelajari budaya kita yang adi luhung. Tapi masyarakat kita justru meninggalkan dan melupakannya, kalau tidak ada gerasi yang mau belajar dan melestarikan budaya bangsa maka bangsa ini akan kehilangan identitas”. Dan suatu saat nanti jika Pai udah berhasil menjadi pengusaha sukses, dia tetap komitmen untuk tidak meninggalkan panggung dan akan selalu mengembangkan kasanah kesenian. Diakhir wawancara dengan penulis Pai berpesan : “ Jadilah diri kalian sendiri, meskipun kita bermain peran tetapi jangan meninggalkan diri seniri, semangat dan kejar terus prestasimu”.

Sosialisasi di Bakorwil Madiun

MENGOCOK PERUT PESERTA WORKSHOP Memasuki musim penerimaan mahasiswa baru, kampus-kampus di Surabaya berlomba lomba menjaring lulusan SMA dari berbagai daerah. Tidak hanya menerima mahasiswa dari dalam Surabaya saja, baliho-baliho yang bergambar kampus beserta fasilitas-fasilitasnya yang bertempat di Surabaya, juga nampak di beberapa kota di luar Surabaya, bahkan sampai di luar jawa timur. Ini menunjukkan bahwa usaha setiap kampus untuk mendapatkan mahasiswa sangatlah besar. Tidak terkecuali Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Satu-satunya kampus seni yang ada di Jawa Timur ini juga memiliki kiat-kiat tersendiri untuk mendapatkan mahasiswa baru. Bukan hanya memasang baliho di tempat-tempat strategis, atau menyebar pamflet dan katalog kampus saja. Namun kampus yang telah meluluskan banyak seniman berpendidikan di Jawa Timur ini juga mulai menjemput bola. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 24 – 25 April 2015 STKW mengadakan sosialisasi kampus dengan mengundang siswa siswi SMA/SMK sederajat di seluruh Jawa Timur di dampingi oleh guru masing-masing yang bertempat di kantor Bakorwil Madiun. Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur tersebut bertujuan memperkenalkan kampus STKW sebagai satu-satunya kampus seni yang ada di Jawa Timur. Dengan memiliki empat jurusan, Tari, Seni Karawitan, Seni Murni dan jurusan yang masih baru yaitu Jurusan Teater. Selain mengadakan Workshop dan Tanya jawab, para peserta sosialisasi juga disuguhi pertunjukan yang sangat menarik dari masing-masing jurusan. Pertunjukan yang dihadirkan bukan hanya bertujuan untuk menghibur peserta, namun juga untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa yang telah lebih dulu masuk STKW dan telah mendapatkan keahlian-keahlian dan pendidikan tentang kesenian sesuai jurusan masing masing. Karya seni mahasiswa kampus yang dinaungi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini nampak sekali menonjolkan seni yang berorientasi pada seni tradisi, namun tetap pantas dinikmati oleh dunia Internasional. jurusan Teater misalnya, menghadirkan Fragmen Ludruk. Sebuah pertunjukan yang memiliki aura khas Jawa Timur dan sangat menyegarkan suasana sosialisasi selama dua hari tersebut. Penampilan mahasiswa jurusan teater dengan judul “dukun palsu” itu selain menunjukkan kemampuan mahasiswa teater dalam ngidung dan jula-juli, juga mampu mengocok perut peserta dengan guyonan khas Jawa Timuran. Namun pertunjukan dari Jurusan yang paling baru di STKW ini tidak hanya sekedar menghibur saja, namun di dalamnya juga diselipkan pesan pesan moral kepada para peserta sosialisasi yang notabene adalah siswa-siswi SMA/SMK sederajat. Dalam lakon dukun palsu yang dimainkan oleh Nasir, Rifai, Agung dari semester empat, dan Deny (sekretaris jurusan) sebagai aktris tambahan ini, menceritakan tentang kegalauan dua siswa SMA yang baru saja selesei menjalani ujian akhir nasional. Karena ingin lulus dengan nilai memuaskan, maka mereka pergi ke dukun begitu ujian hari terakhir selesai. Dengan meminta jampi-jampi dan membayar sejumlah uang, dua siswa ini berharap keinginannya terwujud meskipun tanpa belajar sebelumnya. Setelah mendapatkan akik wasiat dan mantra-mantra, dua siswa itupun beranjak pulang. Naas, di tengah jalan mereka bertemu dengan ibu kepala sekolah. Setelah berkali-kali berusaha mengelak, akhirnya dua siswa itupun mengakui kalau mereka barusaja pergi kedukun, untuk mendapatkan jimat agar dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Ternyata usut punya usut, dukun yang di datangi tadi adalah suami dari ibu kepala sekolah. Akhirnya dua siswa tersebut dinasehati oleh kepala sekolah, dan diberi saran saran untuk melanjutkan ke pendidikan yang sesuai dengan keahlian, kemampuan mereka masing-masing. Karena kepala sekolah melihat kemampuan dua siswa itu dalam berkesenian lumayan bagus, maka di sarankan untuk masuk ke kampus seni. Namun tidak perlu jauh-jauh, karena di Jawa Timur sudah ada kampus seni yang tidak kalah dengan kampus seni lain yang ada di luar daerah, yaitu Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Pertunjukan fragmen yang berdurasi singkat ini mampu mengocok perut para hadirin dan menjadi bahan pembicaraan di sela-sela perbincanagan antara peserta workshop. Dijelaskan pula, bahwa STKW merupakan kampus seni yang paling murah di seluruh dunia. Gubernur Jawa Timur memberikan penghargaan kepada para mahasiswa baru, berupa SPP gratis selama dua semester awal. Akhirnya dua siswa itupun mengikuti saran kepala sekolah, karena memang mereka tidak mau salah dalam mengambil jurusan, dan mereka merasa bahwa bakat dan kemampuannya dapat di asah di kampus Seni. Di akhir pertunjukan, tokoh ibu kepala sekolah berpesan pada para peserta sosialisasi, agar mereka juga tidak salah memilih dalam melanjutkan pendidikan. STKW adalah salah satu pilihan karena merupakan kampus seni yang mampu memberikan nilai plus terhadap pengembangan kebudayaan lokal tradisi di Indonesia. Dan di STKW tidak hanya di ajarkan bagaimana mengaplikasikan bentuk cinta generasi muda terhadap kebudayaan bangsa sendiri, namun juga di ajarkan bagaimana menjadi seniman yang professional dan berbudi pekerti luhur dalam mengembangkan seni tradisi bangsa Indonesia dan mengenalkannya kepada mata dunia. (dita)

SEMINAR NASIONAL BEM STKW SURABAYA

“Membangun iklim berkesenian di kampus”   Membangun iklim berkesenian di kampus, itulah tema dari seminar mahasiswa nasional yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKW Surabaya pada sabtu, 08 November 2014 bertempat di aula kampus STKW Surabaya, ini menjadi momen bersejarah karena Badan Eksekutif Mahasiswa STKW Surabaya berhasil menyelenggarakan kegiatan bersifat akademik yang dihadiri oleh Perguruan Tinggi di Indonesia, diantaranya Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang, dan STKIP Dr. Nugroho Magetan. Antusiasme dari dosen dan mahasiswa STKW Surabaya sendiri pun juga sangat baik, banyak yang ikut bagian sebagai peserta seminar dan bahkan mahasiswa non-reguler dari jurusan seni rupa yang kesemuanya berprofesi sebagai guru pun meluangkan waktunya untuk hadir dalam seminar tersebut. Saat para peserta seminar datang di kampus STKW Surabaya, banyak komentar terlontar oleh peserta, bahwasanya kampus STKW Surabaya sendiri memang mempunyai nuansa iklim kesenian yang sangat kuat dan memang tepat rasanya jika STKW Surabaya mengadakan kegiatan dengan tema tersebut. Sebagai seremonial pembuka kegiatan, tarian Banjar Kemuning pun ditampilkan oleh mahasiswa jurusan Tari STKW Surabaya, tak ayal riuh tepuk tangan pun terdengar dari peserta seminar usai tarian tersebut ditampilkan. Perlu diketahui bahwa setiap peserta perwakilan dari Perguruan Tinggi menunjuk perwakilannya pemateri, dimana pemateri tersebut akan mempresentasikan makalah yang sudah dibuatnya kepada seluruh teman-teman peserta seminar lainnya. Maksudnya agar saling berbagi dan menambah wawasan dari para peserta seminar tentang perkembangan seni dari berbagai daerah perwakilan Perguruan Tinggi . Di sela-sela istirahat makan siang pun kita masih sempat berdiskusi ringan dengan teman-teman, saling memberikan pemahaman dan solusi terkait kendala-kendala yang menghambat untuk saling menjaga dan meningkatkan iklim berkesenian yang ada di berbagai kampus masing-masing. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Seni dan Budaya adalah sarana pemersatu bangsa. mempelajari dan melestarikan Seni dan Budaya adalah tanggung jawab kita semua. Dan sore itu di penghujung acara, kami selaku panitia berpamitan dengan peserta seminar dari berbagai universitas tersebut. Ingin rasanya lebih lama lagi durasi berdiskusi dengan teman-teman baru kami. Kami pun berharap dengan selesainya seminar tersebut, teman-teman mendapatkan tambahan wawasan yang bermanfaat untuk di ceritakan dan di terapkan di dalam kehidupan ……. (arina)

Sekilas tentang sketsa dan ‘sketsa on the spot’

Sketsa, merupakan bentuk karya seni tertua dan yang telah lama dikenal di dunia. Hadirnya sketsa muncul saat manusia purba mulai mengetahui bagaimana membuat sebuah coretan, atau tanda pada dinding gua. Coretan-coretan di zaman purba sering menggambarkan objek yang berbentuk seperti hewan, manusia, maupun tumbuhan, ada juga yang membentuk suatu simbol yang menjadi cikal bakal bentuk huruf. Konsep purba tersebut yang menjadi cikal bakal konsep ‘Sketsa on the spot’ atau membuat sketsa dengan melihat langsung objek maupun suasana yang ada di sekitar. Dalam dunia seni, sketsa memiliki 2 fungsi yakni sketsa sebagai bentuk seni dwimatra murni (seperti lukisan, grafis, dll) dan sketsa sebagai bentuk dasar dari sebuah rancangan bangun atau benda. Bagi seorang arsitek, disainer grafis, disainer interior, sketsa memiliki fungsi sebagai rancangan awal. Namun bagi seorang seniman, sketsa merupakan unsur dasar seni murni yang wajib dikuasai dan juga karya seni itu sendiri. Sketsa rancangan bersifat kaku, cenderung statis, dan minim kesalahan. Sedangkan sketsa murni bersifat luwes, beragam garisnya, dan lebih unik karena yang dapat mewakili karakter pembuatnya. Hal ini dapat terjadi karena sketsa murni lebih menekankan gambaran objek menurut versi dan gerakan dari kuas / lidi, dari sang seniman. “ Sketsa tak hanya sebagai rancangan dasar sebuah bentuk desain, namun sketsa juga dapat menjadi karya seni murni yang dapat berdiri sendiri ” seperti yang diungkapkan oleh Mufi Mubaroh – Ketua Prodi Seni Murni STKW Surabaya. Seringnya pembuatan sketsa murni menggunakan lidi atau pena cina, karena dapat pula melatih keluwesan tangan. Di kampus STKW, konsep mata kuliah sketsa yang digunakan adalah sketsa murni. Jadi setiap ada materi mata kuliah sketsa, para mahasiswa wajib terjun di lokasi yang telah ditentukan dan mulai membuat sketsa dari objek-objek atau suasana yang ada di lokasi tersebut. Ini menarik, karena letak kampus STKW yang berada di kota besar dan menggunakan materi sketsa on the spot di lokasi dalam kota membuat warga sekitar lokasi on the spot bertanya-tanya apa yang sedang mahasiswa lakukan . Beda dengan kota seni Jogja, kegiatan berkesenian di Surabaya tidak sebegitu sering muncul di khalayak umum. Hanya di kalangan-kalangan yang memang menaruh minat utama pada kesenian. Disinilah peran lain mahasiswa dijalankan, memberikan suntikan pengetahuan mengenai seni, dalam hal ini pengetahuan mengenai sketsa.              Sketsa On the Spot lebih menunjukkan spontanitas, dan ekspresi setiap pembuatnya. Ada yang mirip dengan objek sebenarnya, namun tak jarang juga yang menambahkan sentuhan – sentuhan artistik yang jauh dari bentuk aslinya. Beragam, dan berbeda-beda, ciri khas antara satu dengan yang lain. Dalam prakteknya, mungkin teori filsuf Plato yang lebih sering digunakan. Yakni pembuatan karya seni yang meniru objek sesungguhnya. Namun, bukan kemiripan bentuk yang menjadi tujuan utama dari sketsa murni, tapi karakter sang seniman yang ikut masuk dalam goresan sketsanya. Itulah nilai sebenarnya yang terkandung dalam sketsa murni. Di jurusan Seni Murni STKW, ada 25 lembar sketsa dari sekitar 10 – 12 lokasi (spot) yang berbeda yang harus dikumpulkan setiap mahasiswa. Alat yang digunakan adalah lidi dan tinta hitam (tinta cina) dan teknik yang digunakan pada semester pertama adalah bebas, semester berikutnya dilanjutkan dengan teknik tertentu pada setiap lokasi. Pada awalnya, para mahasiswa prodi seni murni pasti merasa kebingungan dengan pembuatan sketsa menggunakan lidi. Masih kaku, sangat berhati-hati dalam menggores adalah kesan pertama yang dirasakan mahasiswa baru saat membuat sketsa. Semakin lama, akan semakin banyak jam terbang yang dikumpulkan, keluwesan akan diraih dan bahkan sampai ketagihan lagi dan lagi membuat sketsa. Hingga tak sadar sketsa yang dibuat telah layak untuk dipamerkan di sebuah acara pameran seni rupa murni. Proses adalah hal terpenting daripada hasil akhir, hal itu juga terjadi dalam penyaluran karakter dan maksud seniman sketsa kedalam sketsa yang mereka buat. Di STKW, untuk mengapresiasi proses latihan yang panjang dan konsisten ini, selalu diadakan sebuah acara pameran Seni Rupa Murni. Mulai dari hasil karya seni yang dasar hingga karya seni murni eksperimental, termasuk sketsa. Agus ‘Koecink’ Sukamto, seniman sekaligus kurator asal Surabaya menjelaskan bahwa, untuk membuat sketsa yang berkarakter diperlukan pendekatan dan latihan terus-menerus agar tak hanya melihat namun juga dapat merasakan objek yang akan dibuat dan dituangkan ke dalam sketsa. Tak hanya karakter sang seniman, namun juga ada kesan yang hadir dalam sketsa tersebut. Pengetahuan seni murni tanpa sketsa merupakan seni murni yang kurang lengkap. Berawal dari ‘meniru’ dan menjelma menjadi karya seni murni utuh yang kaya akan nilai. Dari unsur dasar jadi bentuk karya seni itu sendiri. Seniman-seniman sketsa pun telah menjamur di seluruh dunia yang berawal dari on the spot, semoga ke depannya STKW mampu melahirkan seniman sketsa besar, yang khusus menekuni dan berkarya di bidang sketsa. (Rahmawati)

Arsip Artikel