Day: July 12, 2016

PERTUNJUKAN TARI GAMBUH TAMENG

ABSTRAK Tari Gambuh Tameng merupakan tari pembuka pertunjukan Topeng Dalang yang berkembang di wilayah Slopeng, Kabupaten Sumenep-Madura, penari tari Gambuh ditarikan dua orang laki-laki berpasangan mengenakan busana keprajuritan memgang properti sebilah keris ditangan kanan, tangan kiri memegang tameng. Gerak tari bersumber gerak silat dan struktur penyajian tari terdiri dari: 1) Bagian awal menggambarkan persiapan prajurit maju perang, gending Ayak slendro 5 irama 2 2) Bagian tengah menggambarkan ketrampilan prajurit menggunakan keris dan tameng, gending yang Gunung Sari slendro irama 1. 3) Bagian akhir menggambarkan prajurit mengahkiri latihan, gending Ayak slendro 5 irama 2. Penyajian tari Gambuh Tameng tidak terikat dengan arena pentas, pertunjukan bisa dilakukan di pendopo, halaman rumah, dan panggung proscenium. Estetika tari Gambuh Tameng gaya Slopeng memiliki spesifik gerak terdapat pada bentuk adeg/tanjak, nonggul (angkatan kaki), gobesan (cek gulu), jinjitan, gejugan. Pola-pola gerak terbentuk motif gagah halus. Kata kunci : pertunjukan tari Gambuh Tameng PENDAHULUAN Kabupaten Sumenep banyak menyimpan pesona kekayaan budaya yang unik dan mempunyai corak bermacam-macam bentuknya salah satu upacara adati yakni, tradisi bersih Desa (rokat dhisa), sedekah laut (rokat tase’), rokat buju’ (sedekah bumi dimakam keramat orang Bali bernama Ki Anggo Suto penemu ladang garam di daerah Kali Anget-Sumenep), rokat ujan (upacara permohonan hujan dengan atraksi adu permainan cambuk dari batang lidi pohon pandan alas yang berduri dan dicambukan kebagian badan pesertanya). Bentuk pertunjukan seni tersebut bernafaskan mistis-sinkritis dan merupakan sisa-sisa pertunjukan lama yang tergolong kepercayaan lama dan bersifat phanteisme yang melekat dengan kepercayaan Islam yang monotheis. Walaupun sebagian besar masyarakat Madura beragama Islam, tetapi upacara-upacara yang berbau mistis-sinkretis merupakan warisan tradisi dan masyarakat melestarikannya. “Dalam keyakinan Islam, orang yang sudah meninggal duniah rohnya tetap hidup dan tinggal sementaradi alam kubur atau alam barzah, sebagai alam antara sebelum memasuki alam akhirat tanpa kecuali. Sementara pemahaman kemudian orang Jawa, arwah-arwah Orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkeliaran sekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam (pesareyan). Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu dating mengujungi kekediaman anak keturunanya. Roh-roh yang baik yang bukan nenek moyang atau kerabat disebut Dhanyang dan mengawasi seluruh masyarakat desa” (Umar Junus: 1981 : 24). Di Samping kesenian juga dalam ritus- ritus yang berkembang di masyarakat yang masih menganggap bahwa alam, lingkungan dan isinya ada yang menjaga dan melindunginya, yakni kekuatan adi kodrati. Agar terhindar kekuatan unsur-unsur negatif, jahat, ketakutan, malapetaka, dan bencana. Masyarakat perlu mengadakan upacara ruwatan, sedekah bumi, bersih desa dan lain sebagainya. Dengan menyelenggarakan upacara ruwatan sebagai sarana penolak balak maka masyarakat menanggap Topeng Dalang sebagai saran hiburan agar terbebas dari kekuatan negatif yang melingkupinya. Di samping pertunjukan Topeng Dalang kesenian tradisional berupa Ludruk, Sandhur, Tayub, dan pertunjukan tari Gambuh merupakan pertunjukan yang sangat dinantikan oleh masyarakat dan merupakan sarana kesenian hiburan pelepas lelah. II. Asal-usul tari Gambuh dan perkembangannya Keberadaan asal usul tari Gambuh di Sumenep ditengarai ada pada abad ke XV-XVI tari Gambuh ditarikan oleh puri-putri keraton Sumenep untuk menyambut para tamu kerajaan, properti yang digunakan dua buah keris, satu keris di tangan kanan dan satunya lagi di letakkan pada gelung rambut dalam bentuk taji kecil, sedangkan tangan kiri memegang perisai sebagai penolak senjata, (Prawiradiningrat, 1986:62). Perkembangan selanjutnya pada abad ke XVIII tari Gambuh dipertunjukan kepada pembesar karaton Sumenep dan berfungsi sebagai pembuka acara “Bhedhalan” yakni: pertemuan agung yang dihadiri pembesar kerajaan tari Gambuh ditarikan oleh sepasang penari laki menggunakan properti keris dan tameng. Selain itu ditampilkan pula kesenian Tayub dan pertunjukan Topeng Dalang. (Soelarto : 7). Tari Gambuh Tameng merupakan tari tradisi yang berkembang di Sumenep kini keberadaannya masih dapat dijumpai di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. Tari Gambuh Tameng di dalam pertunjukan Topeng Dalang Rukun Perawas merupakan tari pembuka (tarian ekstra). Penari tari Gambuh memakai busana celana sebatas lutut berwarna merah atau hitam, tidak menggenakan baju, memakai kain rapek berwarna-warni, setagen, sampur diselempangkan di bahu, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan dhestar/odeng. Ditarikan oleh dua penari laki-laki berpasangan tangan kanan membawa senjata sebuah keris dan tangan kiri memegang tameng di tengahnya terdapat kaca cermin berdiameter sekitar 20 cm kegunaaan dalam tari untuk menangkis senjata, pola-pola gerak yang ditampilkan dalam koreografi tari bersumber pada gerak silat Madura. Tari Gambuh Rangsang di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, di era tahun 1970 digunakan untuk pembuka pertunjukan Topeng Dalang tari Gambuh Rangsang ditarikan sepasang penari laki-laki mengambarkan ungkapan prajurit yang sedang berhias maju perang. Karena pertunjukan Topeng Dalang tersebut kini punah kesenian tari Gambuh Rangsang pelestariannya dilanjutkan Asnawiyanto dan Mao anak alamarhum Juni empu tari Gambuh rangsang. Tahun 1990, muncul jenis tari Gambuh Keris hasil kreativitas Jamal Pranotokusumo mantan kasi kebudayaan Kabupaten Pamekasan, kepopuleran tari Gambuh Keris mendapat apresiasi masyarakat, seniman, maupun penjabat pemerintah. Ceremonial-ceremonial yang diselenggarakan oleh pemerintah seperti pariwisata, kunjungan tamu dinas, dan perhelatan-perhelatan yang digelar oleh masyarakat, selalu menampilkan pertunjukan tari Gambuh sebagai tari pembuka. Kemudian tahun 2000 muncul pertunjukan tari Gambuh yang dianggap paling akhir adalah tari Gambuh Pamungkas ciptaan Akhmad Darus. Kemunculan tari Gambuh Pamungkas membawa suasana semarak kekaryaan tari Gambuh terutama perubahan dalam bentuk koreografi, musik tari, pola lantai, tata rias, tata busana, dan tata pentas panggung. Pertunjukan tari Gambuh Pamungkas penyajiannya ditarikan oleh empat penari laki-laki berpasangan atau lebih memakai busana dan tata rias keparjuritan, sumber-sumber gerak koreografi tari Gambuh Pamungkas bersumber gerak tari Gambuh Tameng dan tari Topeng. Terkait dengan arti Gambuh beberapa sumber menerangkan Gambuh berasal dari kata kambuh yang memiliki arti membangkitkan semangat kembali (Poerwadarminta: 93: 2005). Sedangkan menurut Akhmad Darus kata Gambuh berasal dari tembang mamaca yang memiliki arti mengatasi sesuatu dengan semangat. Dan bila dikaitkan dengan pertunjukan tari Gambuh tari yang menggambarkan semangat prajurit sigap berlatih ketrampilan perang. III. Struktur pertunjukan tari Gambuh Tameng Pertunjukan tari Gambuh Tameng memiliki struktur koreografi terdiri bagian awal, tengah dan akhir. 1. Bagian awal mengungkapkan prajurit persiapan maju perang didahului dengan permohonan kepada Tuhan agar selama latihan diberikan ketabahan 2. Bagian tengah mengungkapkan prajurit melakukan latihan perang menggunakan tameng dan keris 3. Bagian akhir mengungkapkan prajurit menang perang. Gending pengiring tari Gambuh Tameng yang digunakan adalah karawitan berlaras slendro terdiri tiga komposisi gending antara lain: 1. Gending

Beasiswa Unggulan: Bantuan Riset, Workshop, Pelatihan, Pagelaran

Program Beasiswa Unggulan satu ini cukup rutin ditawarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Namanya Bantuan Penelitian, Workshop, Pelatihan, Pagelaran, dan atau Tunjangan Kreativitas. Sebelumnya Beasiswa Unggulan ini dikenal juga dengan beasiswa P3SWOT. Namun, cakupannya kini lebih luas. Selain ditujukan bagi peneliti, penulis, pencipta, seniman/budayawan, wartawan, olahragawan, serta tokoh. Beasiswa juga bisa dilamar oleh PNS di lingkungan Kemdikbud serta masyarakat lain berdasarkan aktivitas dan kreativitasnya yang dianggap layak berdasarkan persetujuan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Sesuai namanya, pelamar yang memenuhi kriteria bisa mengusulkan bantuan melalui beasiswa tersebut, misalnya untuk kegiatan riset, workshop, pelatihan, pagelaran, maupun tunjangan kreavitias. Baik yang berlangsung di dalam negeri maupun luar negeri. Nantinya kegiatan tersebut akan didanai melalui program Beasiswa Unggulan Kemdikbud. Persyaratan: a. Peneliti b. Penulis c. Pencipta d. Seniman/budayawan e. Wartawan f. Olahragawan g. PNS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan h. Tokoh dan atau i. Masyarakat lain berdasarkan aktivitas dan kreativitasnya dianggap layak berdasarkan persetujuan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Dokumen aplikasi: a. Surat permohonan kepada Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan b. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga c. File Daftar riwayat hidup (curriculum vitae) d. Proposal rencana kegiatan dan rincian kebutuhan biaya Pendaftaran: Pengajuan Beasiswa Unggulan untuk Bantuan Riset, Workshop, Pelatihan, dan Pagelaran ini cukup mudah. Silakan mendaftar terlebih dahulu secara online di laman: buonline.beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id Setelah mendaftar online, unggah dokumen aplikasi yang diminta di atas di laman Beasiswa Unggulan tersebut. Usulan yang telah diajukan nantinya akan dilakukan seleksi oleh Tim BPKLN. Kemudian dilakukan validasi dokumen pendaftaran.Berkas pendaftar yang direkomendasikan oleh tim BPKLN, diusulkan kepada Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri untuk ditetapkan melalui Surat Kelulusan penerima Beasiswa Unggulan. Selanjutnya peserta menandatangani dan melaksanakan kontrak pemberian beasiswa. Kontak: Sekretariat Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270 Telp. 021-5711144 (ext. 2616) www.beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id Email: beasiswa.unggulan@kemdikbud.go.id

Arsip Artikel