Day: August 3, 2017

Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi Awali Rangkaian Acara Bulan Kemerdekaan

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus menjadi momen yang selalu ditunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada peringatan ke-72 kali ini, pemerintah akan menggelar sejumlah acara selama bulan Agustus mendatang. “Ini menunjukkan keseriusan kita sebagai bangsa, merayakan, menghayati, mengamalkan semangat kemerdekaan yang sudah kita raih dan tahun ini kita memasuki tahun yang ke-72,” ujar Menteri Sekretaris Negara Pratikno saat memberikan keterangan kepada para jurnalis pada Jumat, 28 Juli 2017, di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta. Berawal pada tanggal 1 Agustus 2017 mendatang, pemerintah akan menggelar pameran seni rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pameran kali ini akan menampilkan lebih banyak koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan beragam kegiatan lainnya. Sehingga diharapkan antusiasme masyarakat terhadap acara tersebut akan semakin bertambah. “Kita akan ada pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan, yang tahun ini kita beri tajuk ‘Senandung Ibu Pertiwi’,” tuturnya. Malam harinya, zikir kebangsaan akan digelar di halaman Istana Merdeka, Jakarta, sebagai rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah mencapai usia 72 tahun. Sejumlah ulama dan para santri dari berbagai pondok pesantren akan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Hal ini sesuai dengan komitmen pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam berbagai acara kenegaraan. “Sifatnya partisipatif, bukan hanya dari istana yang menyelenggarakan, tapi masyarakat diharapkan selain kementerian-kementerian dan lembaga lain yang kita minta kegiatan ini bukan hanya di internal, tetapi kegiatan yang melibatkan masyarakat,” ucap Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang ikut mendampingi Pratikno. Selain itu, rangkaian kegiatan akan terus berlanjut di seluruh penjuru Tanah Air. Seperti pada tanggal 10 Agustus 2017, akan dilaksanakan peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-22 di Makasar, Sulawesi Selatan. Kemudian akan ada peluncuran dan kick off pembinaan ideologi Pancasila di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 11 Agustus 2017. Sedangkan peringatan Hari Pramuka serta penganugerahan tanda jasa dan tanda kehormatan akan diselenggarakan secara berturut-turut pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2017. “Ya pada tanggal 11 Agustus ini, UKP-PIP, Pak Yudi Latief dan kawan-kawan membuat inisiatif bahwa kita harus memperkuat pembinaan ideologi Pancasila ini, sebagaimana dimandatkan dalam unit kerja presiden tersebut,” ungkap Pratikno. Lebih lanjut, Pratikno menjelaskan bahwa pemerintah juga akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pesan melalui media sosial. Caranya dengan membuat video yang sangat sederhana dan mereka berkumpul serta membawa bendera dengan jumlah yang banyak sambil meneriakkan slogan peringatan kemerdekaan yang ke-72. “Ruang car free day ini akan dimanfaatkan secara optimal, judulnya “Ayo Kerja Bersama”. Kerjasama untuk berbagai hal, untuk kebaikan bangsa kita,” ucapnya. Peringatan kemerdekaan tahun ini juga diisi dengan beragam festival kesenian. Mulai dari festival prestasi Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2017 hingga karnaval kemerdekaan. Apalagi peringatan kemerdekaan tahun ini bertepatan dengan satu tahun menjelang perhelatan Asian Games 2018 di Indonesia. Momen tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk menggelar sebuah pertunjukan yang luar biasa untuk memperingati countdown Asian Games 2018. Sejumlah artis dari Asia dinyatakan akan turut memeriahkan acara tersebut. “Akan menjadi atraksi yang sangat luar biasa karena baru dua kali diselenggarakan di dunia. Dan yang kedua kali di Indonesia, Jakarta, untuk memperingati countdown Asian Games 2018,” ujar Triawan Munaf. Sebagai penutup rangkaian peringatan kemerdekaan, karnaval kemerdekaan akan digelar di Bandung dengan melibatkan seluruh pekerja seni Tanah Air. Terakhir, Pratikno berharap rangkaian kegiatan tersebut akan membangkitkan partisipasi masyarakat untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa kebangsaan sekaligus membangkitkan kebersamaan serta kebanggaan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang besar. “Kami mengimbau partisipasi masyarakat untuk aktif di dalam kegiatan-kegiatan kita. Dan ini adalah bagian penting eksistensi kita sebagai bangsa yang besar, yang mengajak, yang harus melibatkan semua pihak untuk berpartisipasi,” ujar Pratikno. Jakarta, 28 Juli 2017 Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden sumber: https://www.kemdikbud.go.id

Marak Sarjana Menganggur, Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Butuh Relevansi

Selasa, 18 Juli 2017 | 12:30 WIBSeminyak (17/7) – Membangun sumber daya manusia yang berkualitas bukan sekadar memperluas akses pendidikan. Lebih lanjut, mutu pendidikan juga perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Apalagi, saat ini lulusan perguruan tinggi turut menyumbang pengangguran yang menjadi beban negara.Pada acara Musyawarah Nasional Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, relevansi lulusan perguruan tinggi terhadap kebutuhan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam upaya mencegah sarjana menganggur. Untuk itu, dibutuhkan sebuah rencana induk dalam menentukan kebijakan strategis dan program unggulan demi mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu.“Rencana induk atau grand design pendidikan ini belum pernah ada. Tujuannya, yakni untuk mencocokkan antara kebutuhan dengan ketersediaan lulusan. Seperti profesi insinyur, sampai saat ini kita masih kekurangan. Hal ini karena lulusan insinyur yang bekerja sesuai dengan bidangnya hanya 45 persen. Belum lagi bidang lainnya,” ujarnya di Puri Sharon, Seminyak, Bali, Senin (17/7).Ghufron mencontohkan, salah satu program studi yang lulusannya sudah menjamur, namun kurang terserap di bidangnya adalah pendidikan guru. Berdasarkan data, lulusan guru yang menjalankan profesi guru hanya 15 sampai 20 persen. Sehingga, lanjut Ghufron, jangan sampai perguruan tinggi hanya mencetak sarjana yang ke depannya justru menjadi pengangguran.“Jumlah universitas di Indonesia ini sudah sangat banyak. Untuk itu rencana induk nantinya dapat menjadi acuan dalam memberikan izin prodi atau perguruan tinggi baru,” tuturnya.Diskusi semakin seru lantaran pada acara tersebut turut hadir Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemristekdikti, Patdono Suwignjo. Senada dengan Ghufron, Patdono mengungkapkan pentingnya membangun perguruan tinggi yang sehat, sehingga dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.Di samping membahas mengenai relevansi dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi, Ghufron juga memberikan apresiasi kepada para dosen yang bersedia produktif menulis publikasi. Meski Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 masih menuai pro dan kontra, dia menegaskan bahwa seorang profesor atau lektor kepala wajib menulis publikasi yang dapat diterbitkan di jurnal bereputasi.“Kebijakan ini membuat banyak profesor gelisah. Padahal hingga saat ini tidak ada tunjangan yang dipotong. Justru publikasi kita meningkat. Sudah melampaui Vietnam, dan baru saja menyalip Thailand,” ucapnya. Dia menambahkan, pihaknya terus berupaya membuat program dan kebijakan yang mempermudah dosen dan tenaga pendidik untuk meningkatkan kapasitasnya. Seperti melalui beasiswa hingga membuat sistem informasi terintegrasi (SISTer). “Dosen-dosen di perguruan tinggi swasta memiliki peran strategis. Oleh karena itu kami juga memberi kesempatan resource sharing dengan cara PTS mengambil dosen PTN yang sudah pensiun. Ada pula program magang dosen, detasering, sampai World Class Professor,” pungkasnya. (ira) sumber: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id

Menjadi Ilmuwan Tak Perlu Menunggu Tua

 Rabu, 2 Agustus 2017 | 12:57 WIB  Jakarta (2/8) – Saat ini sains dan ilmu pengetahuan belum dianggap sebagai suatu hal yang menarik. Alhasil, tak banyak generasi muda yang bermimpi ingin menjadi ilmuwan atau peneliti. Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya dan keanekaragaman yang melimpah untuk dieksplorasi dan dikembangkan bagi kebutuhan masyarakat luas. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebut, menjadi peneliti tidak perlu menunggu tua. Untuk itu, Nasir ingin menggelorakan jiwa para peneliti untuk melakukan riset-riset terbaru, menuliskan publikasi internasional, hingga menghasilkan prototype dan inovasi yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau ingin meneliti itu tidak usah menunggu tua, anak muda juga boleh. Ketertarikan dalam meneliti ini yang harus dikembangkan agar ilmuwan Indonesia semakin handal,” ujar Nasir dalam acara Penganugerahan Ristekdikti – Martha Tilaar Inovation Center (MTIC) Award 2017 di Gedung Patra Jasa, Jakarta, Rabu (2/8). Pada kesempatan tersebut Nasir mengungkapkan, jumlah publikasi Indonesia sudah mengalami lompatan yang signifikan. Dia menjelaskan, publikasi internasional Indonesia awalnya hanya 4.200 pada 2014. Jumlah tersebut masih kalah jauh dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berbagai langkah dan kebijakan strategis pun dilakukan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) guna meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi internasional. “Kami melakukan perbaikan regulasi, di antaranya pertanggungjawaban peneliti sekarang berdasarkan output. Dahulu meneliti itu jauh lebih ringan ketimbang pertanggungjawabannya karena penelitian berbasis pada aktivitas, ini hal yang terbalik. Dengan kerja sama yang baik, per 31 Juli 2017 saya cek jumlah publikasi internasional terindeks Scopus sudah 9.300, mengalahkan Thailand yang baru sekira 8.500 publikasi,” papar Nasir. Meski begitu, Nasir ingin supaya para peneliti tidak cepat puas. Sebab, dia menargetkan pada 2018 jumlah publikasi internasional Indonesia bisa mengalahkan Singapura, dan pada 2019 mengalahkan Malaysia. Peningkatan produktivitas peneliti ini juga mampu mendongkrak jumlah prototype bahkan inovasi. Sementara itu, dia mengingatkan jangan sampai publikasi tidak tersentuh, dan hanya diletakkan di perpustakaan untuk mengejar gelar Doktor atau Profesor. Penganugerahan Risetekdikti – MTIC Awards menjadi salah satu bentuk apresiasi untuk menggairahkan para peneliti. Acara ini juga menjadi bukti adanya kerja sama yang baik antara pemerintah, bisnis, dan akademisi. Nasir berharap, Ristekdikti – MTIC Award mampu menjembatani kesenjangan antara riset yang dilakukan oleh para peneliti di berbagai institusi litbang dan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Adapun pemenang dari ajang ini, yaitu pemenang I, Beni Lestari, S.Farm., Apt dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan penelitian Biji Labu Kuning untuk Wanita Aktif Awet Muda; pemenang II, Prof Enos Tangke Arung, PhD dari Universitas Mulawarman dengan penelitian Potensi Ekstrak Daun Cincau Hijau sebagai Bahan Pencerah Kulit dan Anti Jerawat; dan pemenang III, Dr. Dr Puguh Riyanto, SpKK, FINSDV dari Universitas Diponegoro (Undip) dengan penelitian Manfaat Krim Isoflavon kedelai 1% sebagai Anti Akne Vulgaris. “Selamat bagi para pemenang. Saya ingin jiwa meneliti terus digairahkan, sesuai dengan tema Hari Kebangkitan Teknologi Nasional atau Hakteknas ke-22, yakni Gelorakan Inovasi yang akan diselenggarakan di Makassar nanti,” imbuhnya. Selain Menristekdikti, sejumlah tokoh dan akademisi juga turut hadir pada acara tersebut, seperti Martha Tilaar, Prof. Dr. Emil Salim, dan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe. “Saya setuju bahwa riset perlu dikolaborasikan antara akademisi, bisnis, dan government. Lebih lanjut, menerapkan connection, collaboration, dan to compete, sehingga hasil riset itu juga membuat para petani dan komunitas lainnya menjadi makmur dan sejahtera,” tukas Martha Tilaar. (ira) sumber: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id

Arsip Artikel