KETAN INTIP: Menganyam Kembali Kenangan dan Warisan Juru Masak

Di dalam setiap hidangan, ada kisah. Di dalam setiap gerakan tari, ada jiwa yang berbicara. Sebuah kisah sederhana namun sarat makna dihidupkan kembali melalui tarian. Kisah itu bernama “KETAN INTIP”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Alfenia Septiani Widyana.

Alfenia tidak hanya menari, ia bercerita. Ia membawa kita kembali ke Kampung Dinoyo Surabaya, menemui sosok Mbah Tami, seorang juru masak yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi Ketan Intip. Namun, di balik semangat Mbah Tami, ada kegelisahan. Kegelisahan akan tradisi yang terancam punah, ibarat tali yang disimpul mati, perjuangan yang berakhir karena tidak ada lagi generasi yang mewarisi.

Melalui gerak tari yang penuh makna, Alfenia merepresentasikan beban tanggung jawab ini. Gerakan-gerakan yang lembut namun kuat, menganyam kembali kenangan dan harapan Mbah Tami. “KETAN INTIP” bukan sekadar pertunjukan tari; ini adalah sebuah permohonan, sebuah janji, dan sebuah pengingat bahwa warisan budaya adalah tanggung jawab kita bersama.

Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai budaya dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk bercerita, untuk menjaga ingatan tetap hidup, dan untuk memberikan suara kepada mereka yang khawatir warisannya akan terlupakan.