PRATIGHA DHARMAPATNI: Ketika Dendam Bertemu Kesadaran

Di balik setiap gerakan tari, ada prahara yang bergemuruh dalam jiwa. Malam itu, tarian bukan hanya sekadar estetika, melainkan sebuah pertunjukan drama batin yang memilukan. Tarian itu bernama “PRATIGHA DHARMAPATNI”, sebuah mahakarya yang lahir dari hati seorang mahasiswa, Marcella Lidya Cyntia Dewi Kusdiarto.

Marcella tidak hanya menari, ia menceritakan sebuah tragedi. Kisah ini berawal dari kehidupan istana yang megah, yang seketika berubah menjadi lautan kekecewaan bagi seorang Ratu bernama Mahendradatta. Difitnah, disingkirkan, dan dijauhkan dari kekuasaan, Mahendradatta mengadu kepada Dewi Durga, memohon kekuatan untuk menebar kutukan sebagai balas dendam.

Melalui gerak tari yang penuh ketegangan, Marcella merepresentasikan pergolakan batin ini. Tarian ini adalah sebuah pertarungan, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di dalam jiwa. Namun, di tengah amarah yang membara, lahirlah kesadaran. “Bahwa dendam tak pernah membawa keadilan, hanya memperpanjang penderitaan.”

 

“PRATIGHA DHARMAPATNI” adalah sebuah cermin, yang mengajak kita merenungkan tentang konsekuensi dari perasaan yang tidak tersalurkan dan kekuatan dari dendam yang membara.

Karya ini adalah bukti nyata komitmen kami di STKW Surabaya. Kami adalah wadah bagi para seniman untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga untuk meresapi cerita-cerita yang mendalam dan mengangkatnya menjadi karya yang relevan. Kami mengajarkan bahwa seni adalah cara terkuat untuk berbicara, untuk menunjukkan realitas, dan untuk memberikan pesan moral yang kuat kepada penonton.