Category: Berita

JAZZ USING: Sebuah Jurnal Musikal Mencatat Pertemuan Jazz dan Gending Banyuwangi

Kami percaya bahwa setiap nada adalah sebuah cerita, dan setiap karya adalah sebuah jurnal. Malam itu, kami menjadi saksi dari jurnal musikal seorang mahasiswa bernama Zulfikri Eka Yahya, yang berani mencatat pertemuan dua dunia: kebebasan improvisasi jazz dan keagungan Gending Banyuwangi. Karyanya yang berjudul “JAZZ USING” bukanlah sekadar kolaborasi. Ini adalah sebuah perjalanan eksplorasi. Zulfikri, dengan saxophone di tangannya, berkelana melintasi melodi-melodi etnik Banyuwangi yang sudah mengakar, kemudian ia mengajak suara-suara itu untuk berinteraksi dengan ritme jazz yang lincah. Hasilnya adalah sebuah harmoni yang tak terduga, namun terasa begitu akrab di telinga. Seperti sebuah percakapan yang mendalam, saxophone Zulfikri berdialog dengan ricikan gamelan. Kadang ia menjawab dengan nada yang lembut, kadang ia menyahut dengan improvisasi yang penuh semangat. Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya tidak perlu takut untuk bertemu dengan hal-hal baru. Justru, pertemuan itulah yang melahirkan identitas baru yang lebih kuat dan berkarakter. Malam itu,  audiens tidak hanya mendengarkan musik. Mereka mendengarkan sebuah sejarah baru sedang ditulis. Mereka menjadi saksi bagaimana seorang seniman muda, dengan keberanian dan dedikasinya, mampu merajut benang-benang tradisi dan inovasi menjadi sebuah permadani suara yang memukau. “JAZZ USING” bukan hanya karya, tetapi sebuah undangan untuk merayakan dialog budaya yang tak pernah usai.

JHEGGER JHEGGUR: Lebih dari Musik, Ini Adalah Kisah Perjalanan Membawa Kebanggaan Budaya ke Atas Panggung

Pernahkah Anda mendengar ritme yang begitu kuat, begitu menggebu, hingga getarannya terasa di dada? Malam itu, getaran itu bukan berasal dari arak-arakan di jalanan, melainkan dari panggung megah STKW Surabaya. Getaran itu bernama “JHEGGER JHEGGUR”. Ini adalah sebuah kisah tentang keberanian. Kisah seorang mahasiswa bernama Maulana Hasbi Assiddiqi, yang bermimpi untuk mengangkat musik Ul-Daul—yang selama ini identik dengan semangat festival jalanan—menjadi sebuah karya seni yang dapat dinikmati di atas panggung. Dengan sepenuh hati, Maulana merangkai kembali notasi-notasi itu. Ia memadukan energi membara dari tabuhan gendang dengan sentuhan-sentuhan tak terduga: alunan syahdu dari kenong tello hingga harmoni vokal yang memikat. “JHEGGER JHEGGUR”. adalah sebuah perjalanan yang akan menggetarkan jiwa. Penonton tidak hanya disuguhkan tontonan. Mereka diajak ikut berarak dalam imajinasi, merasakan gema tradisi yang berpadu dengan inovasi. Setiap pukulan, setiap alunan, adalah sebuah dialog yang intim antara masa lalu dan masa kini, yang diwujudkan dengan penuh keindahan di bawah sorotan lampu panggung. Kami percaya bahwa tradisi bukanlah sekadar warisan yang harus dijaga, melainkan sumber inspirasi abadi yang harus terus hidup, berinovasi, dan berdialog dengan zaman. Kami bangga menjadi tempat di mana seniman muda seperti Maulana berani bermimpi, dan mewujudkan mimpi itu menjadi sebuah pengalaman yang menyentuh hati banyak orang.

Ronce-nan Jineman: Ketika Setiap Notasi Merangkai Kisah dan Semangat

Di balik gemerlap panggung , ada sebuah karya yang lahir dari ketulusan dan semangat tak kenal lelah, atau yang sering kami sebut “Gigih”. Gigih Permadi, seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, tidak hanya menciptakan musik, ia merangkai sebuah perjalanan. Perjalanan yang ia tuangkan dalam karya Tugas Akhirnya, “Ronce-nan Jineman”. Ronce memiliki makna merangkai atau menganyam. Dalam karyanya, Gigih tidak sekadar memadukan notasi, ia merangkai kembali benang-benang tradisi yang berakar pada Gending Jineman. Ia memberikan napas baru pada ricikan gamelan seperti gender barung, gambang, slenthem, hingga gong, menjadikannya sebuah harmoni yang menawan dan penuh makna. Semangat untuk tidak hanya melestarikan, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya dengan sentuhan inovatif. “Ronce-nan Jineman” adalah bukti nyata bagaimana seorang seniman muda dapat menjadi jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh harapan. Setiap nada yang dimainkan adalah representasi dari perjuangan dan dedikasi, bukan hanya dari Gigih, tapi juga dari seluruh tim yang terlibat. Mereka menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang bakat, tetapi juga tentang kolaborasi, semangat, dan identitas. Melalui “Ronce-nan Jineman”, kita diingatkan bahwa kekayaan budaya kita adalah sebuah permata yang harus terus diasah dan dirangkai ulang oleh generasi penerus. Di panggung karya ini bersinar, membuktikan bahwa kreativitas yang berakar kuat pada tradisi akan selalu mampu menyentuh hati dan menginspirasi banyak orang.

🎶 Rapsodi Byung: Perpaduan Emosi, Budaya, dan Cinta Ibu 🎶

Di balik setiap denting nada, selalu ada cerita. Di balik setiap hentakan byung gamelan, selalu ada hati yang bergetar. Athallah Oktifanzha, mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, menuangkan seluruh rasa, kenangan, dan cinta kepada sosok Ibu dalam karya Tugas Akhirnya yang berjudul “Rapsodi Byung“. Bukan sekadar pertunjukan, ini adalah perjalanan jiwa — dari rahim budaya hingga gemuruh panggung. “Byung“ adalah suara pukulan gamelan yang singkat, namun sarat makna. Di tangan Athallah, suara itu menjelma menjadi harmoni yang memadukan gamelan tradisi, orkestra modern, teater bayangan, dan visual artistik yang memikat mata. Penonton diajak menyelami kisah kasih sayang Ibu, perjuangan hidup, hingga pesan moral yang mengakar dari leluhur. Di atas panggung , semua elemen menyatu: cahaya yang menari, bayangan yang bercerita, musik yang mengalun, dan hati yang terikat oleh budaya. Di sanalah terlihat bagaimana STKW bukan sekadar kampus seni, tetapi rumah bagi lahirnya karya-karya yang beridentitas, membanggakan, dan relevan di tengah zaman. “Rapsodi Byung“ adalah pengingat bahwa kreativitas yang tumbuh dari akar budaya akan selalu hidup, selalu berbicara, dan selalu menyentuh hati — dari generasi ke generasi.

UJIAN TUGAS AKHIR MAHASISWA PRODI SENI KARAWITAN & SENI TARI STKW SURABAYA

Surabaya, 26–27 Juli 2025 — Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, menjadi saksi dua malam penuh kreativitas dan karya gemilang dari mahasiswa Program Studi Seni Karawitan dan Program Studi Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Acara Ujian Tugas Akhir yang berlangsung dua malam ini mengusung dua tema besar: 🎵 Future Youth Performance (26 Juli 2025) – Menampilkan karya-karya musik inovatif, memadukan kekuatan tradisi dan sentuhan modern seperti: Rhapsodi Byung – Atallah Oktifanzha Ronce Nan Jinèman – Gigih Permadi Jazz Using – Zulfikri Eka Yahya Jhegger-Jheggur – Maulana Hasbi Assidiqi Ali     💃 Stage of The Emerging Performers (STEP) (27 Juli 2025) – Menyuguhkan karya tari penuh karakter dan ekspresi dari mahasiswa Prodi Seni Tari dengan judul Tugas Akhir: Marcella – Pratigha Dharmapatni Wahyu – Nunjang Palang Arinda – Njaran Arif – Mithulung Alfen – Ketan Intip Setiap karya tidak hanya menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga kekuatan riset, penghayatan, dan interpretasi nilai budaya. Dari pengolahan gerak hingga detail kostum, setiap penampilan dirancang untuk memberikan pengalaman seni yang mendalam kepada penonton. Tak hanya menjadi ujian akademik, Ujian Tugas Akhir ini adalah perayaan kreativitas, di mana mahasiswa menunjukkan bahwa proses belajar di STKW Surabaya tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berani berkarya, berinovasi, dan tampil di panggung profesional. ✨ STKW: Tempat Tumbuhnya Seniman BerkualitasMelalui kegiatan seperti ini, STKW Surabaya membuktikan diri sebagai kampus seni yang konsisten melahirkan generasi baru seniman musik dan tari. Mahasiswa dibimbing oleh dosen berpengalaman, mendapatkan kesempatan tampil di panggung bergengsi, dan membangun jejaring dengan pelaku seni di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. 📣 Pesan untuk Calon Mahasiswa Baru:Jika Anda memiliki passion di bidang Seni Karawitan atau Seni Tari, STKW Surabaya adalah tempat yang tepat untuk mengasah bakat, menambah wawasan, dan menyiapkan diri menjadi seniman yang berdaya saing. Di sini, panggung Anda bukan hanya ruang kelas, tapi juga ruang-ruang pertunjukan yang sesungguhnya.

SAPTO, Contoh Kekinian dari Reformasi Birokrasi

Dirjen Kelembagaan RistekDikti Pak Patdono SAPTO, Contoh Kekinian dari Reformasi Birokrasi 15 AUG 2017 JAKARTA – Kini proses Akreditasi Perguruan Tinggi dan program studi tahun 2017 menggunakan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO) yang periode pertamanya telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau BAN-PT, mengadakan Penyerahan Sertifikat Akreditasi Perguruan Tinggi 2017 yang menggunakan SAPTO pada Periode Pertama, bertempat di Ruang Rapat Gedung BPPT II Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (15/8). Pada tahun ini, BAN-PT merencanakan melakukan proses akreditasi terhadap 3.000 Program Studi dan 1.000 Perguruan Tinggi dengan sumber pembiayaan dari APBN. Oleh karenanya, untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan akuntabilitas proses akreditasi, BAN-PT akan mengembangkan SAPTO agar lebih baik. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas proses akreditasi Perguruan Tinggi, hal ini untuk mendukung setiap proses yang dilakukan dalam akreditasi seperti pengajuan usulan akreditasi oleh Perguruan Tinggi, pemeriksaan dokumen, penugasan asesor dan validasi yang dilakukan, proses Asesmen Kecukupan (AK) dan Asesmen Lapangan (AL) oleh asesor. Proses akreditasi tidak akan selesai bila dilakukan dengan model-model yang konvensional, maka dengan adanya SAPTO, proses akreditasi diharapkan bisa lebih baik, efektif, efisien, dan kualitas tetap terjaga. “Dengan adanya SAPTO, Perguruan Tinggi dari pelosok negeri tidak perlu datang ke kantor pusat di Jakarta untuk melaporkan perkembangannya. Dengan demikian, pelayanan semakin cepat dan mudah,” terang Direktur Jenderal Kelembagaan Iptekdikti, Patdono Suwignjo pada sambutannya. SAPTO membawa tagline “faster, cheaper, and better”. Patdono bangga penguatan reformasi birokrasi telah menjalar tidak hanya pada Kementerian, namun juga pada badan negara seperti BAN-PT. Patdono mengimbau agar proses submission secara online tersebut tidak hanya dimengerti oleh para asesor saja, namun pihak institusi dan prodi juga harus diajarkan cara melakukan submission secara online. Turut hadir sekaligus ikut menyerahkan sertifikat pada acara tersebut, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptekdikti Agus Indarjo, dan Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, Totok Prasetyo. (MR) sumber: http://www.kopertis12.or.id

Publikasi Internasional Indonesia Lampaui Thailand, Dirjen Ghufron Apresiasi Dosen dan Peneliti

Senin, 7 Agustus 2017 | 12:17 WIB Yogyakarta (5/8) – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia untuk menuju World Class University. Salah satunya, dengan mendongkrak jumlah publikasi internasional di jurnal bereputasi. Dalam hal ini, Direktorat Sumber Daya Manusia Kemristekdikti menginisiasi kebijakan berupa Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi, Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 nyatanya berpengaruh pada peningkatan jumlah publikasi internasional Tanah Air. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, di akhir 2016, Kemristekdikti menargetkan publikasi Indonesia yang terindeks global sebanyak 6.500 publikasi. Namun, hasilnya justru melampaui target mencapai 10.000 jurnal. Ghufron pun mengapresiasi kerja keras para dosen dan peneliti yang telah produktif menghasilkan publikasi-publikasi tersebut. “Pertengahan 2017 ini, sudah lebih dari 12.000 publikasi. Posisi Filipina dan Thailand sudah tersalip, bahkan menurut Scopus Indonesia tercatat pada ranking ketiga di antara negara-negara di Asia Tenggara. Jadi sebentar lagi saya berharap dan optimis jika Indonesia bisa menyamakan jumlah publikasi Singapura dan Malaysia,” ujarnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Jumat (5/8). Berdasarkan data per 31 Juli 2017, publikasi Indonesia di Scopus tercatat 9.349 publikasi. Sedangkan Thailand di angka 8.204 publikasi. Dua negara di atas Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia masing-masing telah menerbitkan 10.977 publikasi dan 15.985 publikasi. Ghufron mengakui bahwa kesadaran menulis para dosen dan peneliti masih perlu dibarengi dengan pressure, yakni melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Di sisi lain, hingga saat ini kebijakan tersebut tidak mengurangi tunjangan dosen. Sebaliknya, produktivitas dosen dan profesor di Indonesia terus meningkat setiap tahun. “Dulu kalau ada tawaran untuk melakukan sebuah penelitian, yang tertarik membuat proposal itu kurang dari 10 dosen. Sekarang semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan dana penelitian. Saya sangat senang, artinya semua ingin meneliti. Karena di Indonesia ini terlalu banyak potensinya, sehingga perlu terus digali,” sebut Ghufron. Peningkatan publikasi internasional, lanjut Ghufron, memiliki sejumlah tujuan. Dosen diharapkan dapat memahami fungsi tugas pokoknya dengan mentransformasikan ilmu dan teknologi, serta mengembangkannya. “Mereka akan menyosialisasikan dan memasyarakatkan keilmuan agar ilmu dan inovasi bisa diterapkan. Inovasi sendiri artinya lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah dari yang sebelumnya. Semakin banyak inovasi, semakin sejahtera pula masyarakatnya,” imbuhnya. Salah satu contoh inovasi yang harus disebarkan kepada masyarakat luas, yaitu beras Sidenuk yang direkayasa dengan memanfaatkan tenaga nuklir. Selama ini, nuklir selalu dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, ternyata dapat menghasilkan beras yang lebih pulen dan enak. “Sayangnya, belum banyak masyarakat yang tahu akan hal tersebut,” ujar Ghufron. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu percaya bahwa masih banyak potensi dan inovasi yang bisa dikembangkan lagi. Ke depannya, Ghufron mendorong agar dosen dan peneliti semakin gencar dalam melakukan riset dan mempublikasikannya. “Jadi, tidak hanya sekadar menjadi konsultan dan mengajar saja. Harus meneliti dan menulis juga,” simpulnya. (syifa) sumber: sumberdaya.ristekdikti.go.id

Kemenristekdikti Berkomitmen Tampung Karya Ilmiah Dosen

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Andri Saubani Antara/Adiwinata Solihin Menristekdikti Mohammad Nasir. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) berkomitmen menampung semua riset dan penelitian serta karya ilmiah dari dosen dan peneliti. Hal itu menyikapi adanya pensiun besar dari peneliti madya di Indonesia akibat terdampak PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS. “Terkait mereka, kita tampung semua,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Jakarta beberapa waktu lalu. Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu juga mendorong peneliti muda terus meningkatkan penelitian dan karya ilmiah. Untuk mendorong kemampuan dosen dan peneliti di Indonesia, pemerintah membuat program beasiswa Riset-Pro. Nasir beranggapan, peneliti LIPI harus mulai berkolaborasi dengan pendidikan tinggi. Hal itu untuk menyikapi dampak PP Nomor 11 Tahun 2017 yang menurunkan usia pensiun peneliti menjadi 60 tahun dari sebelumnya 65 tahun. “Ada dosen ingin jadi peneliti, ada peneliti ingin jadi dosen,” ujar Nasir. Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka peluang bagi PNS melakukan penyesuaian (inpassing) untuk menjadi peneliti melalui Perka LIPI Nomor 5 Tahun 2017. Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengatakan, Perka LIPI tentang penyesuaian itu bertujuan untuk menambah jumlah peneliti di Indonesia. Serta, mempermudah peneliti untuk penyesuaian golongan. Inpassing merupakan tindak lanjut dari PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS yang memberi dampak signifikan pada peneliti Indonesia. Sebab, dalam PP tersebut terjadi penurunan usia pensiun bagi peneliti madya menjadi 60 tahun dari 65 tahun. Bambang menyebut penurunan usia pensiun diperkirakan akan menimpa sekitar 556 orang atau 20 persen dari total 2.724 peneliti madya. Padahal, ia mengatakan, peneliti madya merupakan lapisan SDM paling produktif. Di sisi lain, pemerintah masih memberlakukan moratorium penerimaan PNS, termasuk peneliti sejak 2015. sumber: www.republika.co.id

Publikasi Internasional Indonesia Lampaui Thailand, Dirjen Ghufron Apresiasi Dosen dan Peneliti

SENIN, 7 AGUSTUS 2017 | 12:17 WIB Yogyakarta (5/8) – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia untuk menuju World Class University. Salah satunya, dengan mendongkrak jumlah publikasi internasional di jurnal bereputasi. Dalam hal ini, Direktorat Sumber Daya Manusia Kemristekdikti menginisiasi kebijakan berupa Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.Sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi, Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 nyatanya berpengaruh pada peningkatan jumlah publikasi internasional Tanah Air. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, di akhir 2016, Kemristekdikti menargetkan publikasi Indonesia yang terindeks global sebanyak 6.500 publikasi. Namun, hasilnya justru melampaui target mencapai 10.000 jurnal. Ghufron pun mengapresiasi kerja keras para dosen dan peneliti yang telah produktif menghasilkan publikasi-publikasi tersebut. “Pertengahan 2017 ini, sudah lebih dari 12.000 publikasi. Posisi Filipina dan Thailand sudah tersalip, bahkan menurut ScopusIndonesia tercatat pada ranking ketiga di antara negara-negara di Asia Tenggara. Jadi sebentar lagi saya berharap dan optimis jika Indonesia bisa menyamakan jumlah publikasi Singapura dan Malaysia,” ujarnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Jumat (5/8). Berdasarkan data per 31 Juli 2017, publikasi Indonesia di Scopus tercatat 9.349 publikasi. Sedangkan Thailand di angka 8.204 publikasi. Dua negara di atas Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia masing-masing telah menerbitkan 10.977 publikasi dan 15.985 publikasi. Ghufron mengakui bahwa kesadaran menulis para dosen dan peneliti masih perlu dibarengi dengan pressure, yakni melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Di sisi lain, hingga saat ini kebijakan tersebut tidak mengurangi tunjangan dosen. Sebaliknya, produktivitas dosen dan profesor di Indonesia terus meningkat setiap tahun. “Dulu kalau ada tawaran untuk melakukan sebuah penelitian, yang tertarik membuat proposal itu kurang dari 10 dosen. Sekarang semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan dana penelitian. Saya sangat senang, artinya semua ingin meneliti. Karena di Indonesia ini terlalu banyak potensinya, sehingga perlu terus digali,” sebut Ghufron. Peningkatan publikasi internasional, lanjut Ghufron, memiliki sejumlah tujuan. Dosen diharapkan dapat memahami fungsi tugas pokoknya dengan mentransformasikan ilmu dan teknologi, serta mengembangkannya. “Mereka akan menyosialisasikan dan memasyarakatkan keilmuan agar ilmu dan inovasi bisa diterapkan. Inovasi sendiri artinya lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah dari yang sebelumnya. Semakin banyak inovasi, semakin sejahtera pula masyarakatnya,” imbuhnya. Salah satu contoh inovasi yang harus disebarkan kepada masyarakat luas, yaitu beras Sidenuk yang direkayasa dengan memanfaatkan tenaga nuklir. Selama ini, nuklir selalu dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, ternyata dapat menghasilkan beras yang lebih pulen dan enak. “Sayangnya, belum banyak masyarakat yang tahu akan hal tersebut,” ujar Ghufron. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu percaya bahwa masih banyak potensi dan inovasi yang bisa dikembangkan lagi. Ke depannya, Ghufron mendorong agar dosen dan peneliti semakin gencar dalam melakukan riset dan mempublikasikannya. “Jadi, tidak hanya sekadar menjadi konsultan dan mengajar saja. Harus meneliti dan menulis juga,” simpulnya. (syifa) Sumber: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/

Menristekdikti Luncurkan SINTA Versi 2.0

Saturday, 05 August 2017 | 05:44 WIB Laman SINTA Versi 2.0 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) meluncurkan Science and Techology Index (SINTA) Versi 2.0. SINTA adalah sistem aplikasi yang dibuat untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional dari dosen dan peneliti di Indonesia. SINTA dapat memetakan kepakaran dan pemeringkatan kinerja dari penulis, institusi dan jurnal terbaik di Indonesia. SINTA diharapkan dapat memotivasi para dosen dan peneliti agar lebih giat menghasilkan publikasi, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Kantor Kemristekdikti, Senayan, Jakarta, Jumat (4/8). SINTA Versi 2.0 merupakan penyempurnaan dari SINTA Versi 1.0 yang diluncurkan pada 30 Januari 2017 di Universitas Gajag Mada (UGM). SINTA versi 2.0 mengalami sejumlah pembaruan, seperti, pendaftaran penulis yang sebelumnya mendaftarkan diri secara manual sebanyak 17 ribu, di versi terbarunya secara otomatis penulis yang terdaftar sebanyak 32.218 dari 1.424 institusi di mana sebanyak 25.472 penulis sudah terverifikasi. Pada SINTA versi 1.0 pendaftaran jurnal berjumlah 3.820 jurnal yang sudah elektronik dimasukkan tanpa evaluasi. Sementara pada SINTA versi 2.0, sebanyak 1.807 jurnal mendaftar ke Arjuna dan 959 telah dievaluasi. Nasir juga menambahkan adanya perbaikan fitur dan tampilan supaya terlihat lebih internasional. Sementara itu, jumlah pengguna internet yang mengakses SINTA per 30 Januari 2017 hingga Juni 2017 adalah 78.644.768. Maising-masing, berasal dari Amerika Serikat (24 juta), Eropa (545 ribu), Afrika (3.879), Asia (diluar Indonesia, 40 juta), Indonesia (14 juta), dan lainnya 95.889. Menristekdikti mengatakan, Kemristekdikti akan mengapresiasi para dosen dan peneliti dengan publikasi terproduktif di SINTA pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-22 yang akan digelar di Kota Makassar pada 10 Agustus 2017. Sumber: Republika  Rep: Umi Nur Fadhilah / Red: Dwi Murdaningsih

Arsip Artikel