Category: Berita

🎶 Rapsodi Byung: Perpaduan Emosi, Budaya, dan Cinta Ibu 🎶

Di balik setiap denting nada, selalu ada cerita. Di balik setiap hentakan byung gamelan, selalu ada hati yang bergetar. Athallah Oktifanzha, mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, menuangkan seluruh rasa, kenangan, dan cinta kepada sosok Ibu dalam karya Tugas Akhirnya yang berjudul “Rapsodi Byung“. Bukan sekadar pertunjukan, ini adalah perjalanan jiwa — dari rahim budaya hingga gemuruh panggung. “Byung“ adalah suara pukulan gamelan yang singkat, namun sarat makna. Di tangan Athallah, suara itu menjelma menjadi harmoni yang memadukan gamelan tradisi, orkestra modern, teater bayangan, dan visual artistik yang memikat mata. Penonton diajak menyelami kisah kasih sayang Ibu, perjuangan hidup, hingga pesan moral yang mengakar dari leluhur. Di atas panggung , semua elemen menyatu: cahaya yang menari, bayangan yang bercerita, musik yang mengalun, dan hati yang terikat oleh budaya. Di sanalah terlihat bagaimana STKW bukan sekadar kampus seni, tetapi rumah bagi lahirnya karya-karya yang beridentitas, membanggakan, dan relevan di tengah zaman. “Rapsodi Byung“ adalah pengingat bahwa kreativitas yang tumbuh dari akar budaya akan selalu hidup, selalu berbicara, dan selalu menyentuh hati — dari generasi ke generasi.

UJIAN TUGAS AKHIR MAHASISWA PRODI SENI KARAWITAN & SENI TARI STKW SURABAYA

Surabaya, 26–27 Juli 2025 — Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, menjadi saksi dua malam penuh kreativitas dan karya gemilang dari mahasiswa Program Studi Seni Karawitan dan Program Studi Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Acara Ujian Tugas Akhir yang berlangsung dua malam ini mengusung dua tema besar: 🎵 Future Youth Performance (26 Juli 2025) – Menampilkan karya-karya musik inovatif, memadukan kekuatan tradisi dan sentuhan modern seperti: Rhapsodi Byung – Atallah Oktifanzha Ronce Nan Jinèman – Gigih Permadi Jazz Using – Zulfikri Eka Yahya Jhegger-Jheggur – Maulana Hasbi Assidiqi Ali     💃 Stage of The Emerging Performers (STEP) (27 Juli 2025) – Menyuguhkan karya tari penuh karakter dan ekspresi dari mahasiswa Prodi Seni Tari dengan judul Tugas Akhir: Marcella – Pratigha Dharmapatni Wahyu – Nunjang Palang Arinda – Njaran Arif – Mithulung Alfen – Ketan Intip Setiap karya tidak hanya menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga kekuatan riset, penghayatan, dan interpretasi nilai budaya. Dari pengolahan gerak hingga detail kostum, setiap penampilan dirancang untuk memberikan pengalaman seni yang mendalam kepada penonton. Tak hanya menjadi ujian akademik, Ujian Tugas Akhir ini adalah perayaan kreativitas, di mana mahasiswa menunjukkan bahwa proses belajar di STKW Surabaya tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berani berkarya, berinovasi, dan tampil di panggung profesional. ✨ STKW: Tempat Tumbuhnya Seniman BerkualitasMelalui kegiatan seperti ini, STKW Surabaya membuktikan diri sebagai kampus seni yang konsisten melahirkan generasi baru seniman musik dan tari. Mahasiswa dibimbing oleh dosen berpengalaman, mendapatkan kesempatan tampil di panggung bergengsi, dan membangun jejaring dengan pelaku seni di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. 📣 Pesan untuk Calon Mahasiswa Baru:Jika Anda memiliki passion di bidang Seni Karawitan atau Seni Tari, STKW Surabaya adalah tempat yang tepat untuk mengasah bakat, menambah wawasan, dan menyiapkan diri menjadi seniman yang berdaya saing. Di sini, panggung Anda bukan hanya ruang kelas, tapi juga ruang-ruang pertunjukan yang sesungguhnya.

SAPTO, Contoh Kekinian dari Reformasi Birokrasi

Dirjen Kelembagaan RistekDikti Pak Patdono SAPTO, Contoh Kekinian dari Reformasi Birokrasi 15 AUG 2017 JAKARTA – Kini proses Akreditasi Perguruan Tinggi dan program studi tahun 2017 menggunakan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO) yang periode pertamanya telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau BAN-PT, mengadakan Penyerahan Sertifikat Akreditasi Perguruan Tinggi 2017 yang menggunakan SAPTO pada Periode Pertama, bertempat di Ruang Rapat Gedung BPPT II Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (15/8). Pada tahun ini, BAN-PT merencanakan melakukan proses akreditasi terhadap 3.000 Program Studi dan 1.000 Perguruan Tinggi dengan sumber pembiayaan dari APBN. Oleh karenanya, untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan akuntabilitas proses akreditasi, BAN-PT akan mengembangkan SAPTO agar lebih baik. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas proses akreditasi Perguruan Tinggi, hal ini untuk mendukung setiap proses yang dilakukan dalam akreditasi seperti pengajuan usulan akreditasi oleh Perguruan Tinggi, pemeriksaan dokumen, penugasan asesor dan validasi yang dilakukan, proses Asesmen Kecukupan (AK) dan Asesmen Lapangan (AL) oleh asesor. Proses akreditasi tidak akan selesai bila dilakukan dengan model-model yang konvensional, maka dengan adanya SAPTO, proses akreditasi diharapkan bisa lebih baik, efektif, efisien, dan kualitas tetap terjaga. “Dengan adanya SAPTO, Perguruan Tinggi dari pelosok negeri tidak perlu datang ke kantor pusat di Jakarta untuk melaporkan perkembangannya. Dengan demikian, pelayanan semakin cepat dan mudah,” terang Direktur Jenderal Kelembagaan Iptekdikti, Patdono Suwignjo pada sambutannya. SAPTO membawa tagline “faster, cheaper, and better”. Patdono bangga penguatan reformasi birokrasi telah menjalar tidak hanya pada Kementerian, namun juga pada badan negara seperti BAN-PT. Patdono mengimbau agar proses submission secara online tersebut tidak hanya dimengerti oleh para asesor saja, namun pihak institusi dan prodi juga harus diajarkan cara melakukan submission secara online. Turut hadir sekaligus ikut menyerahkan sertifikat pada acara tersebut, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptekdikti Agus Indarjo, dan Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, Totok Prasetyo. (MR) sumber: http://www.kopertis12.or.id

Publikasi Internasional Indonesia Lampaui Thailand, Dirjen Ghufron Apresiasi Dosen dan Peneliti

Senin, 7 Agustus 2017 | 12:17 WIB Yogyakarta (5/8) – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia untuk menuju World Class University. Salah satunya, dengan mendongkrak jumlah publikasi internasional di jurnal bereputasi. Dalam hal ini, Direktorat Sumber Daya Manusia Kemristekdikti menginisiasi kebijakan berupa Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi, Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 nyatanya berpengaruh pada peningkatan jumlah publikasi internasional Tanah Air. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, di akhir 2016, Kemristekdikti menargetkan publikasi Indonesia yang terindeks global sebanyak 6.500 publikasi. Namun, hasilnya justru melampaui target mencapai 10.000 jurnal. Ghufron pun mengapresiasi kerja keras para dosen dan peneliti yang telah produktif menghasilkan publikasi-publikasi tersebut. “Pertengahan 2017 ini, sudah lebih dari 12.000 publikasi. Posisi Filipina dan Thailand sudah tersalip, bahkan menurut Scopus Indonesia tercatat pada ranking ketiga di antara negara-negara di Asia Tenggara. Jadi sebentar lagi saya berharap dan optimis jika Indonesia bisa menyamakan jumlah publikasi Singapura dan Malaysia,” ujarnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Jumat (5/8). Berdasarkan data per 31 Juli 2017, publikasi Indonesia di Scopus tercatat 9.349 publikasi. Sedangkan Thailand di angka 8.204 publikasi. Dua negara di atas Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia masing-masing telah menerbitkan 10.977 publikasi dan 15.985 publikasi. Ghufron mengakui bahwa kesadaran menulis para dosen dan peneliti masih perlu dibarengi dengan pressure, yakni melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Di sisi lain, hingga saat ini kebijakan tersebut tidak mengurangi tunjangan dosen. Sebaliknya, produktivitas dosen dan profesor di Indonesia terus meningkat setiap tahun. “Dulu kalau ada tawaran untuk melakukan sebuah penelitian, yang tertarik membuat proposal itu kurang dari 10 dosen. Sekarang semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan dana penelitian. Saya sangat senang, artinya semua ingin meneliti. Karena di Indonesia ini terlalu banyak potensinya, sehingga perlu terus digali,” sebut Ghufron. Peningkatan publikasi internasional, lanjut Ghufron, memiliki sejumlah tujuan. Dosen diharapkan dapat memahami fungsi tugas pokoknya dengan mentransformasikan ilmu dan teknologi, serta mengembangkannya. “Mereka akan menyosialisasikan dan memasyarakatkan keilmuan agar ilmu dan inovasi bisa diterapkan. Inovasi sendiri artinya lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah dari yang sebelumnya. Semakin banyak inovasi, semakin sejahtera pula masyarakatnya,” imbuhnya. Salah satu contoh inovasi yang harus disebarkan kepada masyarakat luas, yaitu beras Sidenuk yang direkayasa dengan memanfaatkan tenaga nuklir. Selama ini, nuklir selalu dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, ternyata dapat menghasilkan beras yang lebih pulen dan enak. “Sayangnya, belum banyak masyarakat yang tahu akan hal tersebut,” ujar Ghufron. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu percaya bahwa masih banyak potensi dan inovasi yang bisa dikembangkan lagi. Ke depannya, Ghufron mendorong agar dosen dan peneliti semakin gencar dalam melakukan riset dan mempublikasikannya. “Jadi, tidak hanya sekadar menjadi konsultan dan mengajar saja. Harus meneliti dan menulis juga,” simpulnya. (syifa) sumber: sumberdaya.ristekdikti.go.id

Kemenristekdikti Berkomitmen Tampung Karya Ilmiah Dosen

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Andri Saubani Antara/Adiwinata Solihin Menristekdikti Mohammad Nasir. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) berkomitmen menampung semua riset dan penelitian serta karya ilmiah dari dosen dan peneliti. Hal itu menyikapi adanya pensiun besar dari peneliti madya di Indonesia akibat terdampak PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS. “Terkait mereka, kita tampung semua,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Jakarta beberapa waktu lalu. Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu juga mendorong peneliti muda terus meningkatkan penelitian dan karya ilmiah. Untuk mendorong kemampuan dosen dan peneliti di Indonesia, pemerintah membuat program beasiswa Riset-Pro. Nasir beranggapan, peneliti LIPI harus mulai berkolaborasi dengan pendidikan tinggi. Hal itu untuk menyikapi dampak PP Nomor 11 Tahun 2017 yang menurunkan usia pensiun peneliti menjadi 60 tahun dari sebelumnya 65 tahun. “Ada dosen ingin jadi peneliti, ada peneliti ingin jadi dosen,” ujar Nasir. Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka peluang bagi PNS melakukan penyesuaian (inpassing) untuk menjadi peneliti melalui Perka LIPI Nomor 5 Tahun 2017. Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengatakan, Perka LIPI tentang penyesuaian itu bertujuan untuk menambah jumlah peneliti di Indonesia. Serta, mempermudah peneliti untuk penyesuaian golongan. Inpassing merupakan tindak lanjut dari PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS yang memberi dampak signifikan pada peneliti Indonesia. Sebab, dalam PP tersebut terjadi penurunan usia pensiun bagi peneliti madya menjadi 60 tahun dari 65 tahun. Bambang menyebut penurunan usia pensiun diperkirakan akan menimpa sekitar 556 orang atau 20 persen dari total 2.724 peneliti madya. Padahal, ia mengatakan, peneliti madya merupakan lapisan SDM paling produktif. Di sisi lain, pemerintah masih memberlakukan moratorium penerimaan PNS, termasuk peneliti sejak 2015. sumber: www.republika.co.id

Publikasi Internasional Indonesia Lampaui Thailand, Dirjen Ghufron Apresiasi Dosen dan Peneliti

SENIN, 7 AGUSTUS 2017 | 12:17 WIB Yogyakarta (5/8) – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia untuk menuju World Class University. Salah satunya, dengan mendongkrak jumlah publikasi internasional di jurnal bereputasi. Dalam hal ini, Direktorat Sumber Daya Manusia Kemristekdikti menginisiasi kebijakan berupa Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.Sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi, Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 nyatanya berpengaruh pada peningkatan jumlah publikasi internasional Tanah Air. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, di akhir 2016, Kemristekdikti menargetkan publikasi Indonesia yang terindeks global sebanyak 6.500 publikasi. Namun, hasilnya justru melampaui target mencapai 10.000 jurnal. Ghufron pun mengapresiasi kerja keras para dosen dan peneliti yang telah produktif menghasilkan publikasi-publikasi tersebut. “Pertengahan 2017 ini, sudah lebih dari 12.000 publikasi. Posisi Filipina dan Thailand sudah tersalip, bahkan menurut ScopusIndonesia tercatat pada ranking ketiga di antara negara-negara di Asia Tenggara. Jadi sebentar lagi saya berharap dan optimis jika Indonesia bisa menyamakan jumlah publikasi Singapura dan Malaysia,” ujarnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Jumat (5/8). Berdasarkan data per 31 Juli 2017, publikasi Indonesia di Scopus tercatat 9.349 publikasi. Sedangkan Thailand di angka 8.204 publikasi. Dua negara di atas Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia masing-masing telah menerbitkan 10.977 publikasi dan 15.985 publikasi. Ghufron mengakui bahwa kesadaran menulis para dosen dan peneliti masih perlu dibarengi dengan pressure, yakni melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Di sisi lain, hingga saat ini kebijakan tersebut tidak mengurangi tunjangan dosen. Sebaliknya, produktivitas dosen dan profesor di Indonesia terus meningkat setiap tahun. “Dulu kalau ada tawaran untuk melakukan sebuah penelitian, yang tertarik membuat proposal itu kurang dari 10 dosen. Sekarang semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan dana penelitian. Saya sangat senang, artinya semua ingin meneliti. Karena di Indonesia ini terlalu banyak potensinya, sehingga perlu terus digali,” sebut Ghufron. Peningkatan publikasi internasional, lanjut Ghufron, memiliki sejumlah tujuan. Dosen diharapkan dapat memahami fungsi tugas pokoknya dengan mentransformasikan ilmu dan teknologi, serta mengembangkannya. “Mereka akan menyosialisasikan dan memasyarakatkan keilmuan agar ilmu dan inovasi bisa diterapkan. Inovasi sendiri artinya lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah dari yang sebelumnya. Semakin banyak inovasi, semakin sejahtera pula masyarakatnya,” imbuhnya. Salah satu contoh inovasi yang harus disebarkan kepada masyarakat luas, yaitu beras Sidenuk yang direkayasa dengan memanfaatkan tenaga nuklir. Selama ini, nuklir selalu dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, ternyata dapat menghasilkan beras yang lebih pulen dan enak. “Sayangnya, belum banyak masyarakat yang tahu akan hal tersebut,” ujar Ghufron. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu percaya bahwa masih banyak potensi dan inovasi yang bisa dikembangkan lagi. Ke depannya, Ghufron mendorong agar dosen dan peneliti semakin gencar dalam melakukan riset dan mempublikasikannya. “Jadi, tidak hanya sekadar menjadi konsultan dan mengajar saja. Harus meneliti dan menulis juga,” simpulnya. (syifa) Sumber: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/

Menristekdikti Luncurkan SINTA Versi 2.0

Saturday, 05 August 2017 | 05:44 WIB Laman SINTA Versi 2.0 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) meluncurkan Science and Techology Index (SINTA) Versi 2.0. SINTA adalah sistem aplikasi yang dibuat untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional dari dosen dan peneliti di Indonesia. SINTA dapat memetakan kepakaran dan pemeringkatan kinerja dari penulis, institusi dan jurnal terbaik di Indonesia. SINTA diharapkan dapat memotivasi para dosen dan peneliti agar lebih giat menghasilkan publikasi, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Kantor Kemristekdikti, Senayan, Jakarta, Jumat (4/8). SINTA Versi 2.0 merupakan penyempurnaan dari SINTA Versi 1.0 yang diluncurkan pada 30 Januari 2017 di Universitas Gajag Mada (UGM). SINTA versi 2.0 mengalami sejumlah pembaruan, seperti, pendaftaran penulis yang sebelumnya mendaftarkan diri secara manual sebanyak 17 ribu, di versi terbarunya secara otomatis penulis yang terdaftar sebanyak 32.218 dari 1.424 institusi di mana sebanyak 25.472 penulis sudah terverifikasi. Pada SINTA versi 1.0 pendaftaran jurnal berjumlah 3.820 jurnal yang sudah elektronik dimasukkan tanpa evaluasi. Sementara pada SINTA versi 2.0, sebanyak 1.807 jurnal mendaftar ke Arjuna dan 959 telah dievaluasi. Nasir juga menambahkan adanya perbaikan fitur dan tampilan supaya terlihat lebih internasional. Sementara itu, jumlah pengguna internet yang mengakses SINTA per 30 Januari 2017 hingga Juni 2017 adalah 78.644.768. Maising-masing, berasal dari Amerika Serikat (24 juta), Eropa (545 ribu), Afrika (3.879), Asia (diluar Indonesia, 40 juta), Indonesia (14 juta), dan lainnya 95.889. Menristekdikti mengatakan, Kemristekdikti akan mengapresiasi para dosen dan peneliti dengan publikasi terproduktif di SINTA pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-22 yang akan digelar di Kota Makassar pada 10 Agustus 2017. Sumber: Republika  Rep: Umi Nur Fadhilah / Red: Dwi Murdaningsih

Ristekdikti-MTIC Award Berikan Apresiasi Bagi Para Peneliti Terbaik Indonesia

  Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, membuka acara Penganugerahan Ristekdikti-MTIC Award 2017 atas kerja sama antara PT Marina Berto Tbk, bersama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan perusahaan kecantikaan Martha Tilaar Group melalui Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC), di Ballroom Yudistira, Gedung Patra Jasa, Jakarta, Rabu (2/8). Penghargaan Ristekdikti-MTIC Award ini bertujuan untuk mengapresiasi kerja keras para peneliti terbaik Indonesia yang tersebar di universitas seluruh Indonesia yang secara khusus memfokuskan penelitiannya pada kekayaan alam Nusantara dengan sentuhan riset. Indonesia saat ini memiliki sekitar kurang lebihnya 1600 jamu warisan nenek moyang, namun dari sekian banyaknya resep jamu warisan nenek moyang tersebut, baru sekitar 30 yang telah ditetapkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) dan baru sekitar 10 dalam bentuk Fitofarmaka. Untuk itulah Kemenristekdikti bersama stakeholder lainnya perlu untuk mendorong riset, pengembangan dan inovasi dalam pengembangan jamu menjadi OHT dan Fitofarmaka. Hal ini disampaikan Menristekdikti, M. Nasir pada sambutannya. “Saya mengharapkan kerjasama Kemenristekdikti dengan Martha Thilaar ini dapat terus ditingkatkan, khususnya dalam pengembangan bahan baku obat dan kosmetik asli Indonesia untuk melahirkan Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitomarka yang memiliki ciri khas Indonesia dengan memanfaatkan kekayaan Nusantara,” ujar Nasir yang juga mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro Semarang. Pada laporannya, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe memaparkan, penganugerahan Ristekdikti-MTIC Award 2017 mengusung tema “Penguatan Riset dan Inovasi untuk kemandirian Serta Peningkatan Daya Saing Industri Kosmetik dan Obat Tradisional”. “Penyelenggaraan Ristekdikti-MTIC Award ini telah diikuti oleh 95 peserta yang berasal dari 37 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Makalah penelitian yang masuk akan dinilai oleh tim yang terdiri dari Pakar bahan alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir (BATAN), dan pelaku industri kosmetik dan jamu,” papar Dirjen Jumain. Setelah melewati babak seleksi, terpilihlah makalah penelitian dari 9 (sembilan) peserta untuk mengikuti proses penjurian yang berlangsung selama satu bulan dan pada hari ini, dipilih 3 (pemenang) yang secara langsung diberikan oleh Menristekdikti, Mohamad Nasir, Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe, dan Martha Tilaar sebagai pendiri dari Martha Tilaar Group. “Berdasarkan hasil penjurian tersebut, keluarlah 3 (tiga) nama pemenang. Ketiga pemenang tersebut ialah; Beti Lestari dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sebagai juara pertama, Enos Tangke Arung dari Universitas Mulawarman, Samarinda sebagai juara kedua, dan juara ketiga diraih oleh Puguh Riyanto dari Unversitas diponegoro, Semarang,” jelas Jumain. Ristekdikti-MTIC Award digelar 5 tahun sekali yang dimulai sejak 2007 lalu, Ristekdikti-MTIC Award adalah suatu penghargaan yang diberikan dalam upaya memotivasi para peneliti agar dapat memadukan pengetahuan leluhur, teknologi, inovasi, dan sumber daya alam Indonesia dalam kegiatan penelitiannya serta meningkatkan kesadaran konsumen dalam pemanfaatan kekayaan alam Indonesia khususnya dibidang kesehatan, obat-obatan dan kecantikan. Kegiatan ini juga membahas tentanf riset dan pengembangan marker untuk tanaman-tanaman asli Indonesia yang dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik yang perlu untuk ditingkatkan dari sumberdaya hayati Indonesia terutama tanaman berkhasiat obat, kosmetik, dan aromatik (OKA). Kegiatan penganugerahan Ristekdikti-MTIC Award 2017 ini sekaligus menyelenggarakan Forum inovasi kesehatan dan obat serta pameran produk inovasi melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kemenristekdikti. (TJS) sumber: ristekdikti.go.id

Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi Awali Rangkaian Acara Bulan Kemerdekaan

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus menjadi momen yang selalu ditunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada peringatan ke-72 kali ini, pemerintah akan menggelar sejumlah acara selama bulan Agustus mendatang. “Ini menunjukkan keseriusan kita sebagai bangsa, merayakan, menghayati, mengamalkan semangat kemerdekaan yang sudah kita raih dan tahun ini kita memasuki tahun yang ke-72,” ujar Menteri Sekretaris Negara Pratikno saat memberikan keterangan kepada para jurnalis pada Jumat, 28 Juli 2017, di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta. Berawal pada tanggal 1 Agustus 2017 mendatang, pemerintah akan menggelar pameran seni rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pameran kali ini akan menampilkan lebih banyak koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan beragam kegiatan lainnya. Sehingga diharapkan antusiasme masyarakat terhadap acara tersebut akan semakin bertambah. “Kita akan ada pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan, yang tahun ini kita beri tajuk ‘Senandung Ibu Pertiwi’,” tuturnya. Malam harinya, zikir kebangsaan akan digelar di halaman Istana Merdeka, Jakarta, sebagai rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah mencapai usia 72 tahun. Sejumlah ulama dan para santri dari berbagai pondok pesantren akan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Hal ini sesuai dengan komitmen pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam berbagai acara kenegaraan. “Sifatnya partisipatif, bukan hanya dari istana yang menyelenggarakan, tapi masyarakat diharapkan selain kementerian-kementerian dan lembaga lain yang kita minta kegiatan ini bukan hanya di internal, tetapi kegiatan yang melibatkan masyarakat,” ucap Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang ikut mendampingi Pratikno. Selain itu, rangkaian kegiatan akan terus berlanjut di seluruh penjuru Tanah Air. Seperti pada tanggal 10 Agustus 2017, akan dilaksanakan peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-22 di Makasar, Sulawesi Selatan. Kemudian akan ada peluncuran dan kick off pembinaan ideologi Pancasila di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 11 Agustus 2017. Sedangkan peringatan Hari Pramuka serta penganugerahan tanda jasa dan tanda kehormatan akan diselenggarakan secara berturut-turut pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2017. “Ya pada tanggal 11 Agustus ini, UKP-PIP, Pak Yudi Latief dan kawan-kawan membuat inisiatif bahwa kita harus memperkuat pembinaan ideologi Pancasila ini, sebagaimana dimandatkan dalam unit kerja presiden tersebut,” ungkap Pratikno. Lebih lanjut, Pratikno menjelaskan bahwa pemerintah juga akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pesan melalui media sosial. Caranya dengan membuat video yang sangat sederhana dan mereka berkumpul serta membawa bendera dengan jumlah yang banyak sambil meneriakkan slogan peringatan kemerdekaan yang ke-72. “Ruang car free day ini akan dimanfaatkan secara optimal, judulnya “Ayo Kerja Bersama”. Kerjasama untuk berbagai hal, untuk kebaikan bangsa kita,” ucapnya. Peringatan kemerdekaan tahun ini juga diisi dengan beragam festival kesenian. Mulai dari festival prestasi Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2017 hingga karnaval kemerdekaan. Apalagi peringatan kemerdekaan tahun ini bertepatan dengan satu tahun menjelang perhelatan Asian Games 2018 di Indonesia. Momen tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk menggelar sebuah pertunjukan yang luar biasa untuk memperingati countdown Asian Games 2018. Sejumlah artis dari Asia dinyatakan akan turut memeriahkan acara tersebut. “Akan menjadi atraksi yang sangat luar biasa karena baru dua kali diselenggarakan di dunia. Dan yang kedua kali di Indonesia, Jakarta, untuk memperingati countdown Asian Games 2018,” ujar Triawan Munaf. Sebagai penutup rangkaian peringatan kemerdekaan, karnaval kemerdekaan akan digelar di Bandung dengan melibatkan seluruh pekerja seni Tanah Air. Terakhir, Pratikno berharap rangkaian kegiatan tersebut akan membangkitkan partisipasi masyarakat untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa kebangsaan sekaligus membangkitkan kebersamaan serta kebanggaan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang besar. “Kami mengimbau partisipasi masyarakat untuk aktif di dalam kegiatan-kegiatan kita. Dan ini adalah bagian penting eksistensi kita sebagai bangsa yang besar, yang mengajak, yang harus melibatkan semua pihak untuk berpartisipasi,” ujar Pratikno. Jakarta, 28 Juli 2017 Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden sumber: https://www.kemdikbud.go.id

Marak Sarjana Menganggur, Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Butuh Relevansi

Selasa, 18 Juli 2017 | 12:30 WIBSeminyak (17/7) – Membangun sumber daya manusia yang berkualitas bukan sekadar memperluas akses pendidikan. Lebih lanjut, mutu pendidikan juga perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Apalagi, saat ini lulusan perguruan tinggi turut menyumbang pengangguran yang menjadi beban negara.Pada acara Musyawarah Nasional Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, relevansi lulusan perguruan tinggi terhadap kebutuhan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam upaya mencegah sarjana menganggur. Untuk itu, dibutuhkan sebuah rencana induk dalam menentukan kebijakan strategis dan program unggulan demi mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu.“Rencana induk atau grand design pendidikan ini belum pernah ada. Tujuannya, yakni untuk mencocokkan antara kebutuhan dengan ketersediaan lulusan. Seperti profesi insinyur, sampai saat ini kita masih kekurangan. Hal ini karena lulusan insinyur yang bekerja sesuai dengan bidangnya hanya 45 persen. Belum lagi bidang lainnya,” ujarnya di Puri Sharon, Seminyak, Bali, Senin (17/7).Ghufron mencontohkan, salah satu program studi yang lulusannya sudah menjamur, namun kurang terserap di bidangnya adalah pendidikan guru. Berdasarkan data, lulusan guru yang menjalankan profesi guru hanya 15 sampai 20 persen. Sehingga, lanjut Ghufron, jangan sampai perguruan tinggi hanya mencetak sarjana yang ke depannya justru menjadi pengangguran.“Jumlah universitas di Indonesia ini sudah sangat banyak. Untuk itu rencana induk nantinya dapat menjadi acuan dalam memberikan izin prodi atau perguruan tinggi baru,” tuturnya.Diskusi semakin seru lantaran pada acara tersebut turut hadir Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemristekdikti, Patdono Suwignjo. Senada dengan Ghufron, Patdono mengungkapkan pentingnya membangun perguruan tinggi yang sehat, sehingga dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.Di samping membahas mengenai relevansi dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi, Ghufron juga memberikan apresiasi kepada para dosen yang bersedia produktif menulis publikasi. Meski Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 masih menuai pro dan kontra, dia menegaskan bahwa seorang profesor atau lektor kepala wajib menulis publikasi yang dapat diterbitkan di jurnal bereputasi.“Kebijakan ini membuat banyak profesor gelisah. Padahal hingga saat ini tidak ada tunjangan yang dipotong. Justru publikasi kita meningkat. Sudah melampaui Vietnam, dan baru saja menyalip Thailand,” ucapnya. Dia menambahkan, pihaknya terus berupaya membuat program dan kebijakan yang mempermudah dosen dan tenaga pendidik untuk meningkatkan kapasitasnya. Seperti melalui beasiswa hingga membuat sistem informasi terintegrasi (SISTer). “Dosen-dosen di perguruan tinggi swasta memiliki peran strategis. Oleh karena itu kami juga memberi kesempatan resource sharing dengan cara PTS mengambil dosen PTN yang sudah pensiun. Ada pula program magang dosen, detasering, sampai World Class Professor,” pungkasnya. (ira) sumber: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id

Arsip Artikel